Friday, February 5, 2016

OSD by Oki Setiana Dewi : Produk Busana Muslimah Yang Wudhu Friendly




Di dunia bisnis pakaian muslimah, nama Oki Setiana Dewi terbilang baru dibanding selebriti lainnya. Namun, dalam hitungan bulan, usahanya bisa berkembang pesat. Ibu satu putri ini memang baru tertarik menekuni usaha baju muslim setelah mendapat saran dari suaminya, Ory Vitrio. Kebetulan sang suami memang seorang pengusaha, jadi bisa melihat peluang bisnis. Bermula, saat Ramadhan tahun 2014, banyak perempuan yang mencari gamis dan kerudung yang sering dipakai Oki di Tanah Abang. Akhirnya, sang suami menyarankan, mengapa dirinya tidak membuat gamis dan kerudung sendiri saja ? Toh, selama ini Oki juga sudah sering membuat baju sendiri karena tidak selalu merasa cocok dengan baju yang disediakan sponsor saat tampil di depan umum.

Kemudian, artis yang selalu tampil syar?i dalam kegiatannya ini, memesan gamis dan kerudung syar?i untuk ia jual lagi secara online. Tak disangka, dalam seminggu, dagangannya ludes dan modalnya langsung kembali. Oki pun memutarnya lagi untuk kembali berjualan baju gamis dan kerudung. Dari keuntungan itu, pada Jnauari 2015, barulah ia membuka butik di pusat perbelanjaan khusus baju muslim di Jakarta Pusat. Oki tak mengira, dalam 4 bulan kemudian ia bahkan sudah punya 3 toko di gedung yang sama. Lalu ia mulai memproduksi sendiri dengan mengandalkan 50 tenaga penjahit. Yang tadinya produksinya hanya puluhan gamis, sekarang dalam sebulan ia bisa memproduksi ribuan gamis dan kerudung.


Untuk model dan desain, ia mengaku menanganinya sendiri. Oki pun mempelajari semuanya dari nol. Mulai dari memilih kain hingga merancang desain. Untuk desain, Oki banyak melihat gaun-gaun dari luar negeri yang bukan gaun muslimah. Kemudian ia modifikasi menjadi baju muslimah. Dari usahanya ini, Oki pun mendapatkan pelanggan tak hanya dari Indonesia. Ada juga yang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, dan Hong Kong. Sementara pelanggan yang dari Indonesia, sekali membeli bisa berkarung-karung karena setiap minggu Oki memang selalu mengeluarkan model baru.

Keunggulan gamis dan kerudung dari brand OSD yang merupakan singkatan dari nama lengkap Oki adalah bahan yang berkualitas dan mengusung konsep busana muslim syar?i. Selain itu, artis yang juga mulai berdakwah ini juga menyediakan beragam warna untuk satu model pakaian. Satu model bisa tersedia 20-25 warna. Baju produk perempuan kelahiran Batam, 13 Januari 1989 ini juga wudhu friendly. Maksudnya adalah, di bagian tangan pasti ada karet atau ritsleting sebatas siku. Gunanya agar memudahkan pelanggan ketika berwudhu. Oki juga selalu memasangkan vuring di setiap bajunya supaya pelanggan tidak perlu bingung mencari dalaman, legging, atau manset.


Meski ongkos produksinya jadi lebih mahal, Oki tak mau melulu memikirkan laba. Toh, tujuan awalnya ia berbisnis adalah agar semua masyarakat Indonesia bisa memakai baju yang santun dan syar?i, karena sebagian besar penduduknya beragama Islam. Supaya bisa menjadi contoh bagi masyarakat dunia. Oki membandrol baju-bajunya dari harga Rp 400.000-Rp 1 juta. Sadar pelanggannya juga ada yang berasal dari kalangan mahasiswa, Oki kemudian membuat second line dari produk OSD. Dan tak hanya itu, perempuan yang namanya dikenal lewat film Ketika Cinta Bertasbih ini juga memproduksi gamis untuk bayi. Karena selama ini memang banyak yang kesulitan mencari baju muslimah untuk bayi. Kalau untuk usia anak memang sudah banyak, tapi untuk bayi yang baru lahir sampai 3 tahun, masih jarang. Kebetulan Oki juga terinspirasi dari anaknya sendiri, Maryam, yang sejak usia 2 hari sudah ia pakaikan jilbab. Oki lalu membuat brand Maryam OSD untuk gamis bayi tersebut.


Melihat perkembangan bisnisnya yang berkembang baik, Oki pun menetapkan target agar gerainya bisa tersebar di seluruh Indonesia. Targetnya yang lain adalah juga ingin memiliki gedung dan tempat sendiri untuk butik-butik OSD. Karena selama ini ia baru menyewa saja. Dan Oki juga terus belajar soal desain serta jenis kain yang bagus untuk produk yang ia jual.














reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/10/osd-by-oki-setiana-dewi-produk-busana.html
Read More

GOBANG GOCHIZ, Jajanan Unik Hasil Karya 3 Jajaka Bandung




Nama camilan satu ini terdengar unik, Gobang Gochiz terinspirasi dari jargon tokoh legenda rakyat Sunda, Si Kabayan, ?Cir Gobang Gocir? yang diplesetkan. Produk camilan ini dilahirkan oleh tiga sahabat, Alex, Betrand, dan Ramon. Mereka awalnya hanya sering menongkrong bareng, karena tinggal dalam satu kompleks yang sama dan tanpa sengaja membuat usaha keju aroma.

Awalnya mereka memang hanya sekedar iseng ingin membuat sesuatu yang produktif dan menerapkannya dalam bentuk produk makanan. Sampai suatu ketika, saat melihat ada orang yang menjual pisang aroma, mereka pun berpikir untuk membuat produk yang mirip, yakni keju aroma. Tanpa menunggu waktu lama, mereka mulai mencoba membuatnya dengan modal awal hanya memanfaatkan bahan baku yang ada dari rumah. Dan ternyata usaha mereka itu berhasil.

Pada Desember 2012, ketiga sahabat yang tinggal di Bandung ini memutuskan serius menjual keju aroma olahan mereka. Namun sebelumnya, selama tiga bulan mereka melakukan tes pasar dulu dan belum memakai nama Gobang Gochiz. Mereka pun secara sukarela bekerja menggulung kulit keju hampir 24 jam, meskipun saat itu belum ada yang memesan.

Ternyata, keisengan mereka berbuah manis, respons positif pun diterima di luar dugaan. Dengan optimis mereka lalu mempromosikan jajanan ini ke lingkungan kompleks, kemudian ke sejumlah perkantoran, hingga menjajakannya di kantin kampus. Melihat potensi pasar yang baik, akhirnya mereka sepakat membuat nama usaha dan serius menekuni bisnis keju aroma.

Niat mereka pun mendapat dukungan dari teman-teman satu kompleks yang lain, yang awalnya sudah terlebih dahulu menjadi tester. Bahkan teman-teman satu kompleksnya pula yang memberi usulan nama Gobang Gochiz, karena produknya menggunakan keju atau cheese. Selain itu, nama itu juga mengandung filosofi karena merupakan plesetan semboyan tokoh Sunda terkenal, si Kabayan, yang sama-sama satu daerah dengan mereka. Dan sepertinya nama ini mengandung hoki, selain enak didengar dan lucu.

Gerai pertama Gobang Gochiz dibuka pada Januari 2013 di Factory Outlet Heritage. Awalnya konsep gerai mereka indoor, karena tujuannya ingin menaikkan image keju aroma bukan sekedar gorengan biasa. Dan ternyata dalam sebulan kemudian, mereka pun bisa membuka dua gerai lagi, hingga terus bertambah. Konsep gerai pun ditambahi dengan ourdoor, agar bisa meraup pasar lebih luas. Gerai outdoorpertama mereka dibuka di daerah Jatinangor.

Setelah setahun mengembangkan jajanan unik ini, mereka sudah bisa memiliki 20 gerai. Gerai paling banyak memang terdapat di Bandung, namun di kota lain pun juga ada seperti Sumedang, Garut, Cirebon, dan Jakarta.

Jajanan keju aroma milik Gobang Gochiz memang belum memiliki kompetitor sehinga masih banyak diburu. Gerai mereka juga masih bersifat resmi, dan belum membuka sistem franchise. Hanya sistem reseller saja yang mereka terapkan. Saat ini suah ada 40-50 reseller dan akan terus dikembangkan dengan memperluas lokasinya di beberapa titik di Indonesia.

Soal harga, jajanan ini pun terhitung murah dan sangat terjangkau. Harga keju aroma di Bandung, satu potong hanya Rp 1000, sementara untuk satu boks dengan isi 30 potong, Rp 30 ribu. Namun untuk harga di pameran, bisa naik sampai Rp 1500/potong.





Produksi jajanan keju aroma ini sekarang sudah mencapai 7000-9000 potong setiap bulannya dan sudah memiliki 20 karyawan untuk produksi, dengan beberapa orang tambahan untuk tim delivery dan tim event. Dengan modal produksi sekitar Rp 42 ribu, kini mereka sudah bisa menghasilkan omzet lebih dari Rp 42 juta per bulan dan ingin mengajak orang lain untuk bisa seperti mereka. Jadi bagi yang ingin usaha tanpa modal, bisa mencobanya dengan menjadi reseller Gobang Gochiz.

Hebatnya lagi, jajanan ini sudah memiliki jasa layanan antar gratis untuk wilayah kota Bandung. Ada sekitar 10 tim delivery yang siap mengantar produk Gobang Gochiz sampai ke rumah pelanggan, meski hanya memesan satu boks saja. Jadi, bagi warga kota Bandung yang mau menikmati jajanan enak, dan tidak ingin capek mencarinya keluar, bisa langsung memesan Gobang Gochiz. Info produk dan layanan Gobang Gochiz sudah tersaji lengkap di Facebook, dengan nama akun GoBangGoChiz, dan di Twitter dengan akun @GoBang GoChiz.

Ketiga sahabat ini ingin jajanan yang mereka beri tagline?From Bandung With Cheese? ini ke depannya tak hanya dikenal di kota kelahiran mereka saja, tapi juga diminati oleh masyarakat Indonesia. Dan program besar yang ingin mereka rancang adalah, mereka ingin melakukan sesuatu yang tidak sekedar membicarakan soal bisnis saja, tapi mereka ingin membuat sesuatu yang baik untuk lingkungann, seperti social entrepreneur lainnya.



reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/01/gobang-gochiz-jajanan-unik-hasil-karya.html
Read More

EDY ONGKOWIJAYA, Pemilik Restoran DAPUR PENYET




Kehidupan ibarat roda yang berputar. Hal inilah yang dirasakan Edy Ongkowijaya sejak usia dini. Hidup di negeri orang telah menempa dirinya untuk kuat menghadapi ujian hidup dan mencoba mandiri.
Sejak masuk Secondari School kelas 3, tahun 1993, Edy memang tinggal di Singapura. Namun, setahun kemudian usaha otomotif milik Ayahnya bangkrut. Edy sempat diminta kembali ke Indonesia oleh orang tuanya. Hanya saja, permintaan itu tak lantas ia turuti. Ia lebih memilih berjuang mandiri, melalukan kerja apa saja asal halal, agar bisa tetap menuntut ilmu di negeri singa itu. Pekerjaan sebagai tukang cuci piring dan waiterdi restoran, sempat dilakoninya. Ia juga sempat menjadi guru les privat untuk anak SD dan SMP. Untuk tempat tinggal, ia terpaksa menumpang di rumah temannya. Tapi itu hanya berlangsung sementara saja. Ia lantas menyewa kamar kos seharga 200 dolar Singapura per bulan.

Tak ada perasaan gengsi atau minder dalam dirinya, meskipun saat itu ia melihat teman-temannya bisa hidup lebih baik darinya. Mungkin, sempat ada rasa cemburu dan marah, ketika melihat teman-teman yang sesama orang Indonesia dan bersekolah di Singapura bisa hidup foya-foya, makan kapan saja dan dimanapun mereka mau. Sementara dirinya hanya bisa makan roti tawar dan minum air pancuran yang kebetulan banyak terdapat di sisi jalan.

Untuk mengakali agar bisa makan enak, ia memanfaatkan kemampuannya yang bisa besosialisasi dengan baik dan menjadi akrab dengan pemilik kantin sekolahnya. Tiap pulang sekolah, pemilik kantin yang biasa ia sapa ?Pak Cik? suka membungkuskan sisa makanan hari itu untuk makan malam dirinya. Bila mengingat pengalaman itu, tak pelak membuat Edy selalu ingin menangis. Bayangkan saja, sejak kecil ia tidak pernah hidup susah. Ia mengibaratkan hidupnya dulu seperti madu yang rasanya manis, hingga banyak didatangi lebah. Tapi ketika ia dan keluarganya jatuh terpuruk, banyak teman yang menjauh karena takut dimintai uang. Dari pengalaman itu, ia pun jadi tahu mana teman yang sesungguhnya.

Setelah lulus SMA, teman-teman dari Indonesia-nya banyak yang meneruskan sekolah ke negara lain, seperti Amerika Serikat atau Australia. Sementara ia tidak. Anak kedua dari tiga bersaudara ini pun langsung meneruskan kuliah di Politeknik Nanyang, mengamnbil diploma jurusan marketing. Kebetulan, sekolahnya itu mendapat subsidi dari Pemerintah Singapura. Di masa kuliah itu juga, ia masih tetap terus bekerja dan bisa mengirim uang ke Indonesia untuk membantu keluarganya.

Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di perusahaan Jepang hingga kehidupannya mulai berubah dan jadi sedikit mapan. Kiriman uang untuk orang tuanya pun bisa semakin besar, bahkan ia bisa membiayai adiknya sampai menikah. Ketika bekerja, terbesit dalam pikirannya, bila ia terus bekerja di perusahaan orang lain, ia tidak akan bisa menjadi orang kaya, meskipun gajinya saat itu lumayan besar. Belum lagi, urusan kantor yang kerap membuatnya merasa bosan.

Suatu hari, di tahun 2004, ketika sedang makan di restoran Es Teler 77, ia berpikir untuk membuka usaha sejenis. Hanya saja saat itu ia belum memiliki modal. Sampai akhirnya ia bisa bertemu dengan seorang pemodal yang mau membiayainya membeli waralaba Es Teler 77. Setelah mengambil waralaba itu, ia pun mendapatkan keuntungan yang semakin besar.

Keuntungan itu ia dapatkan dari kebiasaannya yang suka bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, tak pandang bulu, termasuk kepada pelanggan restoran waralabanya. Semua pelanggan dianggapnya sama. Ternyata kebiasaan itulah yang membuat pelanggannya betah datang ke restorannya.

Karena ingin terus berkembang, akhirnya ia pun melepas waralaba Es Teler 77 dan ganti membeli waralaba Ayam Penyet Ria yang pernah dicobanya saat berkunjung ke Batam di tahun 2006. Ia memang sangat menyukai masakan berbahan ayam. Setiap pulang ke Indonesia, yang ia cari pasti masakan ayam tradisional Indonesia. Setelah membuka warung makan ayam ini, media Singapura tertarik meliput, hingga usaha keduanya ini pun semakin dikenal orang Singapura.

Pelanggan yang ingin makan di warung makannya sampai harus rela antri. Hal ini pun jadi sensasi baru bagi usahanya. Karena kesuksesan usahanya ini juga, pihak kampus tempatnya kuliah, sempat mengundangnya untuk berbagi ilmu mengenai entrepreunership.

Oleh karena ingin mandiri, dengan modal seadanya di tahun 2009 Edy memutuskan membuka usaha sendiri benama Dapur Penyet. Dan siapa sangka, apa yang ia lakukan itu ternyata diterima oleh warga Singapura. Bahkan secara tak langsung membuat ayam penyet menjadi makanan lokal di Singapura. Dengan begitu, ia telah berhasil membawa budaya Indonesia ke negara lain dan sukses. Dapur Peyet di Singapura sudah diterima berbagai kalangan, bahkan menteri Singapura pun pernah memesan catering padanya. Demikian pula pejabat Indonesia yang datang ke Singapura, juga suka memesan catering darinya.

Keberaniannya dalam mengambil kesempatan dan membuat usaha sendiri, tak lepas dari nasihat ayahnya yang sempat bilang ?lebih bagus berbuat salah tapi pernah berbuat, daripada tidak pernah salah karena tidak pernah melakukan apa-apa?. Kalimat itulah yang membuatnya berani melakukan sesuatu, termasuk dalam mengembangkan usahanya.

Di awal membuka Dapur Penyet, ia pun kerap menemui beberapa hambatan. Awalnya ia membuka outlet Dapur Penyet di food court kawasan Jurong, Singapura. Tak lama kemudian ia membuka cabang di Causeway Bay dan menyusul cabang-cabang yang lainnya. Ia pernah sampai berurusan dengan Departemen Tenaga Kerja Singapura karena dilaporkan memperkerjakan tukang masak ilegal. Padahal yang terjadi saat itu, izin kerja tukang masaknya masih dalam proses pengurusan. Ia sempat terancam masuk penjara. Namun untungnya di pengadilan ia hanya dikenakan denda 18 ribu dolar Singapura.

Kejadian itu sempat membuatnya bingung bagaimana meneruskan usahanya, karena tukang masaknya harus di deportasi. Karena bila ia mengganti dengan tukang masak lain, dikhawatirkan akan mengubah rasanya. Dari situlah, ia merasa sudah saatnya membuat sistem memasak yang benar. Di tahun pertama membuka usahanya, ia hampir ikut melakukan semua tugas, walaupun telah memiliki karyawan. Selain mengurus manajerial, ia juga bertugas di dapur, mencucui piriang, menjadi waiter, dan membuang sampah. Ia selalu katakan kepada karyawannya, ? You don?t work for me, but you work with me.?


Di tahun 2010 usaha Dapur Penyet semakin berkembang. Mulai banyak orang datang untuk membeli waralabanya. Saat ini di Singapura sudah ada delapan waralaba. Ia selalu menseleksi pembeli waralaba-nya, terutama bagi yang benar-benar serius dan bisa bekerja. Intinya, ia juga ingin membuat orang lain sukses. Karena arti kata sukses baginya adalah ketika bisa pula membuat orang lain sukses.
Tahun 2011, ia diperkenalkan seorang teman kepada orang Malaysia yang ingin membuka Dapur Penyet di Malaysia. Padahal setahun sebelumnya, ia tidak bisa masuk Malaysia karena tiga orang yang ia tawarkan untuk membeli waralaba Dapur Penyet menolaknya mentah-mentah.

Setelah pertemuan pertama itu, akhirnya Dapur Penyet muncul di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia pun sampai harus mengubah konsep Dapur penyet menjadi modern layaknya restoran fast food, di mana saat orang datang, bisa langsung pesan makanan di counter. Tak lama buka di Malaysia, usahanya pun meraup sukses yang besar. Dalam waktu dua tahun, sudah ada lima cabang Dapur Penyet di Malaysia. Lantaran makin dikenal lewat Dapur Penyet, namanya pun sekarang jadi sering dipanggil Edy Penyet.

Pada Juli 2012, seorang teman kembali mengajaknya memasukkan usahanya di Indonesia. Dan ia pun segera membuka cabang di ITC Roxy Mas, Jakarta. Tak disangka, restorannya itu pun langsung ramai. Menyusul kemudian ia membuka di Plaza Semanggi, ITC Mangga Dua, dan Mal Artha Gading, serta masih ada beberapa tempat lain yang akan dibuka Dapur Penyet. Di Indonesia nama Dapur Penyet diubahnya menjadi D?Penyet.




Tak berhenti di situ, tawaran lain pun datang dari negara lain seperti Australia, Hongkong, dan Thailand. Hanya saja, tawaran itu perlu dipikirkannya secara panjang. Karena dalam menjalankan usahanya, Edy selalu turun tangan sendiri jika menemukan masalah. Maka itu, ia berpikir, jika membuka cabang di tiga negara itu, bagaimana caranya ia bisa ke sana, bila menemukan masalah, karena dengan cabang-cabang yang ada di tiga negara saja, ia sudah cukup kerepotan. Belum lagi soal pengiriman bahan-bahannya. Tapi Edy tetap yakin suatu saat pasti bisa membuka cabang di tiga negara itu, asal sistemnya sudah dibuat rapih terlebih dahulu.


Walau lama di luar negeri, ia tidak akan pernah lupa, tempat asal kelahirannya. Untuk itu di setiap cabang Dapur Penyet di luar negeri, ia selalu memajang wall paper yang bergambar kekayaan budaya di Indonesia.

Rencana ke depannya, ia ingin terus mengembangkan Dapur Penyet hingga ke Eropa. Pernah ada pelanggan di Singapura yang asal Belanda, memesan 30 empal untuk dibawa ke Belanda. Pelanggan itu bilang, empal buatannya sangat lezat. Ia memang bermimpi, ingin membawa brand Dapur Penyet ini mendunia. Ia sadar, bahwa mempertahankan lebih susah dibanding merebut. Untuk itu sampai sekarang ia masih terus membangun sistem marketing-nya.

Selain itu, Edy juga ingin membuat yayasan untuk anak-anak. Sebab ia selalu ingat akan masa lalunya. Dengan yayasan itu, ia berharap bisa menyekolahkan anak-anak yang ingin sekolah tapi tak punya biaya.
Edy pun juga bermimpi ingin membuat perusahaan rekaman. Ternyata selain mengelola Dapur Penyet, di tahun 2007 ia juga membangun usaha event organizer. Ia sempat mendatangkan grup band Peter Pan ke Singapura. Ternyata acara itu sukses. Dan sejak itu setahun sekali ia mengusahakan membuat konser di Singapura. Berturut-turut setelah itu, di tahun 2008 ia mendatangkan grup band Samson, tahun 2009 giliran band Ungu, tahun 2010 ia datangkan penyanyi Rossa. Dan ditahun 2013 ia menggelar konser mega bintang yang menampilan delapan artis Indonesia dalam satu panggung di Compass Balroom, Resort World Convention Centre, Pulau Sentosa, Singapura.



amura courier
: layanan jasa kurir untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Cepat, professional, dan bertanggung jawab. Tlp & sms : 085695138867




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2013/08/edy-ongkowijaya-pemilik-restoran-dapur.html
Read More

Thursday, February 4, 2016

MAKALATE : Cokelat Asli Dari Makassar Dengan Berbagai Varian




Bila sempat menginjakkan kaki ke kota Makassar, sebaiknya para penggemar cokelat tak melewatkan kesempatan untuk mencicipi cokelat olahan asli Sulawesi. Kini semakin banyak produk olahan cokelat yang ditawarkan dengan berbagai rasa. Sebagian wisatawan merasa wajib membawa oleh-oleh colelat. Peluang mencicipi manisnya bisnis cokelat pun terbuka lebar. Bagi Irwan Miri, pemilik Makalate, berbisnis dan mengenalkan produk cokelat asal Sulawesi menjadi motivasi utamanya. Menurutnya, Makalate (kepanjangan dari Makassar Chocolate) juga bisa menjadi oleh-oleh khas Sulawesi. Irwan memproduksi Makalate di rumahnya yang sederhana di kawasan Jalan Sungai Saddang 3 Lorong Berkah, Makassar. Dalam sehari, ia kini bisa memproduksi tak kurang dari 70 kilogram cokelat Makalate.

Usaha yang dirintis sejak 2008, memasuki tahun ke enam, Makalate pun semakin berkembang. Kini Makalate bisa didapatkan di setiap kota besar dan sudah memg-cover penjualan di 1000 sekolah dari tingkat SD sampai SMU di kota Makassar. Awalnya, Irwan melihat potensi besar hasil kakao yang melimpah di Sulawesi. Ia pun tergelitik mencoba berbisnis olahan cokelat. Awal usaha sejak 1 Agustus 2008, ia ke toko buku membeli panduan membuat cokelat. Setelah ia pelajari, kemudian langsung dicobanya. Dengan modal Rp 25.000, ia membeli 1 kilogram cokelat yang kemudian coba diolah sesuai panduan di buku dan CD yang ia beli. Hasil pertama kalinya itu boleh dibilang gagal. Tapi walaupun begitu karena bentuk cetakannya menarik, cokelat gagal itu pun ternyata laku juga dibeli murid SD yang pulang sekolah.

Keesokan harinya, Irwan pun jemput bola menawarkan cokelat tangkai olahannya ke sekolah-sekolah di lingkungan rumahnya. Dan benar saja, perlahan cokelat Irwan semakin laris manis. Tiap hari cokelat yang ia olah pun semakin banyak. Keuntungannya semakin besar, berkali lipat dari modal yang ia keluarkan. Beruntungnya, peluang bisnis ini di kota Makassar pun masih besar, apalagi peminat cokelat juga banyak. Cokelat juga tidak ada masa habisnya, diminati semua orang dan semua kalangan.



Melihat pasar yang semakin bagus, Irwan langsung membuat inovasi mengembangkan produk cokelat ke segmen remaja. Agar bisa menyasar remaja, ia pun membuat cokelat batang dengan varian milk chocolate, dark chocolate, serta white chocolate. Untuk menambah varian produk, ia juga membuat bar kecil dengan rasa buah. Harganya mulai Rp 5000 hingga Rp 30.000. Strategi yang dibuat Irwan berhasil. Respons yang diterima sangat bagus. Produk Makalate pun mulai dilirik instansi pemerintah, dan ia diajak berpromosi lewat pameran. Akhirnya, ia pun jadi keterusan mengikuti event pameran. Dari situ ia bisa keliling Indonesia. Apalagi, Makalate juga diundang datang ke agenda bergengsi Cocoa Day setiap tahun. Semua produsen cokelat hadir dan unjuk gigi di sana. Beruntungnya, stan Makalate selalu penuh, karena punya cita rasa dan aroma yang berbeda. Apalagi harganya juga lebih ramah.

Kini, cokelat Makalate memiliki lebih dari 20 varian, mulai cokelat sugar free yang ditujukan bagi penderita diabetes dan penderita jantung dengan kadar cokelat yang beragam mulai dari 45%, 50%, 72%, 80%. Makalate juga punya produk unggulan dan premium yaitu varian 99%. Produk ini yang paling laris diminati ekspatriat. Rasa cokelat aslinya benar-benar terasa, harganya hanya Rp 40.000. Ini bisa jadi unggulan karena merupakan hasil produksi rumah tangga, jadi masih bisa dibuat dalam jumlah tertentu. Sedangkan kalau perusahaan besar pasti akan merugi kalau membuat 99%. Mereka tentu memilih mengolah dengan berbagai campuran. Pernah, Irwan berhasil menjual cokelat Makalete sebanyak 150 kilo hanya dalam waktu setengah hari. Bahkan, waktu mengikuti event di Senggigi, banyak ekspatriat yang memiliki resort di sana datang dan langsung tertarik membeli. Dalam hitungan jam cokelat sudah habis. Menurut cerita, para ekspatriat ini pun ingin menjadikan cokelat Makalete sebagai suvenir sekaligus ikut memperkenalkan cokelat Sulawesi.

Diakui oleh Irwan bahwa pasar Makalete yang paling besar ada di Jakarta. Ia juga menerapkan sistem, pesan minimal 10 maka gratis ongkos kirim ke mana saja. Karena toh hitungannya 10 pieces itu memang 1 kilogram. Ini juga menjadi nilai plus produk Makalate. Irwan memang tidak membuat sistem yang rumit. Setiap orang boleh bergabung menjadi reseller atau agen. Karena ia sadar, untuk memasarkan usahanya sendirian memang susah. Apalagi sifatnya manusia itu adalah terus berinteraksi dan bersosial, jadi soal rezeki pun sudah ada bagiannya. Ia juga menerima mahasiswa magang dari Politeknik Pertanian. Tidak ada rahasia perusahaan. Kalau ada yang tertarik membuat dan bisa menjadi bekal usaha sendiri, tidak masalah. Ia justru senang bila banyak yang tertarik mengembangkan produk olahan colekat Sulawesi. Irwan berprinsip, rezeki yang bisa ia hasilkan, tetap dibagikan saja. Karena semakin banyak diberikan maka tentu akan semakin banyak yang juga didapatkan.

Untuk kemasan, Irwan memiliki trik mensiasati agar dapat menghemat biaya. Rata-rata kemasannya ia buat sendiri. Hanya 10% saja yang dibuat dipercetakan. Apalagi sekarang ia sudah memiliki printer sendiri, jadi dana untuk kemasan bisa disiasati. Rencana ke depan, Irwan yang kini memiliki 10 karyawan, mengaku ingin memiliki galeri agar pelanggan bisa bertransaksi dengan nyaman. Awalnya ia memang hanya ingin mempertahankan tempat sederhana di rumahnya ini karena memang di sinilah cikal bakal Makalate. Selain itu ia juga ingin memberikan motivasi kepada yang lain bahwa lokasi tidak menjadi hambatan untuk bisa membuat produk berkualitas. Tapi karena peminatnya terus bertambah, tempat yang ia punya sekarang memang tidak cukup. Dan ia ingin memberikan pelayanan ekstra ke pelanggan dengan tempat yang nyaman.


makalate

"the best chocolate quality"
jika ingin memesan silahkan hubungi : 082187538495 (Irwan Miri)
ket : untuk wilayah Makassar (Sulawesi Selatan)
https://twitter.com/makalate





reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/06/makalate-cokelat-asli-dari-makassar.html
Read More