Saturday, February 6, 2016

NASI LIWET 1001 : Usaha Mempopulerkan Beras Garut Dalam Kemasan Instan




Sejak 2005, Andris Wijaya meneruskan usaha penggilingan beras milik almarhum ayahnya yang sudah didirkan sejak 1975. Sebetulnya, usaha milik keluarga ini sudah cukup besar, lantaran kini per hari menggiling 8 ton beras dan menjual beras Garut ke Pasar Induk Cipinang, Jakarta. Ditambah lagi, harga beras Garut lebih tinggi dibanding beras dari daerah lain karena memiliki banyak kelebihan. Namun, ia menyayangkan nama beras Garut yang tak menonjol dibandingkan beras-beras dari daerah lain. Kalau sudah sampai di penjual, karung berasnya selalu diganti. Inilah yang memunculkan keinginan Andris untuk mengangkat beras Garut yang punya kekhasan tersendiri. Mulanya, Andris ingin menjadikan beras Garut sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke kota itu. Tapi kalau hanya dikemas biasa, tidak ada yang menarik. Wisatawan tak akan banyak yang tahu, seperti halnya orang Garut sendiri.

Andris lalu ingat angka 1001 yang menurutnya memiliki filosofi unik. Maka, ia memutuskan produk yang dibuatnya haruslah out of the box. Dengan modal beras Garut yang digiling dengan mesin yang sudah dimodifikasi, jadilah beras yang bisa digiling 3 kali sekaligus langsung dicuci 3 kali, sehingga beras jadi bersih dan langsung bisa dimasak. Andris jadi berpikir, berarti bisa dijadikan nasi instan seperti halnya mi instan. Lalu, ia pun membuat produk dengan mengadaptasi mi instan, di mana di dalamnya ada pula bumbu dan rempah. Lantaran yang terkenal dari Garut adalah nasi liwet, Andris lalu belajar membuat nasi liwet dari kakaknya yang memang menjualnya. Dengan coba-coba, ia juga belajar mengeringkan bumbu dan rempah yang menjadi bahan baku nasi liwet instan. Setelah berkali-kali mencoba dan mendapatkan komposisi resep yang pas, ia membeli nasi liwet yang dikenal terenak di Garut, lalu membandingkan rasanya. Setiap orang yang bertamu ke rumahnya diminta mencoba kedua nasi itu sekaligus, tanpa Andris menyebutkan bahwa salah satunya nasi liwet buatannya.


Ternyata, semua lebih menyukai nasi liwet Andris. Ia lalu memproduksi nasi liwet instan untuk menjadi oleh-oleh khas Garut. Ia mengerjakan sendiri dibantu temannya. Awalnya, ia memproduksi 50 bungkus. Namun, ketika bermaksud menitipkannya ke toko oleh-oleh, Andris ditolak dengan berbagai alasan. Tak mau patah arang, Andris datang ke kantor-kantor instansi untuk menawarkan produknya. Bahkan sambil berolahraga di tempat fitness pun, Andris nekat membawa penanak nasi (rice cooker) dan memasak nasi liwetnya di sana. Tak pelak, aromanya yang wangi memenuhi ruangan dan membuat banyak orang penasaran. Mulailah Andris mendapatkan pesanan. Ia juga rajin mensponsori nasi liwet di acara makan siang bersama di instansi-instansi pemerintah yang diadakan tiap Jumat di Garut. Syaratnya, ia harus dibolehkan menanak nasi liwet di ruangan kantor, sambil menjelaskan visi dan misinya.

Sejak itu, banyak orang yang mulai menerima nasi liwetnya. Ia juga mulai diajak pameran oleh berbagai pihak. Ketika pertama kali diajak pameran di Lapangan Gasibu, Bandung, banyak media meliputnya. Dari situlah, makin banyak orang mengenal nasi liwet 1001. Toko-toko yang dulu menolaknya bahkan berdatangan ke rumah, minta dipasok. Kini, Nasi Liwet 1001 tak hanya dipasarkan lewat distributor, reseller di berbagai daerah dan toko oleh-oleh, melainkan juga ritel modern. Bahkan, diekspor pula sampai ke Dubai. Bahkan saat ini Andris juga sedang dalam persiapan untuk ekspor ke Jepang. Andris pun mendapat pelatihan dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Mengurus barcode pun ia dibantu Kementerian Perdagangan secara gratis. Sebelum mengeluarkan produk, ia tak lupa mengurus PIRT terlebih dahulu. Tapi ternyata ia sadar, PIRT saja tidak cukup, maka dari itu ia lalu mengurus izin halal dengan biaya sendiri.


Sementara kandungan gizi Nasi Liwet 1001 ia lakukan tesnya di Universitas Padjajaran dan Universitas Pasundan, Bandung. Kini, ia berencana meminta izin ke BP POM, karena usahanya tak lagi sebatas lingkup UKM. Dalam sehari, ia memproduksi 2000 bungkus nasi liwet dengan harga Rp 20.000 ukuran 250 gram dan Rp 30.000 ukuran 500 gram. Untuk varian, Nasi Liwet 1001 yang awalnya memiliki tiga varian yaitu jambal, jengkol, dan pete, kini memiliki varian cumi, teri, original, dan pedas. Tak hanya itu, Andris kini juga memproduksi nasi kuning dan nasi uduk warna instan. Andris menjelaskan, memasak nasi liwet itu sangat gampang. Tinggal masukkan semua bahan, tambahkan air, lalu masak di magic jar. Kalau nasi liwet biasa memakan waktu 45 menit, nasi liwet instan ini hanya butuh waktu 15 menit. Untuk mendukung usahanya, Andris kini membutuhkan delapan kuintal beras per hari.







reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/05/nasi-liwet-1001-usaha-mempopulerkan.html
Read More

Friday, February 5, 2016

GELIAT USAHA KERUPUK 'MELARAT' DI KAMPUNG GESIK - CIREBON




Bagi yang kerap melewati jalur pantura, pasti tak asing lagi dengan kerupuk berwarna merah, kuning, dan putih yang akrab dengan sebutan kerupuk ?melarat? ini. Dengan mudah, anda bisa menemukannya di hampir semua toko oleh-oleh sepanjang pantura. Dibuat dari tepung tapioka, penganan ringan ini kerap menjadi teman perjalanan karena rasanya yang gurih dan bikin ketagihan. Siapa sangka, kerupuk ini diproduksi di sebuah desa kecil bernama Gesik, Cirebon. Tak seperti namanya, kerupuk ?melarat? justru mampu meningkatkan perekonomian warga Gesik. Nyaris seluruh warga Gesik menggantungkan hidupnya dari kerupuk yang resepnya diperoleh secara turun temurun ini.

Salah satu warga Gesik yang juga membuat kerupuk ?melarat? adalah Hj. Eli Marliyah. Ia mengaku sudah puluhan tahun memproduksi kerupuk dari rumahnya yang sederhana. Sayangnya, menurutnya saat ini penghasilannya agak menurun. Selain karena cuaca yang kerap tidak menentu, penjualannya juga tidak sebaik beberapa puluh tahun lalu. Hampir semua warga desa yang akhir 2014 lalu dinobatkan sebagai kampung produktif itu mengeluhkan hal yang sama. Belum lagi soal kenaikan harga bahan baku tepung tapioka. Namun, menuurt ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini, walau kini penghasilannya minim, tapi masih cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga dan menggaji karyawan.


Resep kerupuk didapat Eli dari keluarga suaminya. Hampir semua saudara suaminya memang pembuat kerupuk. Perempuan kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini, sendiri baru menekuni usaha ini sejak menikah dengan suaminya. Ia hanya menjual kerupuk mentah yang kemudian dijual ke pabrik. Karena masih dibuat secara tradisional, maka sangat tergantung dengan cuaca. Bila sedang musim panas, produksi bisa meningkat. Tapi bila musim hujan kadang merugi. Eli pun bercerita, ia pernah merugi besar karena kerupuk yang dibuatnya rusak akibat jamur, karena tidak bisa dijemur. Saat itu jumlahnya lumayan banyak, sampai 4 kuintal. Kerugian pun juga dialami penjual kerupuk matang. Bila musim hujan, kerupuknya kurang dijemur sehingga tida bisa mengembang sempurna.

Produksi kerupuk ?melarat? diakui Eli meningkat tajam memasuki bulan Ramadhan. Menurutnya, bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Penjualan kerupuk selalu meningkat. Dalam sehari, Eli biasanya bisa memproduksi 2,5 kuintal kerupuk mentah dibantu 9 orang karyawan. Dengan omzet sekitar Rp 3 juta per bulan, Eli akan meneruskan usaha turun temurun keluaga suaminya ini. Cara pembuatan kerupuk ini pun tidak ada rahasia. Adonannya hanya tepung tapioka, garam dan air. Bumbu diberikan setelah kerupuk disangrai menggunakan pasir. Dan itulah yang menjadi asal muasal nama kerupuk ?melarat?. Kerupuknya tidak digoreng dengan minyak.


Dengan bendera Sumber Mares, Akhmad Syaefullah juga memproduksi sekaligus memasarkan kerupuk ?melarat? di kawasan Cirebon sampai Sidoarjo, Jawa Timur. Ia mulai memegang usaha ini tahun 2009 lalu, dan merupakan generasi ketiga dari usaha yang dirintis eyangnya sekitar tahun 1977. Sejak lulus kuliah dari Universitas Islam Jakarta tahun 2002, Akhmad sudah bertekad terjun ke usaha turun temurun ini. Sempat dirinya bekerja di perusahaan asuransi, tapi ternyata ia tidak betah bekerja dengan orang lain. Akhmad mengaku sejak dulu ia tidak suka diperintah orang, dan lebih senang memerintah orang.

Sejak 2009 itu, banyak ide di kepala Akhmad untuk mengembangkan usaha keluarganya. Ia berpikir, kenapa penganan ini sifatnya masih lokal ? Ia ingin penganan ini bisa pula dikenal secara nasional. Apalagi kerupuk ini juga tidak dimiliki daerah lain. Akhmad ingin, meskipun namanya kerupuk ?melarat?, tapi produsennya jangan sampai ikut melarat. Ia juga merasa bahwa mempertahankan usaha saja tidak cukup. Butuh inovasi demi mendapatkan pelanggan baru sekaligus mempeluas pasar. Dengan semangat itulah, ia rajin memasarkan kerupuk ini keliling pulau Jawa. Kini kerupuk produksinya juga hadir dengan rasa baru, yaitu kerupuk ?melarat? bumbu pedas.

Beruntung, niatnya memperluas pasar juga berbarengan dengan tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Masyarakat saat ini takut akan kolesterol, maka kerupuk ?melarat? hadir dengan jaminan bebas kolesterol karena digoreng dengan pasir. Akhmad juha memperkuat sisi marketing. Anak ketiga dari lima bersaudara ini berkeliling dari toko ke toko untuk memasarkan kerupuknya. Dan Akhmad atau yang kerap disapa Epu ini bersyukur, bila awalnya ia hanya memproduksi 4 kuintal per hari, memaski 2011 produksinya berlipat ganda demi memenuhi kebutuhan pesanan. Terlebih memasuki musim libur hari raya atau sekolah. Produksi bisa digenjot lebih banyak lagi. Bahkan pada hari raya, bisa ribuan bungkus ludes dibeli. Stok enam gudang saja masih tidak cukup.

Berkat usaha Epu dan pengusaha kerupuk ?melarat? lainnya, penganan yang dipasarkan dengan harga mulai Rp 15.000 sampai Rp 17.000 ini mudah ditemui di mana saja di Pulau Jawa. Menurut ayah dua anak ini, target Sumber Mares sekarang adalah wilayah selatan Pulau Jawa. Dan tidak menutup kemungkinan akan segera masuk Sumatera melalui Lampung.


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/06/geliat-usaha-kerupuk-melarat-di-kampung.html
Read More

MECCANISM, Butik Suka-Suka dari ZASKIA MECCA




Sudah lama sebenarnya Zaskia Adya Mecca berbisnis baju khusus untuk hijabers. Namun, istri sutradara Hanung Bramantyo ini baru serius menekuninya sejak Februari 2013. Bersama kakaknya, Tasya Nur Medina, ia membuka butik Meccanism di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Nama Meccanism diambil dari nama clothing line milik Zaskia.

Awalnya, Zaskia menyerahkan sepenuhnya butik itu kepada Tasya sebab ia sibuk syuting dan menjadi casting director di setiap film garapan suaminya. Namun setelah melahirkan putri keduanya, Kala Madali Bramantyo, 2 Februari 2013 silam, ia jadi punya banyak waktu luang sebab memutuskan cuti sejenak dari tawaran syuting sambil merawat Kala. Di saat yang bersamaan, bintang film Ayat-Ayat Cintaini juga merasa butuh ?mainan? baru.



Zaskia mengaku ia sempat berada di satu titik di mana ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya lagi. Kehidupan keluarganya sudah berjalan sempurna, dengan memiliki suami dan anak-anak yang luar biasa. Keinginan secara material juga sudah terpenuhi. Namun di sisi lain, pekerjaannya sebagai aktris maupun casting director pun mendadak dilanda kebosanan. Lantas Zaskia pun merasa menemukan ?mainan? barunya itu justru di butik miliknya.

Dengan semangat baru, Zaskia pun jadi lebih produktif melahirkan sejumlah desain baju, yang tak sedikit pula terinspirasi dari model baju yang sebenarnya bukan busana muslim. Ciri khas Zaskia dalam rancangannya merupakan cerminan kepribadiannya yang santai dan simpel. Menurut Zaskia ia adalah termasuk tipe orang yang tidak pede memakai baju rapi. Rasanya seperti salah kostum.



Semua baju rancangannya terbuat dari bahan katun atau spandex rayon (bahan kaos), jadi tidak terasa panas bila dikenakan. Selain itu Zaskia juga suka membuat baju yang daily wear, atau yang bisa dipakai sehari-hari. Pernah pula ia mencoba mendesain baju formal, namun ternyata lebih sulit terjual. Sepertinya pelanggan Meccanism adalah orang-orang yang karakternya sama dengan Zaskia, menyukai gaya busana yang simpel dan santai.

Sejak diseriusi, butik Zaskia menunjukkan perkembangan yang positif. Jika sebelumnya satu desain ia produksi sebanyak 100 pieces, saat ini kapasitas produksi ia tambahkan dua kali lipatnya, meski dengan konsekuensi penjahit butiknya jadi kewalahan. Namun Zaskia sama sekali tak mau beralih ke penjahit lain lantaran ia sudah merasa cocok dengan penjahit yang dimilikinya sekarang.



Selain memiliki butik, Zaskia juga menjual koleksi pakaiannya secara online. Ternyata penjualan di toko online dan fisik saling bersinergi. Masing-masing ada kelebihannya. Di butik, pelanggan bisa langsung memegang bahannya dan langsung dicoba. Sementara di toko online, pelanggan dari mana saja bisa melihat karyanya.

Kini Zaskia amat serius membesarkan butiknya. Namun ia terpaksa menolak tawaran pihak lain untuk menjadi reseller atau membeli franchise (waralaba) Meccanism di beberapa kota besar lain di luar Jakarta. Ia khawatir jika terlalu banyak cabang, justru akan semakin membuatnya stress. Dalam menjalankan bisnisnya, Zaskia mengaku ia tidak ingin merasa tertekan oleh pesanan yang datang. Apalagi ia juga masih mengurusi manajemen butiknya sendiri. Untuk itu, saat ini ia ingin menjalankan bisnis butiknya dengan gaya yang santai, tidak mau terlalu dibebani urusan yang bakal membuatnya stress. Bisa dibilang, butiknya ini sekedar buat ?main-main? atau ?suka-suka? saja. Namun, ia juga tak mau asal dalam memproduksi baju, hanya sekedar memenuhi permintaaan. Ia tetap ingin semua pakaian di butiknya didesain dengan sepenuh hati.


Meccanism
Jl. Benda Raya, no. 54 J, Kemang, Jaksel
(di samping Circle K)






reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2013/11/meccanism-butik-suka-suka-dari-zaskia.html
Read More

OSD by Oki Setiana Dewi : Produk Busana Muslimah Yang Wudhu Friendly




Di dunia bisnis pakaian muslimah, nama Oki Setiana Dewi terbilang baru dibanding selebriti lainnya. Namun, dalam hitungan bulan, usahanya bisa berkembang pesat. Ibu satu putri ini memang baru tertarik menekuni usaha baju muslim setelah mendapat saran dari suaminya, Ory Vitrio. Kebetulan sang suami memang seorang pengusaha, jadi bisa melihat peluang bisnis. Bermula, saat Ramadhan tahun 2014, banyak perempuan yang mencari gamis dan kerudung yang sering dipakai Oki di Tanah Abang. Akhirnya, sang suami menyarankan, mengapa dirinya tidak membuat gamis dan kerudung sendiri saja ? Toh, selama ini Oki juga sudah sering membuat baju sendiri karena tidak selalu merasa cocok dengan baju yang disediakan sponsor saat tampil di depan umum.

Kemudian, artis yang selalu tampil syar?i dalam kegiatannya ini, memesan gamis dan kerudung syar?i untuk ia jual lagi secara online. Tak disangka, dalam seminggu, dagangannya ludes dan modalnya langsung kembali. Oki pun memutarnya lagi untuk kembali berjualan baju gamis dan kerudung. Dari keuntungan itu, pada Jnauari 2015, barulah ia membuka butik di pusat perbelanjaan khusus baju muslim di Jakarta Pusat. Oki tak mengira, dalam 4 bulan kemudian ia bahkan sudah punya 3 toko di gedung yang sama. Lalu ia mulai memproduksi sendiri dengan mengandalkan 50 tenaga penjahit. Yang tadinya produksinya hanya puluhan gamis, sekarang dalam sebulan ia bisa memproduksi ribuan gamis dan kerudung.


Untuk model dan desain, ia mengaku menanganinya sendiri. Oki pun mempelajari semuanya dari nol. Mulai dari memilih kain hingga merancang desain. Untuk desain, Oki banyak melihat gaun-gaun dari luar negeri yang bukan gaun muslimah. Kemudian ia modifikasi menjadi baju muslimah. Dari usahanya ini, Oki pun mendapatkan pelanggan tak hanya dari Indonesia. Ada juga yang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, dan Hong Kong. Sementara pelanggan yang dari Indonesia, sekali membeli bisa berkarung-karung karena setiap minggu Oki memang selalu mengeluarkan model baru.

Keunggulan gamis dan kerudung dari brand OSD yang merupakan singkatan dari nama lengkap Oki adalah bahan yang berkualitas dan mengusung konsep busana muslim syar?i. Selain itu, artis yang juga mulai berdakwah ini juga menyediakan beragam warna untuk satu model pakaian. Satu model bisa tersedia 20-25 warna. Baju produk perempuan kelahiran Batam, 13 Januari 1989 ini juga wudhu friendly. Maksudnya adalah, di bagian tangan pasti ada karet atau ritsleting sebatas siku. Gunanya agar memudahkan pelanggan ketika berwudhu. Oki juga selalu memasangkan vuring di setiap bajunya supaya pelanggan tidak perlu bingung mencari dalaman, legging, atau manset.


Meski ongkos produksinya jadi lebih mahal, Oki tak mau melulu memikirkan laba. Toh, tujuan awalnya ia berbisnis adalah agar semua masyarakat Indonesia bisa memakai baju yang santun dan syar?i, karena sebagian besar penduduknya beragama Islam. Supaya bisa menjadi contoh bagi masyarakat dunia. Oki membandrol baju-bajunya dari harga Rp 400.000-Rp 1 juta. Sadar pelanggannya juga ada yang berasal dari kalangan mahasiswa, Oki kemudian membuat second line dari produk OSD. Dan tak hanya itu, perempuan yang namanya dikenal lewat film Ketika Cinta Bertasbih ini juga memproduksi gamis untuk bayi. Karena selama ini memang banyak yang kesulitan mencari baju muslimah untuk bayi. Kalau untuk usia anak memang sudah banyak, tapi untuk bayi yang baru lahir sampai 3 tahun, masih jarang. Kebetulan Oki juga terinspirasi dari anaknya sendiri, Maryam, yang sejak usia 2 hari sudah ia pakaikan jilbab. Oki lalu membuat brand Maryam OSD untuk gamis bayi tersebut.


Melihat perkembangan bisnisnya yang berkembang baik, Oki pun menetapkan target agar gerainya bisa tersebar di seluruh Indonesia. Targetnya yang lain adalah juga ingin memiliki gedung dan tempat sendiri untuk butik-butik OSD. Karena selama ini ia baru menyewa saja. Dan Oki juga terus belajar soal desain serta jenis kain yang bagus untuk produk yang ia jual.














reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/10/osd-by-oki-setiana-dewi-produk-busana.html
Read More