Saturday, January 16, 2016

RATNA MIRANTI : PEMILIK MEERAKATJA, Produk Lukisan Di Atas Media Kaca




Industri kreatif kini menjadi salah satu primadona baru untuk mendulang keuntungan. Potensi bisnis di bidang ini masih terbuka luas untuk digarap. Kekayaan budaya dan tradisi Indonesia menjadi salah satu alasan yang masih bisa digali dan dikembangkan. Modalnya adalah kreatifitas. Seperti yang dilakukan perempuan kelahiran Bandung 10 Maret 1976 ini. Dari sekadar mengisi waktu luang di rumah dengan berkreasi, akhirnya bisa menjadi celah bisnis yang menguntungkan. Ia sukses meraup keuntungan dengan usaha Meerakatja yang dibangunnya sejak 2009. Ya, melalui medium kaca, kreasi lukisan Ratna Miranti, atau biasa disapa Mira, diapresiasi hingga pasar luar negeri. Hebatnya, ibu tiga anak ini juga tak pelit berbagi ilmu. Ia kerap mengajarkan keterampilan lewat pelatihan pada ibu-ibu rumah tangga agar produktif dari rumah.

Berawal dari keinginan untuk tetap produktif dari rumah setelah vakum bekerja dan menikah, lulusan Seni Rupa ITB ini pun bertekad untuk kembali berkarya. Saat itu, Mira membeli peralatan cat untuk mengecat kain. Sayangnya, ia kurang teliti. Ternyata, bahan yang ia beli bukan untuk mengecat kain melainkan mengecat kaca. Terlanjur dengan kesalahan kecilnya, istri dari Andreas Wibowo ini meneruskan berkreasi dengan medium botol kaca bekas yang ia miliki. Hasilnya di luar dugaan Mira, sebuah lukisan kaca yang sangat memikat. Ia pun tertarik lebih memperdalam dan mempelajari seni melukis dengan menggunakan medium kaca.

Beberapa hasil lukisan kaca yang ia kreasikan pada botol bekas sirup dan minuman serta toples ternyata dilirik teman-temannya. Melihat peluang bisnis yang ada di depan mata, Mira pun mulai aktif mengunggah foto hasil karyanya di akun Facebook pribadi dan menerima pesanan. Benar saja, dalam sekejap, permintaan pun berdatangan. Agar hasil lukisan yang dihasilkan lebih maksimal, Mira pun sengaja ikut kursus melukis pada medium kaca yang ada di kota Bandung. Selama satu setengah bulan, Mira belajar teknik dan tips agar lukisan kacanya maskimal. Dan ternyata benar, banyak trik dan teknik yang akhirnya ia pelajari dan dapatkan dari kursus itu. Mira jadi lebih tahu bagaimana perlakuan yang benar terhadap medium kaca agar cat lebih awet menempel.

Atas dukungan suami, Mira pun rutin memproduksi dan menawarkan koleksi lukisan dengan berbagai medium kaca. Di akhir tahun 2009, ia banyak membuat toples lukis untuk Natal dan akhir tahun, dan ternyata sangat laku. Tidak hanya di toples, tapi juga ada yang di gelas dan pernak pernik kaca lainnya. Responsnya lumayan, apalagi penjualannya saat itu masih dari mulut ke mulut, sebelum akhirnya ia membuat website untuk produk-produk lukisan kacanya. Tahun 2010, Mira pun berinisiatif mengikuti pameran Inacraft yang diselenggarakan di Jakarta dan berusaha mencari pembeli potensial. Di pameran yang pertama kali ia ikuti itulah, Mira membawa nama Meerakatja, yang rasanya terdengar pas untuk produknya.

Di pameran Inacraft, Mira bertemu banyak potensial buyer, salah satunya Coca Cola. Mereka minta dibuatkan lukisan 20 botol Coca Cola bertema batik. Dan ternyata hasilnya memuaskan. Enam bulan kemudian, pihak Coca Cola menghubunginya lagi dan memesan 1.100 botol dalam waktu 1,5 bulan. Melihat potensi bisnis yang bagus, Mira pun menekuninya dengan serius. Ia bahkan mengajak beberapa mahasiswa seni rupa untuk bergabung dan membantunya menyelesaikan pesanan dari Coca Cola agar dapat selesai tepat waktu. Sejak saat itu, Nama Meerakatja pun akhirnya mulai dikenal dan memiliki beberapa jaringan.

Sejak mengikuti pameran Inacraft itu pula, banyak yang kemudian mengajaknya untuk pameran di tempat lain, mulai dari pemerintah hingga swasta seperti Disperindag, American Women Association, Himpunan Masyarakat Pengrajin Indonesia. Dan kini ia pun menjadi vendor tetap Coca Cola dan Prudential Jakarta untuk membuat kerajinan dari kaca sebagai suvenir dan merchandisenya. Mira mengakui, ia memang bukan pionir dalam bisnis ini, yang ternyata cukup banyak kompetitornya. Maka, ia pun perlu memberikan inovasi di setiap produknya. Semua medium kaca sudah pernah ia lukis, mulai dari cermin, lampu, toples, dan gelas.

Soal harga, Mira meyakinkan bahwa harga produknya masih terjangkau dibanding beberapa produk sejenis. Setiap karya kerajinan memang pasarnya berbeda, apalagi ini juga termasuk seni. Dulu Mira menawarkan toples dengan harga Rp 50.000, namun sekarang sudah mulai dari Rp 150.000. Agar produknya berbeda Mira pun mencoba mengeksplorasi kaca dengan bentuk-bentuk asimetris. Selama menjalani bisnis ini, persaingannya memang terus meningkat. Bahkan ia juga mengalami beberapa produknya ditiru. Alhasil, sekarang ia bermain dengan produk yang berbeda dan susah ditiru. Karena menurut Mira, karya seni itu sentuhannya harus personal, jadi itulah yang harus ia eksplor lebih dalam.

Supaya produknya memiliki bentuk yang berbeda dan tidak ditiru, Mira pun memberikan sentuhan personalnya. Ia jadi lebih kreatif mengeksplor bahan baku. Misalnya untuk medium botol, ia sengaja merusaknya terlebih dahulu baru kemudian ia recycle., lalu dibuat lagi dengan bentuk-bentuk yang tidak normal. Itu salah satu inovasi yang ia lakukan. Mira mengaku, semakin sering bermain dengan sentuhan yang inovatif, ia semakin termotivasi untuk kreatif. Mira menambahkan, produk Meerakatja memang memiliki pasar tertentu. Ia sudah memiliki mapping untuk penjualannya. Selain itu ia juga memiliki pengalaman mempromosikan produknya hingga lintas benua. Perlahan, ia memiliki jaringan dengan American Women Association dan dengan beberapa organisasi dunia lainnya. Jadi, ia sering diajak pameran ke Amerika, Inggris, Jerman, Australia dan negara-negara lain. Dari situ juga ia mempelajari produk apa yang tepat dan disukai masing-masing negara tersebut.

Sayangnya, selama ini produk yang bernilai seni ini masih belum jadi juara di negara sendiri. Menurut Mira, apresiasi yang ia terima di luar negeri jauh lebih baik daripada di pasar lokal. Bahkan ia memiliki banyak pengalaman menarik yang tidak bisa dilupakan. Salah satunya, saat mengikuti pameran di Jerman, ada orang yang seharian berada di depan stan-nya. Orang itu sangat mengagumi dan mengamati produknya dengan detail. Tapi ternyata, meski ada keinginan untuk membeli, tapi orang itu mengurungkannya. Karena ia juga adalah seorang wisatawan yang tidak bisa membawa barang pecah belah. Mira pun tak pelit berbagi informasi kepada orang itu tentang proses penciptaan karyanya. Dan pada akhirnya, keesokan harinya orang itu kembali lagi karena tidak tahan untuk memiliki produknya.

Bagi Mira, banyaknya apresiasi yang ia terima juga menjadi motivasi terbesar agar bisa berkarya lebih baik. Tantangannya saat ini justru dari pasar lokal. Setiap pameran, produknya selalu dibandingkan dengan produk Cina dan ditawar murah. Sampai hari ini pun hal itu masih terus terjadi. Biasanya secara pelan-pelan Mira menjelaskan bahwa produk handmadeitu memang lebih spesial. Agar lebih memudahkan, tak jarang Mira juga mengajak mereka untuk mencoba membuat sendiri, agar bisa tahu prosesnya. Bertahan lebih dari 5 tahun di bisnis ini juga membuat Mira lebih paham seluk beluk usaha yang dijalankan. Ia pun optimis, potensi bisnis ini ke depannya besar. Tidak heran, permintaan kursus ataupun pelatihan banyak menghampirinya. Mira tidak akan pelit berbagi ilmu agar industri kreatif ini bisa berkembang, khususnya glass painting karya Indonesia. Agar semakin dikenal banyak orang.

Mira juga memberikan kursus kepada ibu-ibu rumah tangga yang tertarik belajar melukis dengan medium kaca. Untuk mengikuti kursus ini, minimal 5 orang sudah bisa memanggilnya. Biayanya mulai Rp 800.000. Sementara untuk pelatihan dalam jumlah besar bisa disesuaikan. Yang terjauh, ia pernah memberikan pelatihan kepada ibu-ibu Bhayangkari di Ternate dan Banjarmasin. Ditambahkan oleh Mira, saat memberikan pelatihan ia melihat bahwa para ibu rumah tangga sebenarnya mampu mengerjakan bisnis ini dari rumah asal telaten dan sabar. Ini memang bisa menjadi salah satu bisnis yang cocok dikerjakan oleh ibu rumah tangga. Bahkan kadang, peserta kursusnya setelah berhasil membuat kerajinan ini, mereka lalu menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga produk Meerakatja. Mira pun tak mempermasalahkan, karena produk handmade itu memang sebenarnya tak ternilai.

Sebagai entrepreneur sekaligus ibu rumah tangga, Mira mengaku banyak keuntungan yang didapat dari bisnis yang dirintisnya ini. Bisnis ini tak membuatnya kehilangan banyak waktu meski ia harus mengasuh tiga anak, Rangga, Tabitha, dan Bianca. Ia bisa berkarya dari rumah dan terus konsisten berbisnis. Itu tekadnya. Apalagi peluangnya juga masih terbuka. Ke depan, Mira ingin bisnisnya semakin maju, dan Meerakatja bisa tetap eksis dan berkembang, menjadi vendor di banyak perusahaan besar. Ia juga berharap, pemerintah semakin mendukung UMKM industri keratif, khususnya glass painting, agar semakin dikenal di luar negeri.







reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/08/ratna-miranti-pemilik-meerakatja-produk.html
Read More

OLA HARIKA : Pemilik LITTLETHOUGHTS PLANNER, Party Planner Untuk Ultah Si Kecil




Empat tahun lalu, saat buah hatinya, Salma Khaaliqa Rachman, menginjak usia setahun, Ola Herika mendekor sendiri pesta untuk anaknya. Ia juga membuat cupcake dan kue-kue untuk pesta itu. Waktu itu memang belum ada jasa dekorasi secara personalized atau party planner. Setelah selesai acara, tiba-tiba beberapa teman mendatanginya minta untuk didekor juga pestanya. Sejak saat itu, bersama partner-nya ia lalu mendirikan usaha dekorasi pesta untuk anak-anak dengan nama Littlethoughts. Alasannya, menurut istri DJ Riri ini, usaha ini dimulai dari sebuah pikiran kecil. Yang menjadi klien pertama adalah teman baik Ola. Meski awalnya agak tegang, namun tak terlalu dirasakan Ola karena ia mengenal baik temannya. Ditambah lagi, ternyata acaranya sangat sukses. Ola sendiri mengaku sebelumnya sama sekali tidak punya pengalaman menjadi event organizer.


Semua yang ia kerjakan saat memenuhi permintaan klien dilakukan berdasarkan learning by doing. Semakin sering membuat acara, ia jadi semakin tahu kekurangannya dan selalu ada perbaikan agar tidak menerima komplain dari klien. Untuk mengenalkan Littlethoughts pada klien, Ola menggunakan kekuatan promosi dari mulut ke mulut dan media sosial. Mulanya, ia memakai akun pribadinya di Facebook dan Instagram untuk memperkenalkan Littlethoughts. Selain itu, setiap selesai mendekor, ia selalu mengunggah foto-fotonya ke media sosial untuk berpromosi. Dengan cara ini, hingga sekarang belum ada yang meragukan Littlethoughts. Bila ada yang serius ingin memakai jasa Littlethoughts, pasti mereka sudah melihat portfolio Littlethoughts terlebih dulu. Seiring berjalannya waktu, Ola pun memutuskan membuat akun Littlethoughts sendiri, yang kini pengikutnya sudah mencapai 20 ribuan.


Berkat rajin berpromosi, klien pun berdatangan meminta Littlethoughts merancang pesta mereka. Banyak di antaranya adalah anak menteri, anak petinggi negeri, sampai perusahaan multinasional seperti Kiehls, BMW, dan Unilever. Permintaan mereka beragam. Mulai dari rancangan pesta untuk acara kids party, baby shower, arisan, adults party, corporate party, launching product, fashion show, akikah, dan lain-lain. Belakangan, mayoritas lebih banyak ke acara adults party. Dalam sebulan normalnya bisa ada 4 kali acara, tapi pernah juga sampai 16 kali acara. Untuk acara ulang tahun anak, tarifnya mulai dari Rp 15 juta. Sementara, untuk pesta orang dewasa mulai dari Rp 5 juta untuk table setting15 orang. Pemesanan dan briefing bisa dilakukan melalui tatap muka, telepon, e-mail, atau Whatsapp. Ola menyarankan sebaiknya pemesanan dilakukan 1-2 bulan sebelum acara agar pesta bisa dirancang semaksimal mungkin.


Kelebihan Littlethoughts terletak pada detail, personal, serta bermain warna dan bunga. Ola mengaku senang dan sepenuh hati mengerjakan Littlethoughts. Ia senang karena yang tadinya ia kerjakan iseng-iseng saja ternyata bisa menghasilkan. Ditambah lagi, ia bisa bekerja lebih fleksibel antara mengurus anak dan mengurus bisnis party planner. Ola pun kini juga berencana membesarkan usaha goodie bag untuk ulang tahun anak-anak yang baru dirintisnya.




littlethoughts planner

Line : Olaharika Party Planner ,Goodies, Decoration, Dessert Table,Florist since 2010 ?081285004540 email : littlethoughtsplanner@yahoo.co.id http://www.littlethoughtsproject.com



reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/05/ola-harika-pemilik-littlethoughts.html
Read More

OLIVIA JENSEN : Hadirkan Busana Ready To Wear Dengan Namanya Sendiri




Malang melintang di panggung hiburan, Olivia Jensen atau yang biasa disapa Olive, kini menjajal peruntungannya di industri fashiondengan meluncurkan lini busana berkonsep ready to wear yang memakai merek namanya sendiri ?Olivia Jensen?. Kemampuan Olive dalam berakting memang sudah tak diragukan lagi, namun soal kiprahnya di dunia fashion, Olive mengaku sempat tak percaya diri. Namun menurunya, rasa tak percaya diri itu lebih kepada soal mengapa karirnya di dunia fashiontidak secepat para desainer yang sudah senior. Olive memang ingin lebih fokus menggarap bisnisnya ini dan mengerjakannya secara bertahap. Ia tidak merasa kecil hati, malah rasanya tak sabar untuk segera menunjukkan karyanya, karena yakin ia memiliki desain yang berbeda dan unik.

Olive memahami kemampuannya sebagai seorang desainer memang masih di tahap awal. Ia pun ingin bisa berkonsultasi dengan perancang favoritnya, putra politikus Prabowo Subianto, Didit Hediprasetyo dan Didi Budiarjo. Hanya saja saat ini belum menemukan momen yang tepat. Sebelum meluncurkan koleksi perdananya ini, Olive pun sudah melakukan ?pemanasan? di ajang bergengsi Jakarta Fashion Week 2015. Saat itu, menurut Olive, belum ada kritikan pedas yang ia terima. Namun ke depannya ia yakin, bukan tak mungkin bakal mendapatkan kritik. Dan Olive pun sadar menjadi desainer juga harus siap menerima kritikan orang, sama halnya seperti akting, pasti ada yang suka dan tidak suka. Jadi itu sudah hal yang lumrah.


Olive mengaku pula, ia sering terjaga hingga dini hari jika ada ide menarik yang melintas dan harus dituangkan di atas kertas gambar. Untunglah, dara yang menikah dengan pengusaha Arief Purnama pada 7 Mei 2014 ini mendapatkan dukungan penuh dari sang suami. Ia diizinkan untuk menggeluti bidang yang disukai. Hal itu pun disyukuri oleh Olive. Pasalnya, ia harus merangkap tugas menjadi istri, artis, sekaligus mahasiswi sekolah desain yang tentu saja sangat padat aktivitas. Menurutnya, mendapatkan support yang baik atas pekerjaan yang ia lakukan dari orang terdekatnya sangat penting.



reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/06/olivia-jensen-hadirkan-busana-ready-to.html
Read More

Friday, January 15, 2016

AYUDYA PUTRI FAHRIANA, Pemilik Kedai MOM MILK, Hadirkan Menu Susu Yang Menyehatkan




Di dinding ruangan bercat kuning cerah terpampang foto-foto bayi dalam berbagai pose yang menggemaskan. Pelayan-pelayan berbaju kasual dengan celemek tampak hilir mudik melayani para pembeli yang kebanyakan anak muda. Padahal, tempat tersebut baru saja dibuka sejam lalu. Inilah sekilas kehangatan suasana Mom Milk di bilangan Menco Raya, Surakarta.

Sang pemilik, Ayudya Putri Fahriana, memang gemar minum susu. Rupanya sang Mama, Hetty Sulispiani, gemar meracik susu dengan buah, sehingga lebih nikmat. Kepiawaian Hetty pun membuat Putri berbisnis susu pada November 2011. Nama Mom Milk atau Susu Ibu dipilih karena semua resep dari sang Mama, selain itu filosofi susu ibu juga dikenal sangat menyehatkan dan memberi kehidupan untuk anak-anaknya.

Bermodal Rp 80 juta, Putri lantas membuka gerai Mom Milk dengan 12 varian rasa. Antara laian cokelat, stroberi, moka, teh hijau, vanilla, pisang, kopi, dan jeruk. Setelah itu, inovasi terus berkembang dan rasa lain pun bermunculan. Putri mengatakan semua bahan ramuan didatangkan dari Kuala Lumpur dan Jepang. Tetapi, bahan susu tetap menggunakan produk lokal.





Sebagai pemilik resep, Hetty mengakui ia menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk menguji resep. Keluarga dan teman-teman dekat menjadi pencicip utama. Kini, omzet per bulan usahanya ini bisa mencapai ratusan juta. Mom Milk pun kini juga telah melebarkan sayapnya hingga ke Sragen, Karawaci, dan Semarang.

Soal persaingan, Mom Milk tak gentar. Lokasi sengaja dipilih di dekat sekolah atau tempat kursus, sehingga anak-anak kecil bisa rutin minum susu di gerai Mom Milk. Putri juga menyapa pelanggan lewat jejaring sosial. Maklum saja, kedainya ini memang sangat disukai oleh anak muda. Selain itu, kedai Mom Milk juga menjual camilan dan makanan berat.





Namun di akhir 2013, Putri mesti mengikuti sang suami yang bertugas ke Merauke. Ia pun mempercayakan pengelolaan kedai susu yang dikenal berkat susu rasa durian yang legit ini kepada keluarganya. Tentunya ia juga sangat tertarik untuk mengembangkan usaha ini di Merauke. Dan saat ini ia sedang mempelajari karakter masyarakat Merauke sebelum ia mengembangkan usaha Mom Milk di sana.




way to enjoy fresh milkin various flavour. // Jl. Menco RayaNo.36 E Gonilan, Solo(area kampus UMS) . // Senin-Sabtu 11am - 11pm. Minggu 04pm - 11pm.




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/06/ayudya-putri-fahriana-pemilik-kedai-mom.html
Read More