Saturday, January 9, 2016

EDIE JUANDI, PEMILIK DIPAR NATURAL HANDICRAFT ETHNIC, KERAJINAN DARI BONGGOL JAGUNG




Jenuh bekerja belasan tahun di sebuah perusahaan pipa terkemuka membuat Edie Juandi memilih meninggalkan pekerjaannya. Penghasilan rutinpun tak lagi dimilikinya. Namun kondisi demikian tidak pernah membuat Edie takut kelaparan. Edie pun memutar otak, mengeluarkan kreativitasnya, dan fokus menekuni jalur wiraswasta. Dengan latar belakang pendidikan tehnik dan kecintaannya pada dunia seni kriya, Edie meretas jalan kesuksesan yang didamba-dambakannya.

Adalah limbah bonggol jagung, benda yang diutak-atiknya menjadi beragam jenis kerajinan bernilai jual tinggi. Saat itu, hanya satu yang ada di kepala Edie, yaitu menciptakan kerajinan unik berbahan baku mudah dan murah, tapi bisa dijual dengan harga yang elegan.

Sejak tak lagi bekerja di perusahaan pipa, sebetulnya Edie sudah mencoba beragam jenis wirausaha. Namun, takdir jualah yang mengantar Edie akhirnya mengulik-ulik bonggol jagung. Suatu hari, seorang kawannya memberikan Edie sebentuk hiasan dari tempelan-tempelan bonggol jagung. Dari situ, pikiran Edie terus terbayang pada hiasan dari bonggol jagung pemberian temannya itu. Imajinasinya mengembara membayangkan beraneka barang yang bisa tercipta dari bonggol jagung, lebih dari sekedar menjadi hiasan.

Namun, ketertarikanya pada bonggol jagung menuntun Edie pada serangkaian hambatan. Kenyataan pertama, dia tidak tahu bagaimana cara mengeraskan bonggol jagung yang bersifat rapuh. Pada awalnya, Edie menggunakan cairan formalin, sebelum akhirnya berhenti karena sadar zat itu terlalu berbahaya bagi dirinya sebagai pengrajin. Tidak puas dengan formalin, dia lantas mengsengajakan diri berguru soal kimia kepada kawan-kawannya di Institut Pertanian Bogor (IPB). Dari sana, didapatlah campuran larutan kimia yang relatif lebih ramah bagi manusia.

Sampai akhirnya pada suatu titik, Edie kembali merasa tidak puas dengan zat kimia yang dia gunakan. Dia meyakini ada cara lain yang lebih alami untuk mengeraskan dan mengawetkan bonggol-bonggol jagungnya. Edie kemudian mendapatkan jawabannya dari Suku Dayak di Kalimantan. Kearifan lokal masyarakat Dayak mengenalkannya pada sejumlah bahan pengawet alami, seperti garam, pinang, pasak bumi, serta beberapa bahan lainnya.

Kerja kerasnya meneliti bonggol jagung dan kreativitasnya mencipta beraneka kerajinan, tak lantas membuatnya berhasil menggeluti bisnis kerajinan bonggol jagung. Beberapa kali dia harus puas mengalami kebangkrutan, hingga membuat sang istri meragukan jalan hidup yang ditempuh Edie menjadi seniman bonggol jagung.

Beruntung, jerih payah Edie kemudian tak sia-sia. Perlahan tapi pasti, karya Edie mulai menyebar dari mulut ke mulut. Pesanan demi pesanan terus mengalir hingga membuat tekadnya kembali teguh meneruskan perjuangan memasarkan kerajinan bonggol jagung kreasinya sendiri. Tak lama, tidak hanya di Tanah Air, karya Edie juga mulai dikenal di luar negeri seiring semakin seringnya Edie mengikuti pameran di negara-negara asing. Kriya bonggol jagung Edie kini sudah bisa ditemui di Singapura, Jepang, Belanda, dan Perancis.

Selama memasarkan kerajinannya, Edie belum pernah menjumpai ada negara lain yang menggarap kriya berbahan dasar bonggol jagung. Bahkan di Amerika Serikat saja, sebagai negara yang penghasil jagung terbesar di dunia hanya mengolah bonggol jagung sebatas menjadi pipa rokok.

Kini, Edie menghabiskan 40 hingga 50 karung bonggol jagung dalam sebulan. Bahan baku bonggol jagung dia peroleh dengan harga murah dari pasar di sekitar tempat tinggalnya. Edie meyakini, bahan baku berupa bonggol jagung tidak pernah menjadi masalah dalam bisnisnya ini. Dia menggambarkan, 40 hingga 50 karung bonggol jagung yang dia butuhkan selama ini cukup dipasok dari satu pasar saja. Itu artinya, masih banyak bonggol jagung yang berserakan menjadi sampah di lokasi lain.

Dari karya-karya yang dia ciptakan, produk kap lampu, khususnya kap lampu duduk, menjadi yang paling diminati masyarakat. Untuk membuat satu unit kap lampu duduk dari bahan baku siap produksi, Edie menghabiskan waktu hingga empat hari. Dengan pertimbangan lama produksi tersebut, Edie membanderol buah tangannya itu dengan harga Rp 350 ribu. Selain lampu duduk, set tatakan gelas dan tempat tisu juga banyak dipesan. Bahkan Edie mengaku pernah mendapat pesanan 1o ribu buah tempat tisu dari Malaysia.

Kendati karyanya semakin dikenal orang, Edie mengaku bisnisnya belum berkembang signifikan sebagaimana yang dia harapkan. Faktor modal diakuinya menjadi kendala utama. Edie sadar, gairah dan keyakinannya yang besar terhadap kreasi dan bisnis bonggol jagung belumlah cukup meyakinkan para pemilik modal untuk berinvestasi pada usahanya. Sementara, modal yang ditawarkan pemerintah, selain jumlahnya tak besar, juga hanya bisa diakses dengan menggunakan agunan, sesuatu yang dia tidak miliki.

Tidak mau menggantungkan diri pada uluran tangan investor, Edie menempuh jalan sociopreneurship alias berwirasuaha dengan pendekatan sosial. Edie banyak memasukkan proposal-proposal pelatihan kewirausahaan bonggol jagung ke pemerintah kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Tak disangka, banyak pemerintah daerah yang tertarik dengan kerajinan dan program pelatihan yang Edie tawarkan. Sejak saat itu, Edie memiliki kesibukan baru, yakni memberikan pelatihan kriya bonggol jagung di berbagai penjuru nusantara.

Edie jelas layak berbangga, bengkel-bengkel kreasi bonggol jagung yang dia inisiasi bersama pemerintah-pemerintah kota dan kabupaten kini bermunculan di berbagai tempat di Tanah Air. Dengan konsep berbagi rezeki, Edie menjadi penghubung antara pemesan dan masyarakat pengrajin. Dua basis yang menurutnya kini berkembang pesat dan kerap menggarap proyek-proyeknya adalah di Kutai Barat dan Bukit Tinggi.

Sejak dia mengurangi produksi dan sibuk mengisi berbagai pelatihan, Edie kini hanya fokus membuat sampel-sampel karyanya untuk dikirim ke berbagai pameran. Pekerjaannya itu terasa ringan berkat bantuan dua putrinya, Sihna dan Annisa, yang selalu berada di sekitar ayahnya untuk membantu. Tak sekedar membantu, kedua putrinya itu juga tampak menyenangi membuat kriya bonggol jagung. Itulah hal yang sangat menggembirakan bagi Edie. Edie berharap, jika bukan dirinya, anak-anaknyalah kelak yang akan menikmati kerja keras ayahnya.


DIPAR NATURAL HANDICRAFT ETHNIC
Workshop :
Jl. Pembangunan 2 No. 42, Kedung Halang, Bogor, Jawa Barat.
Telepon : 081234565652





reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/01/edie-juandi-pemilik-dipar-natural.html
Read More

EXCITE TEA, Produk Minuman Thai Tea Olahan Dua Sahabat Alvin dan Faisal




Alvin dan Faisal memang sudah bercita-cita ingin berbisnis setelah menyelesaikan studi. Mereka berniat mau membuka usaha yang perputaran uangnya cepat, jadi tidak terlalu membebani. Dan akhirnya mereka memilih untuk memproduksi minuman. Melihat pasar yang ada dan setelah survei, mereka lalu memilih bisnis Thai tea dengan memakai merek Excite Tea.

Tepat di awal tahun 2013 lalu, Alvin dan Faisal sepakat menggelontorkan modal pertama berjumlah Rp 15 juta untuk biaya produksi dan perlengkapan membangun Excite Tea. Mereka semakin yakin menggeluti usaha ini, karena setelah survei ke beberapa restoran yang menyediakan Thai tea, ternyata olahan mereka tak kalah enaknya.

Dimulai dengan menjual minuman ini ke lingkungan terdekat seperti keluarga dan teman-teman, Excite Tea dipasarkan oleh Alvin dan Faisal secara kecil-kecilan. Dulu, mereka hanya menjual produknya ke teman-teman kampus, teman SMA, lalu mengikuti acara-acara seperti bazar sampai acara pernikahan.

Setahun berjalan, kini Excite Tea sudah mulai menampakkan hasil. Mereka bahkan sudah mampu produksi sekitar 240 liter Thai teaper bulan. Varian rasa yang mereka tawarkan adalah Thai tea, green tea, taro, dan oolong tea. Harga juga masih sama, Rp 10 ribu untuk ukuran 330 ml dan Rp 15 ribu untuk ukuran 600 ml.

Menurut Alvin, selama setahun berjalan usahanya ini masih dalam tahap pengenalan produk dan mencoba mencari pelanggan tetap. Untuk mendapatkan Excite Tea, Alvin dan Faisal berkomunikasi lewat media sosial. Mereka menerima pesanan lewat akun Twitter dan Line, juga melayani permintaan yang tertarik mencoba Excite Tea.

Tak hanya memperkenalkan Excite Tea, kini Alvin dan Faisal juga konsen mengembangkan sub brand dengan nama Teh Tarik Mang. Untuk mendapatkan Excite Tea dan Teh Tarik Mang, bisa dicari di Universitas Indonesia yang tersebar di lima lokasi, serta di Global Islamic School. Alvin juga membuka kesempatan bagi yang tertarik bekerja sama dengannya untuk mengembangkan bisnis teh yang dibangunnya bersama Faisal.







reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/05/excite-tea-produk-minuman-thai-tea.html
Read More

Friday, January 8, 2016

AYU DYAH ANDARINI, Perancang Busana Muslim Dengan Gaya Eropa Kuno




Ibu dua putri berdarah Palembang ini mulai memutuskan menjadi desainer busana muslim sejak tahun 2013. Ia berusaha mengikuti kata hatinya. Sebelumnya, Ayu memang mendesain busana wanita saja, bukan busana muslimah. Bahkan karyanya sempat digunakan oleh Miss World waktu datang ke Bali. Namun, menjelang bulan Ramadhan tahun 2013, ia mencoba iseng-iseng mulai membuat desain kerudung.

Semula memang sempat ada semacam perlawanan batin, karena dulunya ia suka membuat busana wanita yang agak terbuka dengan desain yang keren. Namun setelah dicoba, ternyata jalannya jadi lebih lapang dan lega. Bahkan saat mendesain dan membuatnya pun membuat perasaan Ayu lebih enak dan plong. Apalagi sekarang trend industri fashion muslimah di Indonesia sudah sangat ramai. Jadi Ayu berpikir, ketika karyanya masih tetap dihargai, itu berarti karena jalannya lebih diridhoi oleh Allah SWT. Walau busana yang ia ciptakan sekarang lebih sopan dan tertutup, tapi ia masih bisa menghasilkan uang dari usaha barunya ini.

Ayu melihat target market busana pesta muslimah untuk wanita usia 20-an tahun masih belum banyak digarap. Kebanyakan desainer busana muslimah lebih menggarap target marketwanita dewasa. Jadi, ia ingin menyasar wanita usia muda ini sebagai target marketnya. Ketika ia mulai mendesain busana muslim, ia memang lebih bayak membuat busana untuk pesta malam, dengan gaya Eropa kuno atau ala princess. Signature style yang ia ciptakan paling menonjol ada pada bagian rok yang mengembang dan pemakaian bordir serta brokat yang cukup detail.




Namun, semakin ke sini banyak pelanggan yang mulai memintanya membuat model busana yang lebih simpel dan harganya terjangkau. Akhirnya, pada Ramadhan dan Lebaran tahun 2014, Ayu pun mulai memperluas target marketnya. Ia membuat busana yang ready to wear, salah satunya model kaftan yang bisa dipakai untuk acara-acara non formal seperti pengajian, untuk wanita usia 20 sampai 50 tahun. Dengan harga yang juga terjangkau, sekitar 1,5 juta ke atas.

Inspirasi mendesain bisa datang dari mana saja. Tapi signature cutting-nya memang tidak bisa lepas dari gaya Eropa kuno atau busana ala princess di masa itu. Ayu memang sangat menyukai gaya-gaya princess sejak kecil, yang kemudian diterjemahkan ke karyanya sekarang. Jadi, bila ada yang memakai busana muslim dengan rok panjang mengembang, pasti yang melihatnya akan langsung menyadari bahwa itu karya desainer Ayu Dyah Andarini. Sementara untuk pilihan warna, Ayu sebenarnya suka warna apa saja. Tapi ia memang lebih banyak membuat busana dengan warna pastel. Karena pada dasarnya ia memang pribadi yang tidak suka dengan warna-warna neon. Tapi untuk pelanggan, Ayu menyediakan semua jenis warna.

Busana yang ia buat, ada yang bahan bakunya semuanya total bahan lokal. Tapi ada juga yang bahannya impor. Biasanya ia suka membeli bahan baku ketika ada kesempatan jalan-jalan ke luar negeri. Sementara proses produksinya di lakukan di daerah Cibubur. Saat ini, ia sudah mempunyai 15 karyawan, plus sekitar 10 orang yang membantu produksi untuk busana ready to wear. Jadi bila ditotal ada sekitar 25 orang karyawannya. Dan Ayu bersyukur, setiap hari selalu ada produksi di workshop-nya.




Untuk promosi, Ayu lebih banyak menggunakan akun Instagram, walau sebenarnya itu lebih untuk branding saja awalnya. Tapi ternyata banyak yang tertarik membeli setelah melihat Instagramnya. Ayu menganggap dunia maya atau media sosial, terlebih Instagram, merupakan salah satu bentuk promosi yang bagus sekali untuk desainer pemula seperti dirnya. Dengan cara ini, karyanya jadi lebih dikenal orang. Karena dengan sekali klik, orang-orang bisa langsung melihat karyanya.

Saat ini Ayu sudah memiliki tiga brand untuk busana muslimah, yang dibedakan berdasarkan koleksi dan target market-nya. Untuk koleksi adi busana yang memakai banyak bordir, brokat, dengan potongan yang mewah dan detail, ia memakai nama brandAyu Andari. Untuk busana ready to weardengan aplikasi payet-payet, misalnya untuk baju Lebaran, ia memakai nama brand Anisyafa. Lalu untuk baju yang lebih simpel, kasual, dan bisa dipakai ke acara apa saja, ia memakai nama brand Aryanefa. Kedua brand itu ia ambil dari nama depan kedua anak perempuannya, Anisyafa dan Aryanefa. Dan semuanya, termasuk nama dirinya, diawali dengan huruf A. Jadi, sebagai mother brand, Ayu memakai logo huruf A dengan font khusus.

Setelah berjalan setahun fokus di bisnis busana muslimah, Ayu mengakui tidak menemukan kendala yang berat. Hanya saja, ia memang harus bisa mengakomodasi keinginan pelanggan namun tetap dengan signature style-nya yang sebetulnya butuh bahan yang eksklusif dan banyak, juga detail yang rumit. Sementara itu para pelanggan meminta harga yang terjangkau. Jadi, ia harus melakukan kompromi. Sejauh ini, hal seperti itu masih bisa teratasi. Di sisi lain, ternyata masih banyak orang-orang yang mengerti kualitas premium, bahan dan cutting yang bagus, serta paham detail. Ketika ia membuat busana seharga Rp 6 juta yang memang termasuk premium, dibandingkan dengan harga busana yang Rp 1,5 juta, mereka pasti akan memilih yang seharga Rp 6 juta.



Menyadari kompetisi bisnis busana muslimah yang saat ini sangat ketat, Ayu hanya berpegang pada satu prinsip, yakni konsisten mengusung style yang sejak awal ia tonjolkan, bahwa ia memang lebih kuat di busana yang glamor, bergaya princessdan Eropa kuno. Itulah yang selalu dipertahankannya. Jadi orang-orang akan langsung paham dan tahu, busana yang seperti itu adalah busananya Ayu Dyah Andarini. Jadi menurut Ayu, kunci agar tetap bisa bertahan di tengah hiruk pikuk persaingan bisnis yang sangat ketat, adalah harus konsisten dengan signature sendiri. Apalagi Indonesia sekarang sudah dianggap sebagai kiblatnya fashion busana muslim dunia.


Ayu juga punya koleksi khusus yang bahannya ia padukan dengan kain tradisional Indonesia. Di tahun 2013 Ayu pernah mengeluarkan koleksi busana muslim dengan aplikasi tenun tajung dari Palembang. Ia memberinya nama koleksi itu Lady Merfeye. Koleksi ini diakui Ayu sangat istimewa dan membuatnya bangga sekali. Kain tenunnya ia pesan sendiri ke pengrajin di Palembang. Warna dan motif tenunnya pun juga ia pesan sendiri. Setelah diluncurkan, ternyata respons orang-orang sangat positif. Bahkan mereka yang berminat rela menunggu sampai 3,5 bulan untuk bisa mendapatkan busana karyanya ini.

Ayu memproduksinya memang sangat terbatas, karena bahannya langsung dipesan dari pengrajin, dengan harga per potongnya Rp 3,5 juta. Setiap motif hanya ia buat masing-masing 10 potong saja. Jadi ketika satu motif habis, Ayu harus menunggu pengrajin selesai menenun dulu sekitar 3,5 bulan lamanya. Memang dibutuhkan kesabaran, dan syukurnya para pelanggan juga mau menunggu. Hal inilah yang membuatnya bangga saat mengeluarkan koleksi ini. Terlebih, signature style-nya tetap dimunculkan lewat rancangan yang bernuansa Eropa kuno, dengan bordir-bordir gaya khas Venesia bercampur kain brokat. Ayu sengaja memilih tenun dan songket karena ia memang asli Palembang, jadi lebih dekat dengan dirinya.




Tidak ada waktu tertentu bagi Ayu untuk mendesain. Semuanya tidak pernah direncanakan. Biasanya ia mendapat ide bisa kapan saja dan di mana saja. Kalau idenya sedang lancar, ia bisa tidak berhenti menggambar, hingga tahu-tahu sudah jadi beberapa desain. Tapi kalau sedang buntu, mau dipaksakan bagaimana pun juga, idenya tidak akan keluar. Ayu mengaku ia memang sudah sejak kecil bercita-cita menjadi desainer dan hobi menggambar. Sejak duduk di bangku SD, bila ada yang bertanya cita-citanya mau jadi apa, ia pasti akan jawab menjadi desainer. Apalagi di masa itu, sang ibu juga sedang rajin-rajinnya membuat baju sendiri. Mau tidak mau ia pasti melihat kesibukan ibunya. Bahkan ia juga sering diajak belanja bahan kain, yang menurutnya sangat seru sekali. Apalagi ia juga sering dibuatkan baju-baju model princessoleh ibunya, yang selalu membuatnya sangat senang.

Keluarga besarnya pun sangat mendukung profesinya sebagai desainer. Terlebih ibunya dulu juga pernah memiliki bisnis fashion. Ketika mengetahui sekarang Ayu memilih fokus di dunia fashion, sang ibu tentu saja sangat mendukung. Begitu pula dengan suaminya. Karena bagaimana pun, ketika ia memutuskan mulai berbisnis, waktu untuk berada di rumah pasti lebih banyak dan fleksibel. Sebelum mendesain atau menggambar, ia masih sempat antar-jemput anak-anaknya ke sekolah. Malamnya ia juga masih bisa menemani anak-anaknya bermain atau belajar sebelum tidur. Ayu pun menyadari, sekarang ini ia lebih leluasa mengatur waktu kerja dibandingkan saat masih bekerja kantoran. Dulu ia sempat bekerja hampir enam tahun di Toyota Astra. Saat itu ia tidak punya banyak waktu untuk menemani anak-anaknya, karena waktunya harus mengikuti jadwal kerja kantor.

Kini kedua putri Ayu bahkan sudah menuruni bakat yang dimilikinya. Anaknya yang nomor satu sudah kelihatan bakatnya menggambar. Sementara yang kedua sudah mulai ikut-ikutan saat Ayu sedang memasang payet. Bahkan sejak usia 3 tahun, putri keduanya sudah pintar memasukkan jarum ke dalam lubang payet tanpa tertusuk jarum. Selain itu sang putri juga sudah pandai memadupadankan warna. Penglihatannya soal warna sudah tajam. Dia suka memberi Ayu masukan, tentang warna-warna apa saja yang cocok untuk dipadukan.

Ayu pernah mendaftar di ajang Indonesia Fashion Entrepreneur Competition di Indonesia Fashion Week tahun 2013. Waktu itu ia sengaja beranikan diri mendaftar dengan membuat busana yang desainnya membuatnya bangga. Inspirasinya datang dari rumah. Di salah satu sudut rumahnya, ada sebuah hiasan meja milik sang ibu yang terbuat dari logam warna emas, berupa ukiran khas Palembang. Lalu oleh Ayu diterjemahkan ke dalam motif bordir untuk diaplikasikan di bagian depan busana muslim. Walau tidak menang, tapi Ayu berhasil masuk 10 besar di kompetisi itu.

Selain menyukai fashion dan hobi menggambar, Ayu juga suka memasak. Apa pun bisa ia masak, tidak peduli kalau rasanya tidak enak, karena yang penting ia sudah berani mencoba resepnya. Ayu juga menginginkan kelak karyanya bisa ditampikkan di ajang Jakarta Fashion Week. Ayu yang memang sudah total menjadi desainer busana muslim, sangat menunggu kesempatan itu. Nantinya ia akan menampilkan karya, yang mulai dari jenis bahan, bordir, kain, dan motif semuanya ia buat sendiri. Ini akan menjadi koleksi mahakaryanya, dan ia sudah menyiapkan nama koleksinya untuk itu, yakni Witchery of Mandalika.

Ayu pun juga ingin bergabung dengan dua desainer lain yang juga sahabatnya, Ary Arkan dan Tuty Akbar. Mereka bertiga yang memang sudah sering bekerja sama, ingin menampilkan busana dengan aplikasi tenun Lombok. Orang luar negeri banyak yang mengatakan bahwa Lombok itu adalah ibarat putri yang sedang tertidur. Di sana alamnya sangat indah, tapi belum seramai di Bali. Kain tenunnya pun juga luar biasa indahnya. Namun pemilihan warnanya sangat mencolok, sehingga belum banyak diminati orang. Jadi, nantinya Ayu dan dua rekannya itu akan menyusun ulang kombinasi warnanya, yang disesuaikan dengan kebutuhan orang banyak. Ayu pun juga berniat akan melukis sendiri keindahan alam Lombok, yang diterjemahkan ke dalam motif kain brokatnya.




Ayu berharap, dirinya bisa membuat koleksi ready to wear sampai busana weeding. Ayu menambahkan, ia dan kedua temannya itu bisa bertemu setelah sama-sama menjadi desainer. Bahkan bersama Ary Arkan, ia sudah dua kali menggelar show bareng dengan tema tenun. Sementara dengan Tuty Akbar, ia juga masih memiliki toko khusus busana muslim etnik ready to wear di The Canting Fx Mal, Sudirman, Jakarta.




















reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/08/ayu-dyah-andarini-perancang-busana.html
Read More