Wednesday, February 3, 2016

KUCH2HOTAHU, PRODUK CEMILAN YANG MURAH, BERKUALITAS, AMAN, DAN DISUKAI SEMUA KALANGAN.




Sejak 2011, Kuch2HoTahuN didirikan oleh Herman Susilo dan Itidas. Dua sahabat ini berkeinginan menciptakan produk cemilan yang murah, berkualitas, aman, dan dapat menjadi alternatif jajanan yang disukai semua kalangan. Selain itu, mereka juga ingin membantu menciptakan lapangan usaha baru dengan menyerap tenaga kerja lokal melalui sistem kemitraan. Dengan melakukan inovasi produk dan rasa, sengaja mereka memilih produk yang bahan dasarnya mudah didapatkan di mana saja.

Di mulai di Kudus, saat itu mereka membuka 10 outlet di Kudus, Semarang, dan Jakarta. Responsnya ternyata sangat bagus. Kemudian berkembang ke seluruh kota di Indonesia dari Aceh sampai Papua. Siapa sangka, jika kemudian Kuch2HoTahu mendapat penghargaan bergengsi di bidang franchise, yakni Fastest Growing Franchise 2012, Market Leader Franchise 2012, dan Anugerah Wirausaha Indonesia 2013. Semua itu mereka raih berkat kerjasama seluruh mitra, master franchise, pegawai, dan karyawan yang mereka miliki. Serta kecintaan segenap pelanggan setia Kuch2HoTahu.




Waralaba adalah sebuah usaha dengan modal kecil yang mudah dijalankan siapa saja. Tak perlu keahlian khusus, cepat balik modal, bahan bakunya mudah didapat, dan produknya disukai semua orang dan usia. Beruntung, Herman memiliki rekan yang memang sudah memiliki pengalaman dalam bidang usaha. Itidas sudah lama dikenal sebagai pengusaha muda dari Kudus. Banyak bidang usaha sudah digelutinya. Dari usaha decoration, salon & spa, properti, hingga akhirnya terjun ke dunia kuliner. Itidas juga dikenal sebagai konsultan internet marketing dan pembicara di berbagai seminar SEO (Search Engine Optimization) dan SMO (Social Media Optimization).

Dengan modal awal Rp 100 juta, saat ini secara keseluruhan mereka sudah memiliki 600 outlet di seluruh Indonesia. Usaha ini mampu menyerap sekitar 1000 orang tenaga kerja. Total perputaran omzet mencapai Rp 2 miliar per bulan. Setelah usahanya mulai berkembang, mereka pun mulai menerima banyak permintaan kerja sama. mereka memang berkeinginan membagi pengalaman dan peluang bisnis kepada semua orang. Sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat dan menyerap tenaga kerja lokal.

Bagi yang ingin memiliki waralaba Kuch2HoTahu, mereka menawarkan investasi yang ringan saja. Hanya Rp 8,5 juta (Jawa) dan Rp 9,5 juta (luar Jawa), para calon mitra sudah mendapatkan paket usaha yang lengkap dari lisensi merek, booth atau gerobak, cooking set, starterkitpanduan bisnis, serta training. Juga media promosi lengkap, marketing supportsecara kontinyu, serta paket awal bahan baku gratis.




Agar usahanya terus maju, Herman dan Itidas sudah memiliki berbagai rencana. Mereka akan tetap concern pada kualitas produk, pelayanan, inovasi, dan strategi pemasaran yang tepat, termasuk penggunaan teknologi internet. Serta selalu fokus pada gambaran besar agar Kuch2HoTahu selalu di hati peminatnya dan bisa menjadi salah satu franchisee terbesar dan tersebar di seluruh Indonesia.

Herman dan Itidas pun menggandeng pelaku industri tahu lokal yang tersebar di tiap-tiap daerah. Mereka juga sudah memiliki fasilitas pabrik untuk memproduksi drymix powder (seasoning dan tepung cooking). Sengaja mereka memilih Kudus sebagai home base operasional supaya dapat membantu pemerataan ekonomi nasional yang tidak hanya terkonsentrasi di kota besar saja. Termasuk dalam hal ini, mereka juga membina pekerja lokal dengan sistem plasma untuk memproduksi berbagai merchandise Kuch2HoTahu. Misalnya, kemasan branded, kaus seragam, atribut waitress, tas, dompet, topi, aneka ragam suvenir khas, dan para pekerja kreatif pengembang aplikasi games Android, serta web designing.

Berbicara soal waktu dan kesibukan, Herman dan Itidas bersyukur kini mereka memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dan bisnis. Waktu dan energi mereka tak tersita di jalanan yang macet seperti di Jakarta atau kota besar lainnya. Bahkan mereka bisa bekerja dari rumah, memantau pekerjaan dan berkomunikasi intens secara online, baik dengan tim maupun rekanan bisnis.

Marketing officeKuch2HoTahu berada di Cibubur, wilayah di sebelah selatan Outer Ringroad Jakarta. Lokasinya mudah dijangkau, bebas macet dan bebas banjir. Sedangkan operational office, pabrik, dan distribution center terpusat di Kudus, Jawa Tengah, yang secara demografis sangat strategis untuk menjangkau seluruh kawasan barat dan timur Indonesia. Tak hanya itu, mereka juga memiliki 12 master stockist yang tersebar di hampir seluruh pulau di Indonesia, yang menjamin ketersediaan stock bahan baku dan bahan pendukungnya.


















Kontak Kami

BUKIT GOLF - ARCADIA E6/3A
CIBUBUR RIVERSIDE
CIBUBUR JAKARTA 16963
0853 1700 6007(Telkomsel)
0856 0800 2007(Indosat)
0857 4311 4560 (In dosat)
0812 1980 6009 (Telkomsel)
0878 8365 2007 (XL)
Email : kuch2hotahu@gmail.com


____________________________
advetorial :

MENERIMA LAYANAN JASA KURIR, ANTAR BARANG, PAKET MAKANAN, DOKUMEN, DAN LAIN-LAIN UNTUK WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYAKLIK DI SINI

BOLU KUKUS KETAN ITEM, Oleh-Oleh Jakarta, Cemilan Nikmat dan Lezat, Teman Ngeteh Paling Istimewa, Bikin Ketagihan !! Pesan sekarang di 085695138867 atau KLIK DI SINI




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/04/kuch2hotahu-produk-cemilan-yang-murah.html
Read More

KISAH PENGRAJIN SONGKET BATUBARA - SUMATERA UTARA




Songket, kain tenun tradisional masyarakat Melayu ini sudah dikenal sejak lama. Songket yang dikenakan pada acara-acara resmi masyarakat Melayu ini berasal dari kata ?sungkit? yang berarti mencungkil atau mengait. Berbeda dengan daerah lain, Songket Batubara yang merupakan produk tekstil dari Kabupaten Batubara, Sumatera Utara memiliki berbagai kombinasi warna yang menarik. Tak heran jika kemudian para pengrajin songket asal Batubara banyak menerima pesanan dari mancanegara, terutama Malaysia, Brunei dan Singapura.

Hal inilah yang diakui Azhar Abdullah, yang sudah mulai membuat songket sejak tahun 1977. Azhar mengaku, belajar menenun songket secara turun temurun. Songket Batubara yang dibuatnya, sudah diakui kualitasnya, bahkan tak jarang ia mendapat pesanan dari keluarga Raja Malaysia dan Sultan Brunei. Menurut Azhar, Raja Malaysia biasa memesan motif cempaka dengan bahan dasar benang warna hitam dan motifnya warna emas. Sementara Sultan Brunei memesan motif Tampuk Manggis.



Satu keunggulan songket Batubara menurut Azhar adalah motifnya yang sangat banyak dan beragam, mungkin jumlahnya bisa mencapai ratusan. Di antaranya cempaka, bunga mentolas, bunga melati, bunga mawar, pucuk rebung, pucuk pandan, dan lain-lain. Walau tidak ada catatannya, Azhar mengaku masih hafal semua motif dan bagaimana membuat polanya. Tak mudah membuat selembar songket, menurut pria berkacamata ini. Butuh waktu bertahun-tahun. Mungkin kalau belajar menenun saja bisa cepat, tapi membuat polanya yang membutuhkan waktu. Menurut anak kelima dari sembilan bersaudara ini, dari semua saudaranya, hanya dirinya yang masih bisa membuat pola.

Hasil tenunan Azhar kini sudah dipasarkan di 10 negara. Bahkan satu songket buatannya telah dipajang di salah satu museum di Belanda. Walau begitu, Azhar menyediakan beragam songket dari mulai harga Rp 350.000 sampai Rp 65 juta. Yang menjadikan songket buatannya mahal adalah, karena terbuat dari benang sutera, emas dan perak. Untuk mencari bahan bakunya dan membuatnya juga susah. Menurut pria yang kini memiliki 100 orang karyawan ini, bila memakai bahan sutera bisa sampai dua bulan proses pengerjaannya. Diakui Azhar, saat ini jumlah pengrajin yang sedikit membuat pesanan tidak semua dapat dipenuhi. Biasanya jelang akhir tahun banyak orang seperti dari Tapanuli, Karo dan Simalungun yang mencari songket. Pesanan baru sepi pada bulan Juni dan Juli, mungkin karena memasuki tahun ajaran baru.



Selain Azhar, pengrajin songket Batubara yang lain adalah Yusnah. Ia mengaku sudah belajar menenun songket sejak kelas tiga SD. Menurutnya, songket Batubara memiliki tekstur yang lembut, ringan, tidak luntur sehingga lebih nyaman dipakai. Songket Batubara juga dikenal unik karena cenderung menggunakan warna cerah, seperti merah, kuning, hijau, biru, dan ungu. Kualitas kainnya pun bisa dibilang unggul, karena proses pembuatannya masih menggunakan alat tenun dari kayu dengan teknik tradisional.

Sayangnya, dokumentasi asal usul songket Batubara hingga kini masih belum diketahui secara jelas. Tak ada yang tahu pasti kapan songket masuk ke Batubara. Namun Azhar mengaku bahwa keluarganya masih menyimpan sebuah songket warisan leluhur yang sudah berusia ratusan tahun. Kini, songket tak hanya dijadikan bagian dari busana resmi saja. Demi memperkenalkan songket kepada masyarakat, songket kini diaplikasikan menjadi beragam benda sehari-hari. Di antaranya taplak meja, tutup air galon, sampai kemeja. Hasilnya, songket Batubara pun kian dikenal.


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/02/kisah-pengrajin-songket-batubara.html
Read More

Kisah Inspirasi Wirausaha Sukses Baby Einstein

Dalam hidup kita pasti menemui berbagai kendala atau masalah. Nah, seorang ibu rumah tangga menemui kesulitan dalam mencari bahan/produk untukk perkembangan bayinya. Ibu ini bernama Julie Aigner Clark yang sedang membesarkan bayinya yang berusia 1 tahun. Ia memulai pencarian di toko bayi untuk bahan pendidikan yang tepat untuk anaknya namun
berakhir dengan tangan kosong. Ibu Julie ini akhirnya mulai berpikir untuk menciptakan produk sendiri. Ia berpikir bahwa jika dia tidak bisa menemukan apa yang ia cari di toko-toko, tentunya ada banyak ibu-ibu lainnya juga yang berada dalam kondisi yang sama. Artinya ada peluang besar untuk memberikan solusi buat banyak orang di sini. Namun, karena kesibukannya, ia baru merealisasikan gagasannya setahun kemudian.
Tanpa melakukan riset pasar, Ibu Julie Aiger Clark ini merasa bahwa ia sendiri adalah pelanggan yang terbaik. Ia pun menciptakan sebuah produk yang diberi nama Baby Einstein. Ia tau bahwa apa yang bayinya suka, maka akan disuka juga oleh bayi lain. Dengan modal ini, Aigner Clark melakukan perjalanan wirausahanya menciptakan salah satu produk video pendidikan anak-anak paling sukses sepanjang masa.
Bersama suaminya, Aigner Clark meminjam video camera temannya dan menggunakan ruang bawah tanahnya untuk membuat berbagai film Baby Einstein. Bersama anaknya sebagai penonton, kucingnya sebagai alat, dan suaminya sebagai videografer, pasangan ini menciptakan visi mereka. Namun perjalanan tidak semulus yang diharapkan.
Boro-boro mendatangkan penjualan. Banyak pengecer/retail menolak untuk memasarkan produk mereka. Namun, mereka tetap antusias. Mereka terus menemukan orang yang cocok untuk berbagi antusiasme. Akhirnya sebuah perusahaan Retail mainan kelas atas mau memberikan kesempatan. Setelah terjual jhabis selama 3 hari, kesepakatan pun tercapai. Saat ini perusahaan Aigner Clark telah dibeli oleh Disney dan bernilai lebih dari 1 Miliar Dollar.


reff : http://gerakanbalonganmandiri.blogspot.com/2012/10/kisah-inspirasi-wirausaha-sukses-baby.html
Read More

DINI INDRA : Pemilik Butik Tas BUTTERFLY REPUBLIC, Sukses Berinvestasi Tas Branded




Perempuan kelahiran Malang, 7 September 1979 ini termasuk cermat membaca peluang. Dini Indra, sukses berinvestasi tas branded. Di tangannya, tak bermerek ekslusif dan asli bisa ditenteng dengan modal kurang dari Rp 50 juta. Dini memilih berinvestasi tas mahal sejak tahun 2010. Bermodal koleksi tas pribadi dan kecintaannya pada tas bermerek, ia pun mencari peluang bisnis. Dua tahun kemudian, ia memiliki butik tas Butterfly Republic yang menawarkan keanggotaan ekslusif. Serunya, Dini menawarkan solusi bagi yang ingin tampil gaya dengan tas mewah tanpa mengeluarkan anggaran yang besar.

Dini menyewakan tas-tas bermerek tersebut. Ia membuat sistem keanggotaan bagi perempuan yang ingin tampil maksimal dengan tas bermerek namun modal sedikit. Terdiri dari paket silver, gold, dan platinum, para member bisa membawa tas branded dengan harga yang masuk akal. Hasilnya, cukup sukses. Bahkan, memberbutik tas Butterfly Republic terus bertambah. Padahal, Dini hanya bermodalkan tas branded koleksi pribadinya.


Perkembangan fashion yang sangat dinamis membuat Dini tak hanya mengandalkan persewaan tas ekslusif Butterfly Republic. Sebagai pebisnis, ia juga harus bisa menciptakan pasar dan membaca peluang. Saat ini, Butterfly Republic sudah dilengkapi dengan jasa image consultant. Dini sengaja masuk ke beberapa perusahaan untuk menawarkan jasa ini. Ternyata, apa yang dibaca Dini menjadi kenyataan. Ia sukses menjadi image consultant di beberapa perusahaan besar. Secara profesional karirnya telah diakui, dan ia telah memiliki sertifikat dari San Fransisco. Memang jasa image consultant ini dibutuhkan dan bisa jadi solusi perusahaan besar. Bagaimana bisa tampil tepat saat berhadapan dengan klien potensial, bagaimana memadu-padankan tas dan busana untuk acara tertentu sehingga image-nya bisa mewakili perusahaan. Tas koleksinya pun akhirnya laris disewa untuk agenda seperti itu.

Dini optimis investasi tas tetap bisa bertahan dan menghasilkan. Karena tren itu setiap tahun selalu ada. Bahkan kecenderungan harganya kini semakin tinggi. Dulu Dini bisa dapat permintaan 30 hingga 40 tas per tahun, sekarang sudah 70 hingga 100 tas. Untuk berbisnis tas branded, Dini membagikan kiatnya. Berinvestasi tas bermerek punya seni tersendiri. Sama seperti kolektor, tidak hanya mengejar tren, tapi juga berburu tas model klasik yang memang dicari. Beberapa merek tas yang koleksi klasiknya masih diburu harganya pun akan tetap tinggi. Tapi memang harus lebih jeli dan butuh waktu.

Bagi para kolektor tas branded, ini sebetulnya bukan hal sulit. Berbeda halnya dengan para pelaku bisnis yang baru mulai berinvestasi tas. Yang penting ada permintaan dahulu. Sering saat Dini sedang belanja di Jepang, ada yang minta dicarikan tas dengan bujet tertentu. Jadi ini juga berkaitan dengan kepercayaan. Banyak juga yang langsung transfer dan mempercayakan pembelian tas kepadanya. Hal ini yang harus Dini jaga. Caranya dengan memberikan tas terbaik. Ke depan, Dini ingin mencari keuntungan lain lewat investasi tas branded. Untuk berinovasi dan mengembangkan bisnis, ia harus pandai melihat peluang. Salah satunya, saat ini ia tengah serius mempelajari perilaku konsumen dengan mengambil master di bidang psikologi di Universitas Indonesia. Dini optimis, potensi bisnis ini besar.


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/07/dini-indra-pemilik-butik-tas-butterfly.html
Read More

YOSEFAT WENARDI, Pemilik SECCO GUITAR AND STRING INSTRUMENTS, : Gitar Produk Lokal Kualitas Dunia





Darah seni pada diri Yosefat Wenardi mendorongnya menekuni pembuatan alat musik gitar. Ia pun lalu mendirikan Secco Guitar and String Instruments dengan menggandeng seorang guitar luthier kawakan dari Bandung, Jawa Barat. Awalnya, gitar produksi Secco dibuat secara massal, tapi akhirnya hanya diproduksi sesuai pesanan dengan kualitas kelas wahid. Sebagian diekspor ke belasan negara.

Yosefat Wenardi atau akrab dipanggil Wen ini sudah tertarik dengan musik sejak sekolah dasar, sekitar tahun 1970-an. Maklum, keluarga besarnya adalah pemusik sekaligus pecinta musik, dari musik keroncong hingga pop. Wen pun belajar gitar dari pamannya. Untuk menyalurkan kecintaannya pada musik, Wen bersama temannya sempat pula mendirikan sebuah band.

Pada 1983, seiring waktu, keinginan mengasah kemampuan bermusik ?dihentikan? tatkala Wen harus melanjutkan kuliah di Jurusan Mesin pada kampus Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung. Selepas kuliah, Wen sempat membuka bengkel mobil selama beberapa tahun. Namun, hatinya kurang mantap. Hingga pada tahun 1999, Wen merintis usaha sebagai luthieratau pembuat gitar. Awalnya, Wen belajar sendiri proses pembuatan gitar selama 2-3 tahun sampai benar-benar mahir.

Modal awal mendirikan Secco Guitar hanya Rp 10 juta untuk membeli bahan baku serta alat-alatnya. Namun proses itulah yang membuat hati Wen merasa kerasan dan cocok dengan usaha yang digelutinya. Waktu itu, bapak dua anak ini mengakui sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang pembuatan gitar.

Untuk mengasah kualitas gitarnya, pada tahun 2000 Wen mengajak seorang guitar luthier kawakan dari Bandung, Ki Anong Naeni. Pertemuan dengan Ki Anong sebenarnya bukan kesengajaan. Sebagai maestro pembuat gitar, Ki Anong yang waktu itu berusia 70 tahun ingin mewariskan ilmunya. Ki Anong ingin melestarikan tehnik pembuatan gitar kepada dirinya.

Jauh sebelum mendirikan Secco, Ki Anong Naeni sudah mendirikan industri gitar bermerek Genta pada tahun 1957. Anong mengajari para calon-calon perajin gitar, termasuk Wen, hingga mereka mahir membuat sebuah gitar dengan kualitas yang baik. Sebagai murid, Wen tekun belajar dari Ki Anong Naeni yang piawai merancang gitar itu.

Wen dan Ki Anong mengawali pembuatan gitar khas Secco secara manual pada November 2000. Gitar merek Secco berbahan baku dari kayu pilihan asal Majalaya dan Banjaran, yakni jenis kayu sonokeling, ki pait, mahoni, kayu pohon nangka, serta pohon lokal lain.

Untuk pembuatan sebuah gitar, mesti melalui sepuluh tahapan. Pertama, tahapan proses perencanaan desain, penyediaan bahan baku, pemilahan kerja untuk bagian depan gitar (top), belakang (back), samping (side), dan gagang (neck). Kalau sesuai teori, membuat gitar itu menghabiskan waktu 150 jam. Namun, kalau dilakukan oleh banyak orang sesuai deskmasing-masing, bisa dipangkas sampai 50 jam per gitarnya.

Berkat ketekunan, gitar Secco buatan Wen dan Ki Anong mulai diminati para pemusik,-rata-rata masih pemusik lokal- maupun pemain gitar amatir. Pesanan datang dari beberapa daerah. Pada tahun itu juga Wen membuka office and workshop di Jalan Tanjung No 13, Bandung. Dengan tempat khusus, usahanya diyakini akan terus berkembang. Dan ternyata, mimpi tersebut kelak menjadi kenyataan.

Tak cepat puas, Wen terus mengembangkan usahanya dengan terus membuat produk-produk gitar terbaru. Pria penyuka jalan-jalan ini terus mencari referensi produk agar lebih baik lagi. Nama gitar Secco buatan Wen dan Ki Anong pun semakin harum di kalangan pecinta gitar di Indonesia. Jenis gitar yang fokus diproduksinya mulai dari classic guitar, folk guitar, dreadnought style, double/triple O, serta travel guitar. Sesekali, keduanya juga memproduksi biola.

Harga gitar produk Secco berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 3 juta per unit, tergantung jenis dan bahan yang diproduksi. Ciri dari gitar Secco ini memiliki keunikan khas, terutama produksinya yang terbatas.

Untuk mengasah kualitas gitar Secco, Wen sengaja belajar langsung pada seorang luthier dari kota Granada, Andalusia, di Spanyol, dan Kanada pada tahun 2010. Ia ingin melihat langsung proses pembuatan gitar kelas dunia. Pembuatan gitar sudah menjadi kebudayaan di dua negara itu.

Sepulang dari Eropa, wawasan Wen di bidang gitar pun bertambah. Dia semakin terpacu memproduksi gitar-gitar kelas dunia. Jumlah produk gitar Secco mulai dibatasi. Wen dan Ki Anong pun semakin memperhatikan bahan bakunya. Wen mulai membeli bahan baku kayu impor seperti african black wood, snake wood, dan zebra wood. Menurut Wen, kualitas dari bahan kayu tersebut sangat cocok untuk menghasilkan suara yang bagus, kuat, dan memiliki karakter tertentu. Meski demikian, Wen pun tak lupa menggunakan bahan kayu lokal dari Indonesia, seperti Indonesian rose wood, mahogany, dan Makassar ebony serta kayu Irian. Kualitas bahan baku lokal ini juga sama bagusnya dibanding dari impor. Wen menjelaskan, kayu yang bagus adalah kayu yang kadar airnya sekitar 12-14 persen.

Karena ingin menghasilkan gitar berkualitas, Wen pun mulai membatasi produksinya. Segmen penjualan gitar Secco diarahkan untuk kalangan penggemar gitar menengah ke atas, terutama pemusik nasional dan dunia. Meski dibuat secara homemade dan membutuhkan waktu 250 jam kerja, kualitas gitar Secco tak kalah dibandingkan dengan produksi industri.

Karena dikerjakan dengan teliti, Wen dan karyawannya hanya mampu menghasilkan sekitar 10 gitar dalam sebulan. Namun, harga yang ditawarkan semakin tinggi. Wen memang sudah tidak memproduksi gitar secara massal (komersil). Kini ia hanya fokus pada pembuatan gitar berkualitas tinggi. Dengan gitar berkualitas, kelas wahid, serta untuk pasar ekspor, harga gitar Secco kini berkisar Rp 3 juta hingga Rp 40 juta per unit.

Pada 2006, Ki Anong yang sekaligus menjadi gurunya itu mengundurkan diri dari Secco. Ki Anong mengaku ingin mengasah kemampuan di tempat lain. Sepeninggal Ki Anong, Wen pun tetap terus mencoba untuk meningkatkan kualitas produksi gitarnya menjadi lebih baik dan berkualitas.

Pada 2011, sejumlah jenis gitar produk Secco mulai dipamerkan di Singapura dan Malaysia. Di dua negara ini, pesanan lalu muncul dari Turki dan Selandia Baru. Kualitas produk gitar Secco semakin dikenal para pemusik nasional maupun internasional. Hingga akhir September 2013, sejumlah jenis gitar Secco dikoleksi sekitar 250 pemusik (baik gitaris maupun musisi). Di antaranya adalah Iwan Fals dan Sawung Jabo.

Iwan Fals memiliki tiga gitar akustik produksi Secco. Gitar itu dibelinya dengan harga 2.500 dolar AS sampai 4000 dolar AS per unit. Iwan Fals kebetulan memang suka dengan produk-produk buatan Indonesia.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memang menyenangi musik dan mencipta lagu pun juga menjadi salah satu yang mengoleksi gitar merek Secco. Tipe gitar yang dimiliki SBY adalah Steal Dreadnought. SBY membeli gitar produknya tahun 2004, yang mana pada saat itu harganya masih 1.500 dolar AS. Apresiasi yang diberikan kepala negara dan penyanyi terkenal itulah yang sangat membanggakan dirinya sekaligus tantangan untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Kini, sejumlah gitar Secco sudah dipesan sejumlah musisi dan konsumen berbagai negara, di antaranya Jepang, Malaysia, Jerman, Amerika Serikat, Selandia Baru, Jerman, Singapura, Kanada, dan Prancis. Ia pun juga selalu turut serta dalam Pameran Produksi Indonesia, sebagai upaya mempromosikan gitar lokal berstandar dunia. Wen juga kini semakin bangga produk gitar asal Bandungnya semakin dikenal di pasar Internasional.




amura courier : layanan jasa kurir untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Cepat, professional, dan bertanggung jawab. Tlp & sms : 085695138867





reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2013/10/yosefat-wenardi-pemilik-secco-guitar.html
Read More