Monday, January 25, 2016

SUKSES BERBISNIS LEWAT ONLINE



Kemajuan teknologi dan maraknya penggunaan media social sangat menguntungkan pebisnis online, sekalipun yang masih pemula. Mereka bisa berjualan hanya dengan memanfaatkan akun facebook, instagram, atau twitter-nya. Begitu skala bisnisnya makin besar, mereka pun mulai serius mempersiapkan website khusus untuk menampangkan produknya.


Mengetahui segala kemudahan operasionalnya, banyak orang yang terjun ke bisnis online. Ketiga wanita di bawah ini telah merasakan serunya berbisnis online. Mari simak kiat mereka dalam meraih kesuksesan.

RUKIYAH DAN UMI ARIFIYANI : PEMILIK TOKO FASHION ONLINE UMIRAH SHOP


Oktober 2011, kakak beradik Rukiyah dan Umi Arifiyani berkolaborasi memulai usaha penjualan busana Muslimah. Mereka sepakat memasarkan produknya lewat dunia maya. Umirah Shop menawarkan baju, jilbab, dan aksesorinya. Ketika Rukiyah dan Umi memperkenalkan Umirah Shop, toko fashion online sudah menjamur. Kendati begitu, mereka percaya masih ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk menarik minat kosnumen. Apalagi baju merupakan salah satu kebutuhan mendasar dan akan selalu diperlukan orang.

Umi dan kakaknya berjualan melalui akun Twitter@umirah_shop dan melalui Blackberry Messenger (BBM). Kini, mereka sedang menyiapkan website Umirah Shop. Dalam berpromosi, mereka menjalankan strategi ?patokan?, yakni, pakai, foto, dan publikasikan. Di foto produk Umirah Sop, Umi tampil sebagai model peraga. Bersama kakaknya, ia memadupadankan busana dengan gaya berbeda dari kebanyakan, tapi menarik. Mereka tak lupa untuk menggunakan kalimat persuasif saat menawarkannya ke calon konsumen.




Tak hanya itu, Rukiyah dan Umi juga mencoba menggaet calon konsumen dengan memanjakan mereka dengan tips berbusana. Mereka memberikan masukan dan solusi bagi kebutuhan konsumen. Ketika ada yang tertarik dengan jilbab Umirah Shop, mereka mencarikan jilbab yang terbaik berikut cara pemakaiannya agar lebih nyaman untuk dikenakan dan lebih terlihat modis. Selain itu mereka juga sering memberikan diskon produk Umirah Shop.

Dengan strateginya tersebut, Rukiyah dan Umi berhasil menggaet mahasiswi di Jabodetabek sebagai pelanggan. Konsumen dari luar pulau Jawa, seperti dari Makassar dan Riau, juga pernah memesan produk Umirah Shop. Target pasar mereka utamanya memang mahasiswi yang mengikuti tren hijab.

Produk Umirah Shop kisaran harganya mulai dari Rp 2000 sampai Rp 400 ribu per item. Dalam sebulan, omzetnya mencapai Rp 10 juta dengan laba sekitar dua juta rupiah hingga Rp 3,5 juta. Produk best seller-nya adalah paris berbahan ceruti, pashmina sifon, long dress chiffon, celana katun, dan aksesori, seperti cincin dan kalung.

Menjalankan bisnis online, Rukiyah dan Umi merasa lebih mudah menjangkau pasar. Pemasaran produknya juga lebih efektif. Menurut mereka bisnis ini sangat hemat tenaga, waktu, dan biaya operasional. Tak bertatap muka langsung dengan calon konsumen, Rukiyah dan Umi berusaha meraih kepercayaan peminat produknya. Ada saja calon pembeli yang masih belum percaya terhadap mereka. Calon pembeli seperti itu umumnya pernah tertipu online shop lainnya. Tak jarang, konsumen menanyakan secara detail prdouk karena mereka merasa takut produk Umirah Shop tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.


KINANTI PAHLEVI : PEMILIK PRODUK SEPATU CLOSHE


Menjajal bisnis online, Kinanti Pahlevi sukses di upaya kedua. Usaha pertamanya kandas pada 2012. Dulu, ia bermitra dengan seorang kawan berjualan baju dan sepatu perempuan di bazarmaya.com. Produk mereka yang diberi merek Closhe ?akronim dari clothing and shoes- tak banyak dilirik konsumen.

Setelah bisnis patungan itu bubar, Kinanti merenungkan kegagalannya. Ia tersadar, Closhe tak memiliki ciri khas, sehingga tak memikat di mata calon konsumen. Tetap mengusung merek Closhe, Kinanti masuk lagi ke bisnis online dengan produk yang lebih berkarakter. Ia menawarkan sepatu bermotif dari bahan kanvas dan linen dengan beragam model, mulai dari flat shoes, wedges, sandal, sampai heels.

Kinanti merancang sendiri sepatu Closhe. Membeli bahan baku langsung dari penjual, ia mempekerjakan tenaga yang berpengalaman dalam membuat sepatu. Sejauh ini, ia belum menemukan kompetitor yang benar-benar fokus di sepatu motif dengan model sepatu yang beragam.


Belajar dari pengalaman terdahulu, Kinanti mengoreksi jalur pemasarannya. Ia memilih memperkenalkan produk lewat closhegallery.blogspot.com, Kaskus, dan sederet akun social media. Koleksi Closhe bisa dipantau pula melalui Google+, Twitter, Instagram, dan Pinterest.

Kinanti berjuang untuk menjadi trusted seller. Merespons peminat Closhe dengan cepat merupakan cara utamanya. Dia juga selalu menanggapi positif masukan dan komentar dari pelanggan. Di samping itu, ia pun menjaga agar peminat produknya mendapatkan barang yang diinginkan dengan menjaga stok. Agar komunikasi dengan peminat Closhe semakin lancar, ia memperbanyak jalur komunikasi aplikasi chatting, yakni lewat Line, Blackbery Messeger, dan Whatsapp.

Tak ingin gagal untuk kedua kalinya, Kinanti fokus dan konsisten membesarkan bisnis online-nya. Dia berupaya memunculkan model baru atau produk anyar di momen yang tepat. Selain itu, ia juga memantau kecenderungan pasar mode.




Berjualan sepatu, Kinanti berhadapan dengan sejumlah kendala. Pelanggan tak bisa mencoba produk dan memastikan ukuran sepatu mereka. Beberapa konsumen ternyata melaporkan ukuran kakinya tak pas dengan sepatu yang dipesannya. Ia pun juga kesulitan meyakinkan pelanggan bahwa bahan dan sol sepatu Closhe nyaman.

Rencana selanjutnya, Kinanti akan membuka toko onlineCloshe for Indonesia dan Closhe for Wedding. Produk Closhe for Indonesia menggunakan bahan-bahan dari Indonesia, seperti kain lurik, batik, tenun, dan ikat. Sementara melalui Closhe for Wedding ia melayani jasa pembuatan busana pengantin sesuai dengan pesanan.



KIKI HANDRIYANI : PEMILIK TOKO BUKU ONLINE www.pojokbuku.com



Kiki Handriyani terjun ke dunia online shop dengan produk yang berbeda dari kebanyakan. Sejak 2011 ia menjual buku melalui www.pojokbuku.com. Koleksi Pojok Buku beragam, mulai dari buku anak-anak, agama, novel, sejarah, bisnis, sampai buku pelajaran.

Kiki menjalankan bisnis online karena menyukai komputer dan internet. Berlatar belakang pendidikan teknologi informasi, ia tak kesulitan mengelola laman Pojok Buku. Ia juga tidak mengeluarkan modal yang besar untuk memulai usahanya. Dengan membuka toko online, sebagai ibu rumah tangga ia juga tetap bisa mendapatkan ilmu internet marketing dari internet, mengembangkan jaringan, dan tetap punya penghasilan.



Walaupun begitu, kendala berbisnis toko buku onlinejuga ada. Stok buku terkadang habis dan tidak dicetak ulang, padahal permintaan tinggi. Selain itu, pembeli ada juga yang tak sabaran.

Berjualan melalui website, Facebook, dan Twitter, perempuan kelahiran Cilacap 11 Maret 1978 ini mampu meraih omzet sekitar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan. Labanya antara 20 hingga 25 persen. Konsumen Pojok Buku beragam, mulai dari pelajar, wirausaha, hingga kalangan profesional yang berasal dari beragam kota di Indonesia, Malaysia, dan Amerika.

Kesuksesan toko buku online tersebut tak terjadi secara instan. Kiki yang juga seorang penulis lepas ini membutuhkan waktu dua tahun untuk menjalin kerja sama sistem konsinyasi dengan penerbit. Dia juga harus aktif di sosial medial dan bergabung di komunitas penulis dan pebisnis agar bisa berpromosi.



Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, Kiki berusaha meningkatkan pelayanan. Pesanan buku akan direspons segera dan dikirim secepat mungkin. Ia juga tak membatasi jam pelayanan. Kiki merasa, hobi membacanya tersalurkan dan perpustakaan pribadinya bertambah setelah berjualan buku.


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/02/sukses-berbisnis-lewat-online.html
Read More

Sunday, January 24, 2016

REGINA ALIFEN : Pemilik REGIS BRIDAL SHOES, Sepatu Khusus Untuk Pernikahan




Perempuan cantik kelahiran Jakarta 4 Juni 1986 ini memulai bisnis custom wedding shoes sejak 2008. Kini, tak sedikit selebritis yang memakai sepatu hand made buatannya. Salah satu ciri khas sepatu Regis Bridal Shoes, nama brand sepatunya, adalah kristal Swarovski asli yang menghiasi setiap sudut sepatu, sesuai pesanan klien. Koleksi berpasang-pasang sepatu pernikahan yang cantik warna-warni itu, terpajang dengan rapih di store-nya yang berada di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Berawal begitu lulus kuliah, Regina merasa kesulitan menemukan sepatu yang cocok untuk acara pernikahannya. Mencari sepatu yang model dan tingginya sesuai dengan kakinya memang susah. Akhirnya, ia pun memutuskan membuat sepatu sendiri. Tak disangka, saat itu banyak temannya yang memuji hasil desain sepatunya. Bahkan ada yang menyarankan untuk menjualnya. Dari situlah, Regina jadi keterusan membuat sepatu dan menjualnya ke teman-temannya. Setelah itu, banyak yang pesan dari informasi mulut ke mulut. Dan usaha itu pun berjalan terus sampai sekarang.


Regina menceritakan, mencari sepatu pernikahan yang cocok itu memang tidak gampang. Meski banyak yang modelnya bagus, tapi bila dipakai kurang nyaman. Saat pertama kali membuat sepatu pernikahan, Regina pun masih mengerjakannya sendiri, karena dulu belum mempunyai tukang. Ia membuatnya di bengkel sepatu kemudian dihias sendiri. Namun sekarang, ia sudah punya tukang sendiri hingga hasilnya jadi lebih cepat. Selain menyukai sepatu, Regina juga menyukai kristal Swarovski. Oleh karena itu, hampir semua sepatu buatannya pasti ada hiasan Swarovski-nya. Dan yang dipakai adalah kristal Swarovski asli, ada jaminan seumur hidup. Ia memang tidak mau memakai yang palsu, dan juga tidak mau kalau ada yang pesan memakai Swarovski palsu, demi menjaga kualitas.

Setelah setahun bisnisnya berjalan, barulah Regina membuat brand Regis. Ia juga berjualan lewat online karena ternyata banyak pula yang memesan secara online, khususnya klien dari luar kota dan luar negeri. Saat itu memang belum banyak pembuat sepatu pernikahan yang custom. Jadi bisa dibilang, ia yang pertama kali membuat sepatu pernikahan custom. Sekarang, sudah lumayan banyak yang mengikuti jejaknya. Tapi meski sama-sama membuat sepatu pernikahan custom, masing-masing berbeda style. Biasanya pelanggan Regina sudah tahu yang mana sepatu buatannya. Ciri sepatu buatan Regina antara lain ada hiasan kristal Swarovski dan bunga-bunga. Kenyamanan dan kualitasnya pun juga beda.


Bagian dalam sepatu Regis juga empuk karena memakai bantalan. Beda dengan sepatu pada umumnya yang dalamnya keras, meski modelnya bagus. Ia memang mengutamakan kenyamanan bukan sekedar model saja. Jadi, meskipun dipakai dari pagi sampai malam, banyak pelanggannya yang bilang tetap nyaman dan tidak capek. Memang harga sepatu Regis sedikit lebih tinggi. Karena sepatunya memakai sol antiselip dari karet. Jadi tidak licin. Tinggi sol tergantung tinggi haknya (heels). Kalau heels-nya tinggi, maka sol-nya dibuat tebal hingga tidak menukik. Jadi yang memakainya saat berdiri tidak capek. Tinggi heels memang disesuaikan dengan permintaan klien saat memesan, setelah itu disesuaikan dengan bagian depannya. Sol yang tebal memang sedikit mengurangi model, tapi yang penting nyaman dipakai.

Sepatu pernikahan pun bisa dibuat warna-wani. Ada yang memesan sepatu berwarna merah atau fuchsia. Biasanya menyesuaikan dengan bunga dan warna bajunya. Ini memang jadi terlihat beda, dan untuk yang sudah bosan memakai sepatu putih terus. Pun biasanya sepatu putih hanya dipakai sekali saja saat pernikahan, setelah itu tidak terpakai lagi karena tidak cocok untuk pemakaian harian atau pesta. Sementara sepatu selain putih masih bisa dipakai untuk pesta lain. Saat ini Regina juga membuat sepatu kasual polos, meski yang utama tetap sepatu pernikahan.


Regina mengaku, mempelajari soal sepatu hanya dari pengalaman saja, karena latar belakang pendidikannya adalah kuliah bisnis. Soal heels misalnya, karena ia senang sepatu dan sering memakai high heels juga, jadi bisa tahu berapa kira-kira tinggi yang cocok agar tidak membuat capek pemakainya. Awalnya ia juga mendapat masukan atau komentar dari teman dan keluarga. Lama-lama karyanya makin dikenal luas, hingga bisa masuk majalah, bekerja sama dengan desainer, dan wedding organizer.

Model sepatu yang paling sering dipesan sekarang ini adalah yang transparan, ada hiasan lis dan diberi aksesori. Sepatu dengan model transparan membuat kaki pemakainya kelihatan. Trend baju wedding pun sekarang ini juga ada aplikasi transparannya. Jadi, sepatu memang menyesuaikan dengan bajunya. Sebelumnya, sempat yang menjadi trend adalah sepatu model terbuka dengan tali-tali. Ganti tahun, biasanya tren atau model juga berganti.


Pelanggannya kebanyakan berusia 20-30 tahun, yang berasal dari Jabodetabek dan luar Jakarta, termasuk luar negeri juga. Bahkan ia pernah mendapatkan klien dari Paris yang memesan untuk acara fashion show di sana. Yang memesan adalah murid yang sedang belajar desain, dan memerlukan sepatu. Ada juga kliennya yang berasal dari Jerman. Untuk pelanggan yang datang dari luar kota, biasanya mereka langsung fittingke workshop Regis, yang ada di bilangan Gandaria, Jakarta, walaupun yang melalui online juga ada. Regina pun jadi tahu, ternyata sekarang ini memang banyak orang luar Jakarta yang sering memesan baju di Jakarta, jadi mereka pun sekalian memesan sepatunya. Tak sedikit pula selebritis yang memesan sepatu pernikahan ke padanya. Dan kadang-kadang tidak hanya pengantinnya, tapi ibunya pun juga ikut minta dibuatkan, menyesuaikan dengan bajunya. Biasanya, cerita Regina, para ibu inilah yang lebih heboh memesan dibandingkan anaknya.
Regina pun juga beberapa kali mendapatkan permintaan dari klien yang aneh. Misalnya, pernah ada yang memesan hak sepatunya 20 senti karena tinggi badannya beda jauh dari pasangannya. Jadi melihatnya seperti sedang memakai egrang. Asalkan orangnya cukup berani, bagi Regina tidak masalah. Setiap pelanggan memang berbeda kemauannya. Meski membuat sepatu custom, namun kalau ada yang memesan mepet dengan hari H biasanya ia tolak. Karena ia memang butuh waktu minimal sebulan untuk membuat sepatu.

Rata-rata per bulan sekitar 50-80 pasang sepatu yang ia produksi. Jumlahnya tergantung pada musim wedding. Biasanya pemesanan untuk bulan Juni dan Desember agak banyak. Harga sepatunya dari yang paling murah sekitar Rp 4,5 juta dan yang paling mahal Rp 15 juta. Sepatu itu full dihias dengan Swarovski asli, dan semuanya betul-betul hand made, bahan-bahannya pun juga memakai yang bagus. Heels-nya tidak mudah goyang. Untuk kain biasanya ia membelinya di Indonesia, tapi untuk heels dan sol ia mengimpornya dari Singapura yang kualitasnya cukup bagus. Berbeda dengan buatan Tiongkok, yang sering tidak balance dan saat dipakai suka goyang.




Regina bersyukur jarang mendapatkan komplain dari pelanggannya. Kalaupun ada yang komplain biasanya soal ukuran. Misalnya yang memesan dari luar kota, dan tidak sempat fitting. Awalnya minta dibuatkan ukuran 37, tapi begitu dikirim ternyata kekecilan, jadi harus dibesarkan lagi. Yang memesan dari luar kota memang biasanya agak sulit karena tidak bertemu langsung dan tidak melakukan fitting. Tapi kalau ukurannya memang salah, pasti akan ia perbaiki sampai pas. Bila memesan secara online, biasanya Regina minta dikirimkan contoh sepatu yang biasa dipakai. Dari situ ia bisa mengikuti pola dan ukurannya.

Suami Regina, Christopher Alifen, yang berbisnis travel, dan putrinya Karen Alifen, pun selalu memberikan support untuk usaha Regina, meskipun mereka tidak mengerti soal sepatu. Asalkan yang penting, jadwal kerjanya tidak mengganggu jadwal keluarga. Pada hari Minggu, Regina memang meliburkan diri dari pekerjaannya, tidak pernah menerima klien.

Workshop/Studio
(by appointment only)
Call/Whatsapp : +628 16 748 018
line : reginaalifen
Email : regis.bridalshoes@gmail.com
instagram : Reginaalifen_regis


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/08/regina-alifen-pemilik-regis-bridal.html
Read More