Friday, January 8, 2016

ADIPATI DOLKEN : MENCOBA BISNIS KULINER MELALUI 'RUMAH MAKAN WARNING BEBEK GARING'







Adipati Koesmadji yang lebih dikenal dengan nama Adipati Dolken mulai naik daun sejak membintangi film layar lebar Perahu Kertas dengan peran sebagai Keenan. Kini, ia mulai merambah bisnis makanan, dengan membuka Rumah Makan Warning Bebek Garing di kawasan Sudirman Park, Jakarta Selatan. Adipati mengaku terinspirasi sahabatnya, Marcel Darwin yang sudah lebih dulu melakoni bisnis bakso. Dan ini adalah pengalaman pertama kalinya terjun ke dunia bisnis kuliner. Untung saja, sang sahabat Marcel Darwin yang sudah berpengalaman di bidang ini mau membantu. Adipati sengaja memilih bidang makanan karena ia tahu semua orang pasti butuh makan.

Kedua sahabat yang sama-sama terjun ke dunia entertainmentini memutuskan berkongsi. Sejak tahun 2013, mereka sudah kerap mengobrolkan ide bisnis. Tapi baru di tahun 2014 niat itu terlaksana ketika mereka merasa sudah memiliki modal yang cukup. Menu bebek dipilih karena Adipati memang gemar menyantap hidangan ini. Jadi, ia paham seperti apa daging bebek yang enak.





Adipati lalu mengadakan survei demi mendapatkan resep bebek goreng yang lezat. Sampai akhirnya ia menemukan tips, bebek yang diolah harus yang masih berusia muda supaya dagingnya lembut dan enak disantap. Ia pun memadukannya dengan sambal yang sangat pedas. Itu pula yang menjadi alasan mengapa ia menamai restorannya Warung Bebek Garing.

Selain sambal merah, sambal hijau, sambal rica-rica, serta sambal kremes, ada pula sambal andalan Adipati, yaitu sambal mangga. Mangga yang rasanya kecut, sangat cocok dikombinasikan dengan daging bebek, hingga menyantapnya akan makin nikmat. Bebek racikan Adipati, yang kini juga mengajar akting di Hollywood Acting School ini, pun bisa dihabiskan hingga tulangnya. Sebab tulangnya juga renyah. Adipati mematok harga Rp 18.000 hingga Rp 29.000 di restorannya ini.


WARNING BEBEK GARING.
Sudirman Park Blok B/20, Jl KH Mansyur Kav 35,
Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Telp : 021-96596572 (delivery order)




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/07/adipati-dolken-mencoba-bisnis-kuliner.html
Read More

SEGO NJAMOER, Sukses Berjualan Di Lingkungan Kampus




Mendirikan sebuah usaha tak harus bermodalkan uang tapi bisa juga dengan mengandalkan konsep dan kreativitas. Dan hal itulah yang sudah dibuktikan oleh Mahendra Ega dan kedua temannya Dega Adi Pratama dan Rizki Yunianto. Mereka yang melahirkan produk SEGO NJAMOER (nasi jamur), kini telah berhasil memiliki omzet yang cukup besar. Sebagai gambaran, dalam sebulan mereka bisa menghabiskan dua ton jamur tiram segar dari petani untuk produksi SEGO NJAMOER

Usaha yang mereka kembangkan ini bermula dari mengikut sertakan diri dalam Program Kreativitas Mahasiswa di kampus Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), tempat mereka kuliah, pada tahun 2010. Lomba berkelompok di bidang kewirausahaan yang diadakan Dirjen Dikti itu untuk mengasah kreatifitas mahasiswa sebagai bekal kelak bila sudah terjun ke masyarakat. Setelah mendapatkan modal Rp 5 juta, mereka pun segera bereksperimen membuat nasi jamur.

Ide membuat nasi jamur ini datang dari Rizki, yang meniru dari Jepang. Kebetulan, semasa SMA ia pernah berkunjung ke negara matahari terbit itu saat mengikuti program pertukaran pelajar. Di Jepang sudah umum dijual makanan nasi dalam bentuk kemasan instan. Hanya saja di sana nasi-nya dicampur dengan ikan, bukan jamur. Sementara mereka memilih jamur karena sangat cocok diterapkan di Indonesia, dengan alasan selain rasanya yang enak, harganya pun murah, juga memiliki kandungan protein yang tinggi. Agar kemasan nasi jamur mereka mirip dengan kemasan nasi instan di Jepang, mereka pun sengaja mendatangkan cetakan nasi yang berasal dari Jepang pula.

Awalnya, lantaran tidak ada yang paham dengan dunia kuliner, ketika pertama kali merintis usaha nasi jamur, banyak kendala yang mereka hadapi. Sebelum menemukan formula yang cocok, mereka sempat berkali-kali menemui kegagalan dalam bereksperimen. Setelah dua bulan berjalan dan belajar ke sana kemari, barulah mereka bisa menemukan takaran yang pas. Baik tehnik memasak maupun bumbu apa saja yang dibutuhkan agar jamurnya terasa lezat. Kegiatan memproduksi nasi jamur itu mereka lakukan di rumah kontrakan yang mereka tempati bertiga.

Setelah sukses, nasi jamur itu pun mereka coba jual di kampus, terutama saat ada kegiatan. Untuk wadahnya saat itu masih sangat sederhana. Hanya dibungkus dengan kertas biasa. Namun yang menggembirakan, di awal berjualan nasi jamur yang dijual seharga Rp 2000 itu, dalam 10 menit mereka bisa menghabiskan 50 porsi.



Menyadari usahanya memiliki prospek baik, mereka kemudian mengajukan lagi untuk mengikuti Program Mahasiswa Wirausaha dari Dikti, yang setelah berhasil disetujui mereka akhirnya mendapatkan modal sebesar Rp 23 juta. Setelah uang itu cair, mereka langsung menggunakannya untuk membeli perlengkapan, mulai dari booth, memesan cetakan dari Jepang, membuat desain kemasan, sampai perlengkapan dapur dan membayar karyawan.

Kini kemasan SEGO NJAMOER sudah mengalami perubahan. Semula, nasi yang tengahnya diberi jamur ini hanya dibungkus kertas biasa, kemudian dipermanis. Nasi jamur seberat 115 gram itu dipres dalam cetakan sampai padat, kemudian dimasukkan ke dalam kertas yang sudah diberi label.



Pada awal usaha berdiri, dalam sebulan mereka menghabiskan sekitar 200 kilogram jamur tiram yang diambil dari Mojokerto. Tapi jumlah itu semakin hari semakin meningkat bersamaan dengan lokasi penjualan yang semakin meluas. Semula, yang mereka hanya menjual di lingkungan kampus ITS, kemudian mulai berekspansi dengan menyewa tempat di berbagai perguruan tinggi di Surabaya, seperti Unair, Unesa, Stikom, serta Ubaya. Bakan selain Surabaya, kini mereka juga sudah mulai merambah wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Jogjakarta, Malang, dan Madiun.

Kendati saat ini booth SEGO NJAMOER juga sudah ada di beberapa mini market, namun mereka tetap berkonsentrasi untuk berjualan yang utama di kawasan kampus. Lantaran pembeli di kampus nyaris tak pernah habis dan terus berkelanjutan, mengingat setiap tahun selalu ada mahasiswa baru.

Bersamaan dengan meningkatnya omzet, mereka pun juga mulai berinovasi dalam produk. SEGO NJAMOER yang semula hanya punya satu rasa, kini sudah ada tiga varian rasa. Ada rasa original, nasi uduk jamur, dan nasi merah jamur. Untuk yang beras merah harganya jelas lebih mahal, yaitu seporsi Rp 5 ribu. Sedangkan yang lainnya antara Rp 3.500 sampai Rp 4000.


Dengan jumlah total 22 booth yang tersebar di sekitar Surabaya dan Jawa Timur itu, sembilan di antaranya milik mereka sendiri dan yang lainnya diwaralabakan ke pihak lain. Namun untuk sistem waralaba mereka tidak menerapkan waralaba murni, karena bila ada orang lain yang berminat membuka booth SEGO NJAMOER cukup membayar Rp 12 juta untuk membeli semua perlengkapan, dari mulai booth, hingga tehnik memasak dan memasarkanya, tanpa harus memberi persentase penghasilan lagi, kecuali untuk yang membeli bahan dari mereka.


Dengan usaha mereka menciptakan produk SEGO NJAMOER, mereka pernah keluar sebagai juara dua dalam Pekan Mahasiswa Nasional, serta juara lain di berbagai lomba bidang kewirausahaan. Namun kesuksesan itu tidak lantas membuat mereka sudah puas dengan hanya membuat nasi jamur saja. Mereka pun terus berusaha mencari ide lain yang bisa dikembangkan, dan kini sudah ada beberapa yang masuk tahap uji coba.

info SEGO NJAMOER, bisa dibuka di :http://segonjamoer.com/



_______________
amura courier
: layanan jasa kurir untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Cepat, professional, dan bertanggung jawab. Tlp & sms : 085695138867








reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2013/07/sego-njamoer-sukses-berjualan-di.html
Read More