Saturday, January 23, 2016

BERKAH KUIRIR, Layanan Kurir 24 Jam Wilayah Jakarta





Siapa bilang ibu rumah tangga tak bisa mengelola bisnis kurir yang biasanya didominasi kaum pria ? Menganggap penyedia jasa kurir adalah lahan bisnis yang masih prospektif, Tirolia Dumasari pun mencoba menekuni usaha tersebut bersama suaminya. Mulanya Sari bekerja di perusahaan kurir yang bernama Gatot Koco, milik kakaknya. Kemudian, ketika usaha tersebut sempat meredup ia pun coba membenahi manajemen dan sistem yang ada, serta mengganti nama usahanya menjadi Berkah Kurir. Idenya bermula untuk mengakomodir keperluan para bakul kue mengirim kue pesanan mereka pada para pelanggannya.

Awalnya, Sari turut andil bersama suami dan satu orang pegawai untuk mengantar jemput barang. Mereka menggunakan perangkat seperti boks serta freezer yang sesuai untuk berbagai ukuran kue. Untuk tenaga kurir sendiri, Sari menerapkan sistem yag fleksibel. Ada kurir yang sudah bergabung di usahanya sejak awal berdiri. Lainnya, jika order sedang banyak sekali, ia memakai tenaga kurir freelance yang sudah terbiasa bekerja sama dengan Berkah Kurir. Di antara mereka ada yang masih mahasiswa, dan ada juga karyawan yang mencari uang tambahan dengan menjadi kurir di akhir pekan.

Sari pun masih siaga membantu suami dan kurirnya untuk mengantar jemput barang, terutama bila ada barang yang sifatnya harus diantar pakai mobil, karena ia sendiri memang tidak bisa membawa motor. Jadi, biasanya setelah menjemput anaknya pulang sekolah, ia bisa sekalian mengambil dan mengantar barang. Yang menyenangkan, usaha kurir yang terletak di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur ini, juga menyediakan layanan yang sangat personal. Misalnya, ada pelanggan yang ponselnya atau dokumen pekerjaannya ketinggalan di rumah. Mereka bisa minta diambilkan lalu diantar ke kantornya.

Lama berkecimpung dalam bisnis jasa kurir, Sari pun menemukan celah yang menjadi unggulan bisnisnya. Menurutnya, saat ini masyarakat ibukota memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Berbagai acara bisa dilakukan kapan saja. Tak jarang acara ulang tahun kerap diadakan pada tengah malam atau dini hari. Melihat hal itu, Sari mencoba merebut simpati klien dengan melayani jasa pesanan kurir hingga di luar jam yang lazim. Jadi, Berkah Kurir siap mengambil barang atau mengirim kue ulang tahun pada pukul 01.00 atau 03.00 dini hari. Selama ini, jam kerja kurir biasanya hanya dari pagi hingga sore. Selebihnya, sudah tidak bisa melayani pengiriman. Di situlah, Sari melihat ternyata banyak sekali orang yang memerlukan kue pesanannya tiba pada saat malam hari.

Kini, Berkah Kurir justru dikenal sebagai kurir 24 jam yang siaga melayani hingga malam maupun dini hari. Biasanya, bila kurir dari perusahaan lain sudah tidak terima antar jemput saat malam hari, pelanggannya akan order ke Berkah Kurir. Sari menceritakan, ia pernah mengambil kue pada pukul 00.00 malam untuk diantar pukul 05.00 pagi. Bila rentang waktunya seperti itu, kue tersebut akan disimpan dulu dalam freezer. Sari mematok biaya Rp 65.000-Rp 85.000 untuk pengiriman di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara jika harus menggunakan mobil, biayanya berkisar Rp 200 ? 250 ribu.

Sepanjang ia berbisnis, Sari pun belajar banyak soal pengemasan barang yang akan dikirim. Jika pengiriman sedang padat, ia akan menggunakan boks yang sudah dimodifikasi di bagian dasarnya dengan aluminium foil dan es batu, agar kue tetap dalam suhu dingin. Untuk beberapa jenis cakememang tidak bisa sembarang kirim. Karena suhu di Jakarta sering panas sekali, maka ia harus bisa menyediakan boks yang memiliki cooler.


Contact :
Pin
BB : 267E6972
telp : 081513895426


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/12/berkah-kuirir-layanan-kurir-24-jam.html
Read More

ANE YARINA CHRISTY dan NANANG SYAIFURROQI, mengembangkan bisnis kreatif bernuansa warna-warni melalui RUMAH WARNA




Memulai bisnis sejak usia muda, pasangan suami-istri Nanang Syaifurroqi dan Ane Yarina Christy sukses mengembangkan bisnis kreatif lewat bendera Rumah Warna. Mereka menyasar pasar remaja putri, dunia yang penuh warna. Itu sebabnya, mereka membuat 6 gerai di kawasan Yogyakarta dengan suasana warna-warni khas keceriaan remaja. Berkat sistem waralaba yang mereka kembangkan pula, Rumah Warna kini punya 70 gerai di berbagai kota di Indonesia.

Tentu bukan perkara mudah mencapai kesuksesan. Butuh kerja keras, kreatif, fokus pada usaha, dan pantang menyerah. Dikisahkan Ane, ia memulai usaha di usia 20 tahun saat masih kuliah di Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada (UGM). Kala itu di tahun 1999, ia bekerja bersama kakak kelasnya sekaligus sang kekasih, Nanang, yang kini jadi suaminya.

Awalnya ia membuat bingkai foto. Ketika belum ada kamera digital, ia melihat banyak foto yang digeletakkan begitu saja atau dimasukkan ke album foto. Kalaupun ada yang ditaruh di bingkai foto, menurutnya modelnya teramat biasa dan bentuknya sederhana. Ide kreatif Ane pun muncul. Ia membuat bingkai foto yang dipercantik warna-warni yang girly. Pas untuk remaja putri. Ternyata, banyak teman yang suka. Awalnya satu orang, tapi lama kelamaan banyak teman yang minta dibuatkan. Mereka tak keberatan membeli frame foto buatan Ane.




Ane yang semula membuat frame foto sekedar hobi, menangkap peluang bagus. Kreasinya bisa menjadi lahan bisnis. Dari teman, pelan-pelan permintaan terus bertambah. Salah satu teman bahkan merekomendasikannya untuk buka lapak di acara Sunday Morning di kawasan lembah UGM. Sunday Morning adalah sejenis pasar kaget tiap minggu pagi di kawasan kampus UGM. Kini acara yang sering disingkat Sunmor itu makin meriah dan ramai pengunjung. Para pedagang menggelar dagangan di sepanjang jalan area lembah UGM sejak pagi hingga siang. Ane selalu jualan di acara Sunmor itu. Dan sejak tahun 2000 ia juga rajin ikut pameran di Festival Kesenian Yogyakarta. Kala itu, ia masih fokus membuat frame foto.

Pasangan Ane dan Nanang pun terus berusaha mengembangkan pasar. Masih di bisnis pigura, mereka lalu membidik pasar di luar negeri. Ane telah mengekspor karyanya ke Yunani, Spanyol, dan Jepang. Setahun mengembangkan pasar ekspor, Ane melakukan evaluasi. Ia merasa pasar ekspor tak bisa maksimal akibat berbagai kendala, seperti perizinan dan quality control. Namun gairah kreativitas membuatnya mencari solusi untuk memecahkan masalah. Dari evaluasi yang ia lakukan ketika melakukan ekspor, ternyata ia jadi kurang konsentrasi ke pasar dalam negeri. Padahal, pasar lokal sebenarnya besar sekali. Ia pun menghentikan ekspor dan fokus ke pasar dalam negeri saja. Bersama Nanang, ia berembuk dan memutuskan membuka toko di kawasan Ring Road Utara, kawasan Sleman.




Ane lalu memberi nama usahanya Rumah Warna, tempat penuh warna bagi para remaja putri. Di sini ia semakin mengembangkan produknya. Tak hanya frame foto, sejak 2002 Rumah Warna juga mengembangkan produk dompet dan tas. Konsepnya masih tetap girly. Ia juga bekerja sama dengan UKM di Yogyakarta dan sekitarnya. Selanjutnya, makin banyak yang melirik usahanya. Lalu terbitlah konsep waralaba. Ia dan Nanang menyewa ahli konsultan bisnis. Akhirnya, Rumah Warna pun mereka waralabakan.

Dengan sistem waralaba, penetrasi pasar jadi semakin cepat. Apalagi, Ane dan Nanang sangat kreatif. Mereka bahkan pernah membuat gebrakan dengan meluncurkan 15 gerai di berbagai kota sekaligus. Berbekal beragam kreativitas dan fokus pada usaha, Rumah Warna pun makin berkembang. Ane masih ingat, semasa mengawali usaha ia bekerja sendiri. Lalu dibantu beberapa karyawan, dan kini Rumah Warna sudah mempunyai 200 karyawan. Ia juga bekerja sama dengan sekitar 30 UKM di Yogyakarta dan sekitarnya. Tentu saja produknya harus sesuai dengan konsep Rumah Warna. Ane pun makin merapikan manajemen usahanya di tahun 2004.




Ane dan Nanang kini telah membuat puluhan produk, dari handicraft, box, scrapbook, sampai bantal lucu. Namun kini produk utama mereka adalah tas. Mereka pun juga menjual produknya lewat Facebook. Selain waralaba, untuk mempercepat bisnisnya, Rumah Warna belakangan ini membuat program direct selling. Lalu mereka juga membuat program baru bernama Super Stars. Konsepnya adalah, bahwa semua orang bisa berjualan tanpa harus terkendala modal. Untuk waralaba modalnya memang mahal, sekitar Rp 200 jutaan. Nah, dengan program baru ini, tak perlu modal besar untuk memulai usaha. Dari sini mereka ingin semakin banyak entrepreneurmuda yang berkembang bersama Rumah Warna.






















Contact :
Head Office
JL. Kemuning No.17 Sawitsari,
Condongcatur, Depok,
Sleman, Yogyakarta.
Office Phone
Call for Office
+62 (274) 884 816 (08.00AM ? 04.00PM)

Hotline Service
Phone1 : +6281229887781
Phone2 : +6288806001164




____________________________
advetorial :

MENERIMA LAYANAN JASA KURIR, ANTAR BARANG, PAKET MAKANAN, DOKUMEN, DAN LAIN-LAIN UNTUK WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYAKLIK DI SINI


BOLU KUKUS KETAN ITEM, Oleh-Oleh Jakarta, Cemilan Nikmat dan Lezat, Teman Ngeteh Paling Istimewa, Bikin Ketagihan
!! Pesan sekarang di 085695138867 atau KLIK DI SINI




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/04/ane-yarina-christy-dan-nanang.html
Read More

AGUSTINA DWI KURNIAWATI : Bisnis Kuliner Online Dari Rajin Berbagi Resep Di Blog




Bagi yang gemar berselancar soal kuliner di dunia maya, bisa mencari nama Agustina Dwi Kurniawati. Di blog-nya catatan-nina.blogspot.com, ibu dua anak ini meng-upload ratusan jenis masakan dan kue tradisional sampai modern. Yang patut diacungi jempol, dia juga berusaha memvisualkan hasil masakannya sebagus mungkin layaknya food fotographer profesional. Padahal, wanita tamatan Fakultas Peternakan ini tak menduga bakal bisa menekuni food blogger seperti saat ini. Bahkan, temannya semasa sekolah nyaris tak percaya kalau ia sekarang bisa memasak. Karena saat remaja, Nina mengaku tidak pernah menginjak dapur.

Nina, yang tinggal di Jl. Pahlawan, Pare, Kediri, Jawa Timur ini, mulai belajar memasak lantaran ingin memenuhi keinginan Rosie, suaminya yang kebetulan gemar menikmati makanan dan cemilan. Demi memenuhi keinginan suami, Nina mulai mencoba belajar dengan melihat resep-resep di internet. Tak hanya dari dalam negeri, ia juga rajin membuka-buka resep yang berasal dari luar negeri. Resep-resep kue itu kemudian ia contek dan dipraktikkan di dapur rumahnya. Nina mengaku, namanya juga belajar, kadang usahanya berhasil tapi kadang juga gagal. Namun apa pun hasilnya tetap dinikmati bersama keluarganya.



Setelah berkelana menjelajahi kuliner dunia maya, Nina yang biasa memasak di sore hari ini, makin menyadari betapa menarik dan beragamnya kuliner Nusantara. Ia jadi paham berbagai masakan daerah yang selama ini tidak dikenalnya. Wawasannya tentang masak-memasak makin berkembang setelah bergabung dengan komunitas Natural Cooking Club yang didirikan Fatmah Bahalwan. Semua resep yang ia dapatkan selalu ia praktikkan sampai berhasil. Nina pun semakin terpacu untuk belajar ketika komunitasnya di Facebook juga saling adu kemampuan praktik membuat makanan atau kue. Hasil uji dapurnya selalu ia foto, kemudian diunggah ke Facebook lengkap dengan resepnya. Memang tidak ada hadiahnya, tapi dengan mendapatkan banyak komentar saja, sudah membuat Nina merasa senang sekali.

Tahun 2011, Nina yang awalnya memotret hanya menggunakan kamera ponsel ini, berpikir untuk meng-upload semua karyanya dalam sebuah blog yang diberi nama catatan-nina.blogspot.com. Selama ini, setelah mengunggah foto hasil masakan di FB, ia selalu kebanjiran pertanyaan cara membuat sekaligus bahan resep yang digunakan. Maka dari pada capek menjawab, sekalian saja ia buatkan blog khusus. Di sana selain foto, ia juga menulis resep dan cara pembuatannya. Pada dasarnya, Nina memang karakter wanita yang selalu ingin berkembang. Tak puas dengan hasil foto dari kamera ponsel, tak tanggung-tanggung ia membeli kamera jenis SLR yang canggih dengan kualitas gambar lebih bagus. Karena sebelumnya tidak pernah tahu dunia fotografi, kamera baru itu memaksanya untuk belajar sendiri tanpa bantuan siapa pun. Beruntung, walau hasilnya tidak bagus sekali, akhirnya ia bisa mengetahui dasar-dasar memotret produk.



Berkat konsistensinya berbagi aneka jenis kuliner di blog, namanya pun kini mulai dikenal di kalangan pengguna internet di daerahnya. Sejak itu, banyak yang datang untuk memesan kue atau makanan. Meski awalnya kurang percaya diri, Nina yang juga pernah belajar menghias cakelewat internet ini pun, memberanikan diri menerima pesanan. Sukses menerima pesanan, wanita yang sehari-hari membantu suaminya di usaha peternakan ini, makin rajin belajar resep-resep baru. Bahkan, ia mulai berani berimprovisasi mengembangkan resep sendiri. Ia memadukan satu bahan kue dengan bahan lainnya. Dan sekarang, Nina bersyukur makin banyak pesanan yang ia terima. Nina sendiri sampai saat ini sudah mengunggah sekitar 750 resep di blognya.


Contact Nina :
SMS/WA : 08123189635
(0354) 398374, 395090
Menerima Pesanan Untuk Wilayah Kediri dan Sekitarnya


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/12/agustina-dwi-kurniawati-bisnis-kuliner.html
Read More

DANTO SUSANTO : Pemilik Rumah Makan WAROENG POHON, Melestarikan Budaya Kenduri Di Masa Lalu




Pasang surut berbisnis kerajinan batu tak membuat Danto Susanto patah arang. Setelah terpaksa mem-PHK 200 orang karyawannya, ia kemudian banting setir dan memulai usaha kuliner : Waroeng Pohon. Pasalnya, ia harus menghidupi istri dan kedua anak serta beberapa karyawan yang tetap setia bekerja padanya. Waktu itu Juli 2003, awalnya Danto terinspirasi tempat-tempat kuliner yang walaupun lokasinya di pelosok, tetapi selalu diburu orang. Kebetulan, Danto seorang biker yang hobi berburu kuliner. Berdasarkan kesimpulannya, asalkan memiliki keunikan, kuliner apa pun akan diburu orang.

Merasa memiliki modal keunikan untuk membuka usaha kuliner, Danto sepakat dengan sang istri, Siti, untuk memanfaatkan halaman belakang rumahnya yang luas dan ditumbuhi aneka pepohonan. Di areal itu tumbuh berbagai jenis pepohonan, mulai pandan pantai hingga kelapa. Sebelum berdiri rumah makan, selain halamannya yang memang sudah rimbun, juga sudah terdapat rumah-rumahan berdinding dan berlantai batu.


Dengan bantuan sang ibu mertua, Danto melakukan eksperimen mengolah ayam kampung. Ia jujur, tidak bisa masak, tapi bisa merasakan masakan mana yang pas di lidah. Kebetulan, ibu mertuanya pandai memasak ingkung, menu khas kenduri zaman dulu. Danto pun meminta sang ibu mertua untuk membuat ingkung. Setelah yakin dengan rasanya, ia segera me-launching rumah makannya. Belum genap setahun berdiri, warungnya sudah banyak dikunjungi pelanggan dari berbagai kota. Di awal berdiri, Danto dan sang istri melakukan promosi dengan mengundang rekan-rekannya berbuka bersama di halaman belakang rumahnya itu. Dari sana, kabar dibukanya Waroeng Pohon pun mulai menyebar di media sosial. Sejak itu, tamu mulai berdatangan. Bahkan sekarang, Darto sering mendapat pesanan ingkung untuk dikirim ke Jakarta.

Waroeng Pohon kini tak pernah sepi pengunjung. Bahkan, jika berniat datang dengan rombongan, pengunjung sebaiknya memesan tempat lebih dulu. Karena sudah bisa dipastikan, setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu, tempat ini selalu full. Bahkan terkadang tamu kerap menunggu di depan pintu masuk. Menu Waroeng Pohon antara lain Nasi Sarang yang bisa disantap 4 orang. Selain nasi putih, ada ingkung (ayam utuh berasa gurih) berikut pelengkapnya berupa sambal kacang, sambal gepeng dan lalapan. Penyajiannya unik dengan menggunakan anyaman daun kelapa. Nasi Sarang merupakan nasi tradisi kenduri di desa. Sengaja Danto menyajikan menu ini untuk melestarikan budaya kenduri di masa lalu yang mulai tergerus zaman.


Selain menu utama, Danto juga melengkapi menunya dengan aneka minuman dan menu pendukung, mulai dari ikan nila, ayam bakar, mi hingga kentang goreng yang amat disukai anak muda. Banyak pelajar dan mahasiswa yang juga suka datang. Danto memang sengaja mendesain restorannya ini untuk semua kalangan. Dengan uang Rp 15.000 saja sudah bisa makan di tempatnya. Melihat respons masyarakat yang begitu besar, membuat Danto dan Siti kini berniat membuka cabang yang lokasinya tak jauh dari Waroeng Pohon saat ini. Mereka akan menamakannya Waroeng Pohon Kampung Sebelah, karena memang lokasinya berada di sebelah kampung tempat Waroeng Pohon sekarang berada.


WAROENG POHON



Jl. Parangtritis Km 6, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

+62 274 445625




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/03/danto-susanto-pemilik-rumah-makan.html
Read More