Wednesday, February 3, 2016

KIPRAH PENJUAL JAMU TRADISIONAL DARI DUSUN WATU, BANTUL, YOGYAKARTA




Tak ada yang tahu sejak kapan warga Dusun Watu, Bantul, Yogyakarta mulai membuat jamu. Yang jelas, keahlian mereka dalam mengolah aneka bahan jamu itu sudah dikenal sejak zaman dahulu. Mereka pun merasa lebih sejahtera lewat usaha jamu tradisional.

Aroma rempah-rempah khas jamu tradisional Jawa tercium semerbak begitu memasuki Dusun Watu, Bantul, Yogyakarta. Salah satu sumber aroma itu adalah berasal dari rumah Wagianti yang asri. Setiap harinya, Wagianti disibukkan dengan menimbang dan mengemas jamu bersama beberapa perempuan yang tergabung dalam Koperasi Wanita Jati Husada Mulya Mandiri. Menurut Wagianti, dulunya warga desa membuat dan menjual jamu sendiri-sendiri. Namun sudah beberapa tahun belakangan ini mereka bekerja bersama, yang justru malah berbuah hasil yang positif. Membuat jamu menurut perempuan yang akrab disapa Yanti ini, bukan sesuatu yang asing baginya. Sejak kecil, ibu dua anak ini sudah akrab dengan jamu. Selain menjadi konsumen tetap, keluarga besarnya juga produsen jamu. Setelah beranjak dewasa, Yanti mulai menekuni usaha turun temurun ini dengan belajar dari adik ibunya.

Keahlian membuat jamu sudah Yanti dapatkan sejak tahun 2003 saat ikut bibinya. Ia pun tertarik menekuni dan ingin memanfaatkannya sebagai peluang usaha, sekaligus ingin membantu suaminya mencari nafkah. Dan mulai tahun 2004, ia sudah membuat dan menjual jamu keliling dari kampung ke kampung. Selama menjadi penjual jamu, Yanti mengaku hasilnya cukup lumayan meski awalnya sempat susah mencari pelanggan. Saat memulai usahanya, ia harus membuat jamu cair seperti beras kencur dan kunyit asem. Kemudian dengan sepeda tuanya ia membawa jamu itu sampai 20 kilometer atau lebih untuk mencari pelanggan. Menurut Yanti, saat itu cukup susah mencari pelanggan karena masing-masing warga sudah punya tukang jamu langganan.

Akibatnya, jamu yang ia buat tidak laku dibeli orang. Sampai rumah jamu itu pun terpaksa ia buang. Keadaan seperti itu terus berlangsung selama beberapa hari, sampai kemudian pelan-pelan ia bisa mendapatkan pelanggan baru. Dulu dagangannya dalam sehari hanya mendapat Rp 12.000. Tentu saja ia merugi karena harus terus membeli bahan baku. Namun, Yanti tidak pernah patah arang, kepercayaan dirinya dalam membuat dan menjual jamu semakin terasah. Kepandaiannya dalam berkomunikasi dan menjaga hubungan baik dapat menarik pelanggan dan menjadi nilai lebih yang membuatnya disukai. Dan Yanti bersyukur, saat ini pelanggannya sudah banyak. Bila dulu ia berdagang dengan naik sepeda, kini sudah bisa naik sepeda motor.

Dari hasil obrolan dengan beberapa pembuat dan pedagang jamu, Yanti mulai berpikir untuk membentuk sebuah kelompok bernama Seruni Putih yang awalnya hanya beranggotakan 12 orang. Sampai kemudian saat ini kelompok tersebut berkembang dan menjadi koperasi dengan anggota 30 orang. Saat itu pula Yanti dan anggota koperasi mulai rajin mengikuti berbagai pelatihan dan seminar seputar pembuatan jamu yang diadakan berbagai organisasi dan kampus. Tahun 2012, mereka mendapat pelatihan dan bantuan dari Pertamina. Salah satu pelatihan yang pernah diberikan Pertamina adalah mengolah jamu secara higienis. Mereka juga mendapat kesempatan untuk menitipkan jamu di SPBU Ambar Ketawang, yang ternyata cukup laris.

Dari berbagai pelatihan yang didapatkan, Yanti dan kawan-kawan akhirnya mampu memproduksi jamu dan menjualnya dalam kemasan modern. Variasi jamu yang mereka buat saat ini ada lebih dari 10 jenis. Namun, yang sudah berizin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) baru enam produk. Produk terbaru yang mereka produksi dan sudah mendapat izin adalah secang celup. Menurut Yanti, mendapatkan izin PIRT bukanlah hal mudah. Ia harus melewati berbagai proses yang memakan waktu. Itu mengapa tidak semua varian jamu bisa langsung diproduksi banyak dan diperjualbelikan di tempat tertentu seperti swalayan. Karena agar bisa dijual di tempat seperti itu harus mendapatkan PIRT.

Yanti berharap, jamu dengan kemasan modern ini dapat menambah penghasilan bagi dirinya dan rekan-rekan kelompoknya. Mereka membuat jamu instan sejak 2011. Yanti menjelaskan, untuk membuat jamu instan sebenarnya tidak sulit. Sama saja seperti membuat jamu cair, hanya saja harus dimasak lebih lama hingga cairan tersebut mengkristal. Selain menjual dari kampung ke kampung, Yanti kini juga rajin mengikuti beberapa pameran yang diadakan Pemerintah Daerah atau swasta. Produknya yang paling laku saat ini adalah jamu kunir mangga dan secang. Karena permintaan pelanggan pula, jenis jamu instan ini juga semakin bertambah. Sebagian resep Yanti dapatkan dari Dinas Kesehatanyang turut menjadi mitranya.

Tak jarang, Yanti juga melakukan ujicoba sendiri dalam membuat jamu instan. Misalnya seperti selang celup. Prosesnya berawal dari coba-coba saja, ternyata ia bisa membuatnya. Memang sebelumnya ada juga secang celup dari merek lain. Yanti kemudian mencoba membuatnya sendiri dan membandingkannya. Ia ingin membuat secang celup buatannya memiliki rasa yang lebih baik dibandingkan produk yang sudah ada. Dari hasil penjualan jamu secara berkelompok, Yanti mengaku omzetnya juga turut bertambah. Saat ini omzetnya sudah mencapai Rp 300.000 per hari. Sementara harga jual jamu sendiri beragam tergantung jenisnya, mulai Rp 12.000 sampai Rp 17.000. Yanti sangat beruntung suaminya turut mendukung langkahnya, sehingga ia bisa terus berkreasi.

Selama menekuni usaha ini, Yanti mengaku tidak pernah menemui hambatan berat. Paling hanya masalah harga bahan baku saja yang beberapa kali sempat naik. Selain itu, ia juga susah berjualan saat musim hujan karena sulit berkeliling. Pada saat bahan baku naik, Yanti berhati-hati untuk juga menaikkan harga produk. Mereka memang agak susah untuk menaikkan harga jual. Kalaupun terpaksa harga jual dinaikkan, mereka melakukannya secara pelan-pelan. Yang jelas, sebelum menaikkan harga, pelanggannya sudah dikasih tahu terlebih dahulu bahwa bahan baku sudah naik. Untung, sejauh ini masalah tersebut tidak pernah menjadi masalah besar. Yang penting kualitas tetap terjaga dan tidak memakai campuran macam-macam. Jadi, murni alami. Dan satu hal lagi, mereka juga perlu mengikuti perkembangan zaman agar terus disukai pelanggan.

Masih di dusun yang sama, terdapat kelompok pembuat jamu lain bernama Wiji Temulawak. Kelompok yang diketuai oleh Sami Sedyoprayitno ini mengkhususkan diri membuat jamu gadog. Menurut nenek 6 cucu ini, ia memasarkan jamu tidak secara keliling melainkan sudah memiliki tempat khusus di pasar tradisional dekat rumahnya. Karena membuat jamu godog lebih mudah ketimbang jamu cair dan instan, kelompok ini membuat jamu hanya dua kali per bulan. Para anggota kelompok berkumpul di rumah Sami setiap tanggal 1 dan 15 setiap bulannya. Dengan bekerja bersama, mereka bisa membeli bahan-bahan jamu lebih murah karena memesan sekaligus banyak, hingga dapat menekan modal.

Dengan anggota mencapai 23 orang, kelompok Wiji Temulawak ini dapat membuat jamu lebih cepat dan dalam jumlah yang banyak. Jamu godog ini juga dapat bertahan lama, sampai 4 bulan. Jenis jamu yang mereka buat sangat beragam, mulai dari jamu untuk asam urat, pegal linu, rematik, kencing manis, pelangsing, dan lain-lain. Sama seperti Yanti, Sami juga belajar membuat jamu secara turun temurun. Tak heran, ia memiliki banyak pelanggan setia yang juga turun temurun. Sami tak mengetahui persisnya kapan warga Dusun Watu mulai dikenal sebagai pembuat dan pedagang jamu. Karena dari dulu memang di dusun ini semua warganya berjualan jamu, baik secara berkeliling atau berjualan di pasar.

Saat ia masih muda, ia menjual jamu dengan berkeliling dari kampung ke kampung. Tapi saat ini karena usianya sudah tua, ia cukup berjualan jamu di pasar saja. Setiap kali ia dan para anggota kelompoknya berkumpul, ada sekitar lebih dari 100 bungkus jamu yang siap dijual dengan harga mulai dari Rp 3000 sampai Rp 5000 per bungkus. Karena masih dikelola secara tradisional, Sami tidak mengetahui persis berapa omzet dan keuntungan pribadi dan kelompoknya. Karena memang tidak tentu, dan jumlahnya juga berbeda-beda. Baginya yang penting masih dapat pemasukan untuk membeli bahan dan hidup sehari-hari.

Jamu godog tentu berbeda dengan jamu cair dan jamu instan yang tinggal diminum atau dituang air panas. Untuk menikmati jamu godog, perlu melewati proses memasak terlebih dahulu. Agar khasiatnya semakin baik, Sami mengatakan saat merebus jamu lebih baik menggunakan kuali yang dibuat dari tanah liat. Dalam membeli jamu juga jangan sembarangan. Harus hati-hati agar tidak tertipu dan malah bisa membuat sakit. Sami dan Yanti berharap usaha jamu ini dapat terus lestari. Karena jamu adalah warisan nenek moyang yang patut dilestarikan. Banyak efek positif dari jamu bagi tubuh manusia. Misalnya jamu beras kencur yang sangat baik untuk menghangatkan badan, menambah nafsu makan dan menjaga kesehatan.

Meski begitu, Yanti dan Sami tidak mencantumkan khasiat jamu dalam kemasan mereka. Dinas Kesehatan dan BPOM memang meminta agar pada kemasan jamu tidak dilampirkan label khasiat mengobati. Melainkan menggunakan kata membantu atau meredakan. Selain itu, sebelum meminum jamu ada baiknya ketahui terlebih dulu kondisi tubuh. Karena ada beberapa jenis jamu yang tidak cocok diminum bagi orang tertentu. Misalnya, mereka yang darah rendah tidak boleh meminum kunir mangga, darah tinggi tidak boleh meminum temulawak, diare tidak boleh minum kunyit, dan lain-lain. Yanti, Sami, dan anggota kelompoknya, mengaku benar-benar sudah bisa menikmati harum aroma rempah-rempah jamu dalam keseharian mereka.


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/10/kiprah-penjual-jamu-tradisional-dari.html
Read More

WESTBIKE MESSENGER SERVICE : Jasa Pengiriman Sekaligus Kampanye Gowes




Padatnya jalanan, kemacetan, serta lamanya waktu pengiriman membuat peluang baru di bisnis jasa pengiriman. Salah satunya kurir bersepeda. Bisnis ini kian marak dan diminati sebagai alternatif jasa pengiriman yang lebih cepat dan praktis. WestBike Messenger Sevice (WMS), adalah jasa kurir sepeda yang digagas oleh Hendi Rachmat, dan didirikan sejak bulan Oktober 2013 lalu. Bertempat di Pasar Santa Lantai 1 No 167-169, belasan kurir sepeda WMS siap melayani kebutuhan pengiriman barang dan dokumen dalam waktu singkat.

Diakui Hendi, ia memang pencinta sepeda dan senang dengan aktivitas gowes. Ia bahkan memiliki toko sepeda fixie di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan sejak tahun 2010. Sayangnya, tren sepeda fixie hanya bertahan sebentar. Tepatnya di tahun 2012, peminat sepeda fixie menurun drastis. Banyak teman yang menyarankan Hendi untuk berpindah haluan, tetapi Hendi memang sudah jatuh cinta dengan sepeda fixie. Agar bisnisnya bertahan, Hendi pun sempat berbisnis online dan masih giat dengan komunitas WestBike fixie. Setelah memutar otak dan melihat kebutuhan kurir yang meningkat, Hendi pun yakin bahwa bisnis kurir sepeda dapat menjadi solusi. Mengantarkan barang dengan sepeda sendiri sebenarnya dari zaman dulu sudah ada, seperti pak pos. Tetapi kali ini ada penawaran yang berbeda, misalnya waktu. Dan ini menjadi solusi di tengah kemacetan kota Jakarta, selain ramah lingkungan tentu saja.


Hendi pun memberanikan diri untuk memulai bisnis kurir sepeda di bulan Oktober tahun 2013 dengan mengajak komunitas yang tergabung di WestBike. Awalnya hanya dua orang yang bergabung, namun sekarang sudah ada 20 orang. Menurut Hendi, sejak awal mendirikan WMS, ia optimis bahwa bisnis bike messenger akan berkembang. Respons awal itu pun sudah langsung positif. Ia sudah mendapatkan klien yang tidak main-main. Ada kedutaan dan perusahaan besar yang saat itu langsung kontrak dengan WMS karena kebutuhan mereka untuk mengirim dokumen.


Dalam menjalankan bisnisnya, Hendi menerapkan sikap kejujuran sebagai hal yang utama. Para kru WMS ditamankan untuk jujur dan bisa dipercaya. Ada aturan yang dibuat Hendi secara tegas untuk tidak menyentuh apalagi membuka paket yang akan diantarkan. Soal biaya, Hendi memiliki beberapa penawaran, mulai dari VIP yang dipatok dengan harga Rp 50.000 dimana barang akan diterima pada hari yang sama, paket VVIP yang dikenakan biaya hingga Rp 100.000 tapi barang akan sampai tidak lebih dari 2 jam, serta paket penawaran untuk corporate.



Layanan bike messenger yang ditawarkan WMS hanya meliputi Jakarta Timur, Pusat, Selatan, dan Barat. Sampai hari ini bisnis ini terus meningkat, klien bertambah dan semakin percaya dengan layanan WMS. Setidaknya sudah ada 5000 order yang dierima dan permintaan juga sebenarnya semakin bertambah, tapi Hendi harus memperhitungkan juga jumlah bike messenger yang ada di WMS. Untuk merekrut bike messenger, awalnya Hendi hanya menawarkan kepada komunitas yang dirangkulnya. Namun, kini ia sudah mulai melakukan rekrutmen secara terbuka. Yang jelas, kru WMS harus memiliki passiondengan sepeda agar tidak ada beban kalau harus menempuh jarak yang lumayan, sekitar 50-60 kilometer per hari. Kalau sudah suka, pasti enjoy saja menjalaninya tidak dijadikan beban.

Saat ini Hendi tengah melakukan trial dengan bike messenger perempuan pertama yang bergabung. Walau sebenarnya ia tidak mau mengambil risiko, dan sejak awal memang tidak menerima bike messengerperempuan, tapi ternyata peminatnya cukup banyak dan ia juga mendapat masukan kalau harusnya perempuan pun juga mendapatkan tempat yang sama. Akhirnya ia berpikir, tak ada salahnya juga untuk memberikan kesempatan. Kalau hasilnya positif, ke depannya Hendi akan menerima bike messenger perempuan yang lain. Pekerjaan bike messenger memang memiliki risiko yang cukup tinggi, sehingga Hendi pun memberikan asuransi kepada kru bike messenger WMS. Selain itu, kini WMS juga telah bekerja sama dengan Levi?s, jadi para kru bisa tetap gaya dan memakai produk berkualitas saat mengantarkan barang.


Ke depannya, Hendi masih optimis bisnisnya bisa terus maju dan berkembang. Karena sebenarnya ini tidak hanya soal bisnis saja, tapi juga ada kampanye menularkan semangat gowes yang bisa mengurangi polusi karena eco green. Lewat WMS, Hendi berharap semoga langkah kecil ini bisa memberikan kontribusi terhadap lingkungan.

Westbike Messenger Service

Call center: 021 - 33310808
E-mail: westbikemessengerservice@gmail.com


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/06/westbike-messenger-service-jasa.html
Read More

5 Kisah Inspiratif Dari Jatuhnya Usaha Kecil

Kisah berikut ini ditulis ulang dari 5 Kisah Berharga dari Bangkrutnya Usaha Kecil yang unggah di detikFinance oleh Angga Aliya?.semoga bermanfaat

Tahun 2011 menjadi masa yang cukup berat bagi para pelaku bisnis, terutama usaha kecil dan menengah (UKM). Banyak yang akhirnya tutup karena kesalahan strategi dan juga tekanan akibat krisis global.


Menurut Federation of Independent Business, masalah utama dari bisnis UKM adalah melambatnya raihan omzet. Tanpa mengesampingkan masalah-masalah lain, Kepala Ekonomi FIB William Dunkelberg menilai, omzet merupakan kunci dari sebuah bisnis.


Sayangnya, tidak semua bisnis bisa beruntung di tahun 2011. Berikut 5 cerita kesalahan bisnis UKM yang pada akhirnya membuat mereka harus
menyerah setelah berjuang keras menghadapi krisis seperti dikutip dari New York Times, Jumat (29/12/2011).

1. Pinjam Uang di Waktu yang Salah

Elizabeth Anne Bed & Breakfast didirikan pada tahun 2003 lalu dengan nilai investasi sekitar US$ 650 ribu atau Rp 5,85 miliar. Pelunasan penginapan itu dilakukan melalui cicilan. Bisnis ini terpaksa ditutup Agustus tahun ini.

PADA MASA JAYANYA.

Setelah membeli penginapan tersebut, pasangan suami istri Reinerts meraup omzet yang secara perlahan naik setiap tahunnya, dari Rp 702 juta di 2004 menjadi Rp 936 juta di 2007. ?Kami mengenal sebagian besar tamu, dan mereka (tamu) saling mengenal satu sama lain,? kata Kevin.


APA YANG SALAH?

Pada tahun 2007 pasutri pengusaha itu mengambil kredit baru, menambah modal untuk renovasi dapur. Pinjaman berjangka waktu 10 tahun itu, beserta bunganya, menambah total cicilan yang harus dibayar per bulan menjadi Rp 15,3 juta. Ditambah dengan berkurangnya jumlah wisatawan akibat krisis, omzet mereka anjlok 21% di 2009. Hingga pada 2010, mereka kesulitan untuk membayar cicilan akhirnya asetnya disita oleh bank.

PELAJARANNYA

Kevin menyalahkan pengambilan kredit tersebut. ?Itulah penyebabnya. Waktu itu, kami tidak mengira pendapatan akan melambat,? katanya. Saat ini, kedua suami istri Reinert menjalankan KR Construction, yang menyediakan jasa konstruksi rumah. Denise juga bekerja di restoran setempat, sementara Kevin manggung bersama band yang membawakan lagu-lagu The Beatles bernama Dr. Robert.


2. Semua Berjalan Sesuai Aturan

Just Moulding, sebuah perusahaan yang berbasis di Gaithersburg, Maryland, sehari-hari menjual dan memasang dekorasi rumah hasil cetakan. Perusahaan ini didirikan tahun 2004 dan ditutup April tahun ini.

PADA MASA JAYANYA

Mark Rubin dan Kevin Wales memulai perusahaan ini dengan rumah kerja kecil yang hanya menerima pemesanan kecil-kecilan. Pada tahun 2007, bisnis mereka meningkat luar biasa sehingga akhirnya memutuskan untuk menjadikannya waralaba. Keduanya meraup Rp 6,3 miliar dari 21 investor. Setelah Kevin memutuskan keluar dari perusahaan tahun 2010, mertua Mark, Richard Hayman, memutuskan untuk mengambil alih kursi presiden direktur. Tak berapa lama, omzetnya naik 20% dan menjadi perusahaan yang terus mencetak pertumbuhan laba.

APA YANG SALAH?

Pada masa resesi. Menurut Richard, perusahaan tersebut menjual produk yang diinginkan konsumen, tapi bukan produk yang benar-benar dibutuhkan. ?Bentuknya hiasan untuk dekorasi rumah, bukan dinding atau atap,? katanya. Saat bisnisnya mulai tumbuh dan biaya operasional semakin tinggi karena sudah menjadi waralaba, penjualannya malah anjlok. Para investor yang tertarik membuka waralabanya juga kesulitan membayar fee sekitar Rp 900 juta- 2,25 miliar hanya untuk memulai usaha ini.

PELAJARANNYA

?Kami sudah melakukan semuanya sesuai aturan,? kata Richard, yang sudah menanamkan modal Rp 4,23 miliar ke perusahaannya itu. ?Kami sudah memakai orang-orang terbaik, dengan produk yang jempolan. Hanya saja kami tidak bisa melawan (krisis) ekonomi,? ujarnya. Dia dan Mark menolak membahas bisnis yang sedang mereka kerjakan saat ini.

3. Ketika 1% Dirasa Sudah Cukup

P & H Capital, perusahaan pembiayaan dari Brooklyn ini mengkhususkan diri di pinjaman untuk UKM, dibuka tahun 2009 dan tutup Maret kemarin.

PADA MASA JAYANYA

Shawn Porat dan Ismail Humet memulai P & H Capital dengan modal Rp 36 juta. Sebelumnya, Ismail adalah analis di Wall Street sementara Shawn pengacara perdata. Kedua sahabat itu menilai krisis subprime dan makin ketatnya likuiditas sebagai sebuah kesempatan. Pada Januari 2010, keduanya mendapat kontrak penyaluran pembiayaan senilai Rp 4,5 triliun yang dipercaya bisa meningkatkan kinerja perusahaan. ?Komisi kami hanya 1%,? kata Ismail, ?dan 1% dari Rp 4,5 triliun adalah banyak sekali,? tambahnya.

APA YANG SALAH?

Karena satu dan dua hal, perjanjian pembiayaan tersebut berhenti di tengah jalan. Pihak peminjam ragu karena uangnya akan dipakai membangun pabrik di kawasan Asia, kata Ismail, dan mereka pesimistis bernego dengan pemerintah setempat. Akhirnya, si peminjam malah mencari kredit di tempat lain. Ismail juga mengatakan, banyak klien P & H meminta jumlah uang yang tak masuk akal. ?Kami pernah punya klien pemilik restoran yang butuh Rp 2,7 miliar hanya untuk buka cabang. Kami hanya sanggup sediakan Rp 1,35 miliar,? ujarnya. ?Dan dia tidak setuju,? tambahnya.

PELAJARANNYA
Kedua sahabat itu tidak mengantisipasi betapa sulitnya menawarkan pembiayaan, bahkan dengan tawaran yang paling menarik sekalipun. Sejak ditutupnya P & H, Ismail membantu dalam pembuatan MyFreebeez.com, situs yang mempromosikan UKM hanya dengan bayaran sekedarnya.

4. Proyeksi Dana Operasional yang Payah

ScooterFood, produsen makanan anjing yang berbasis di Brooklyn, dibuka tahun 2006 dan ditutup Agustus lalu.

PADA MASA JAYANYA

Tak lama setelah insiden 11 September 2001, Michelle Lewis menjadi pengangguran setelah galeri seni tempat ia bekerja bangkrut karena lokasinya yang berdekatan dengan World Trade Center (WTC). Sebagai pecinta binatang, ia mulai memasak makanan anjing memakai bahan-bahan yang alami. Pasalnya, anjingnya yang bernama Scooter Mae tidak menyukai makanan kaleng. Seorang teman menyarankan agar Michelle menyulap makanan tersebut menjadi sebuah bisnis, dan pada 2006, dia membuka ScooterFood. Perusahaannya bahkan sempat menempati urutan kedua bisnis paling menjanjikan dalam kompetisi PowerUP! di perpustakaan umum Brooklyn dengan total hadiah Rp 45 juta.

APA YANG SALAH?

Michelle mengaku rencana bisnisnya sudah disusun jauh lebih baik dari para kompetitornya. Tapi karena makanan anjingnya tidak memakai bahan pengawet, akhirnya dia memutuskan untuk menjualnya secara beku. Tapi dia tidak menyadari bahwa di 2006 belum banyak toko binatang yang memiliki mesin pendingin. Selain itu, karena biaya logistik makanan beku cukup mahal, akhirnya harga jual jadi lebih tinggi ketimbang makanan anjing lainnya.

PELAJARANNYA


Michelle mengaku kurang cermat dalam pembukuan perusahaannya. ?Saya tidak menyusun anggaran dengan baik dan tidak menghitung apakah omzetku bisa menutupi semuanya,? ungkapnya. Selama lima tahun berjalan, ia sudah menginvestasikan Rp 540 juta di perusahaannya. Jika tahu sejak awal, ia mengaku tidak akan berlama-lama membuka bisnisnya. Setelah menutup ScooterFood di Agustus, Michelle membuka bisnis saus karamel bernama Spoonable. Ia akhirnya meminta bantuan profesional untuk pembukuannya.

5. Laba yang Hilang

SmartyVA adalah situs asisten virtual yuang membantu anda berlatih dalam manajemen sosial media yang berbasis di San Luis Obispo, California. Perusahaan ini dibuka tahun 2009 dan ditutup awal Februari tahun ini.

PADA MASA JAYANYA

Pada tahun 2009 Starr Hall, seorang konsultan hubungan masyarakat menerima banyak permintaan untuk manajemen sosial media, dia melihat ini sebagai kesempatan. Dia menanamkan dana Rp 90 juta untuk membentuk materi program SmartyVA dan sebauh situs dengan mesin pencari yang mencari kecocokan pekerjaan. Program berjangka waktu enam minggu itu biayanya Rp 9 juta dengan target pasar para ibu rumah tangga yang belum pernah bekerja sebelumnya. Jika kliennya tersebut berhasil mendapatkan pekerjaan lewat program tersebut, maka SmartyVA menerima 10% dari gaji mereka. Perusahaan ini meraup omzet Rp 900 juta dalam enam bulan pertama.

APA YANG SALAH?

Laba SmartyVA sangat bergantung pada keberhasilan kliennya menemukan pekerjaan yang tepat. ?Ratusan klien kami lulus dari program, tapi hanya 21 yang mendapatkan pekerjaan,? kata Starr. ?Jika semuanya berhasil bekerja, laba kami pasti akan tinggi,? tambahnya.


PELAJARANNYA

?Saya tidak mengantisipasi bedanya pola pikir antara wanita yang saya latih dengan saya sendiri,? katanya. Starr sekarang kembali menjadi konsultan. Ia menerbitkan buku baru dengan judul ?The Social Wave: Why Your Business is Wiping Out with Social Media and How to Fix it.?


reff : http://gerakanbalonganmandiri.blogspot.com/2012/09/5-kisah-inspiratif-dari-jatuhnya-usaha.html
Read More

INDAH HAPSARI. Berkreasi Dengan Bekas Tutup Botol Dan Galon Dalam DIJAHIT INDAH




Tak salah melabeli Indah Apsari sebagai sosok perempuan muda yang kreatif. Passion-nya di dunia craft melahirkan karya-karya yang bermanfaat, termasuk dengan cara mendaur ulang tutup botol dan tutup galon. Semuanya berawal dari hobi Indah membuat craftyang kemudian dituangkan dalam blog Mochie2Felt pada 2009. Kala itu, Indah membuat dan menjual pernak-pernik dengan bahan flanel, seperti gantungan kunci, bros, tempat handphone dan tempat laptop. Tahun 2011 Indah bergeser ke bahan kulit sintetis karena bahan tersebut lebih kuat, mudah dirawat, dan awet.

Kecintaan Indah pada craft dari kulit sintetis ini kemudian membuahkan buku Ragam Kreasi Kulit Sintetis. Blog-nya pun berganti nama menjadi Dijahit Indah, yang berarti dijahit oleh Indah atau dijahit dengan indah. Produk Indah yang variatif dan rajin mengikuti event bersama komunitas pecinta craftmembuat order semakin bertambah. Indah mengaku ia pernah mengerjakan sendiri pesanan souvenir pernikahan berupa bantal bergambar mempelai dari aplikasi perca sebanyak 700 buah. Karena handmade, butuh waktu hingga 2 bulan untuk mengerjakannya. Walau sangat lelah, namun Indah senang karena pembelinya puas. Ia pun semakin semangat untuk terus berkarya lagi. Saat ini, Indah sudah dibantu dua orang asisten, yaitu seorang tukang kayu untuk mengerjakan pigura atau displaydan seorang tukang jahit.





Salah satu karya Indah yang paling diminati adalah karya-karya daur ulang menggunakan tutup botol minuman dan tutup galon yang dipadukan dengan kulit sintetis, kristik, perca dan sebagainya. Ada yang dibuat menjadi bros, gantungan kunci, frame, finger puppet, cable holderdan interchangeable calendar. Khusus cable holder dan interchangeable calendar sangat diminati pembeli karena unik dan bermanfaat. Yang cable holder bahkan sudah dijual di beberapa mal. Lucunya, alumni Fakultas Sastra Universitas Padjajaran ini mendapatkan tutup botol dan tutup galon tersebut dari banyak orang, mulai dari keluarga, teman, tukang bakso langganan, hingga pemulung. Soal harga, Indah mematok harga tak terlalu mahal. Misalnya, interchangeable calendar dibanderol seharga Rp 275.000-Rp 300.000, frameharganya Rp 90.000-Rp 120.000, dan 1 set finger puppet berisi 5 karakter seharga Rp 50.000.

Karena pesanan yang semakin membludak, kini Indah mau tak mau membatasi pesanan. Untuk order souvenir maksimal 100 piece per pembeli, pesanan costum made sekitar 10-20 piece per bulan, dan selebihnya ready stock. Ini terpaksa Indah lakukan agar setiap pesanan terjaga kualitasnya. Apalagi ada pesanan-pesanan yang unik dan butuh pengerjaan khusus. Indah pun juga rutin berjualan di bazar dan membuat workshop di berbagai tempat, seperti Museum Nasional dan Inacraft. Bisnis Indah yang maju seperti sekarang pun awalnya melalui lika-liku. Modal awalnya cuma Rp 500.000 untuk membeli flanel dan perlengkapan lainnya. Dijualnya pun hanya dari mulut ke mulut dan menitip ke beberapa sekolah. Sedikit-sedikit keuntungan dikumpulkan lalu dibelikan mesin jahit, kamera, dan alat-alat penunjang bisnis. Indah memang memaksimalkan media sosial sebagai alat promosi usahanya.




Beberapa kali Indah juga mengalami down karena ada pembatalan order atau foto produknya dipakai jualan orang lain. Tapi itu tidak membuatnya menyerah. Indah tetap mengerjakan semua karya dengan sepenuh hati meski bahan-bahan yang digunakan berasal dari barang bekas. Indah kini juga sudah menyelesaikan buku keduanya tentang kreasi daur ulang.

blog.dijahitindah.com




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/09/indah-hapsari-berkreasi-dengan-bekas.html
Read More