Tuesday, February 2, 2016

RIYADH RAMADHAN, PEMILIK GO CRUNZ, JADI PENGUSAHA DI USIA MUDA DENGAN BERJUALAN GORENGAN




Memang tak banyak anak muda usia 20-an yang memiliki talenta bisnis. Salah satu yang sedikit itu adalah Riyadh Ramadhan. Di usianya yang masih tergolong belia, 20 tahun, ia sudah memiliki 14 outlet waralaba yang tersebar di berbagai daerah, seperti Malang, Surabaya, Sidoarjo, Balikpapan, Yogyakarta, hingga Bekasi. Dan sampai saat ini, anak dari motivator kondang di Surabaya, Wuryanano, ini masih terus berusaha mengembangkan kemitraan di berbagai daerah.

Jiwa berbisnis muncul dalam diri Riyadh sejak masih di kelas satu SMA. Ketika itu banyak siswa di sekolahnya enggan makan di kantin sekolah, karena jajanan yang dijual terlalu mahal. Riyadh dan teman-teman pun akhirnya memilih berada di kelas saja saat jam istirahat tiba. Dari sanalah ia mulai terpikir untuk menjual makanan murah dan sehat ke teman-temannya. Untuk menentukan jajanan apa yang pas, sulung dari dua bersaudara ini pun jalan-jalan ke mal demi mencari ide. Di mal terbesar di Surabaya lalu ia menemukan satu outletyang ramai dikunjungi remaja, yakni outletyang menjual gorengan. Walau menurut Riyadh, rasa gorengannya biasa saja, tapi outlet itu selalu ramai pembeli.

Setiba di rumah, ia berdiskusi dengan ibunya, Christine. Ia katakan, ingin meniru ide yang dilakukan outlet yang baru saja dilihatnya dan menjualnya di sekolah. Tentu dengan harga terjangkau dan sehat. Ia sengaja memilih menjual gorengan, karena itu merupakan jajanan yang digemari oleh hampir semua kalangan, terutama remaja. Untuk membuat gorengan yang berbeda dari yang lain, ia pun membuat adonan tepung khusus dengan formula yang diciptakannya. Setiap hari ia berkutat dengan tepung di dapur untuk mencari formula yang bisa membuat gorengan renyah dan gurih.

Setelah melalui proses trial and error, akhirnya ia berhasil menemukan komposisi adonan yang pas. Lalu, ia coba membuat tahu dan jamur crispy menggunakan tepung buatannya. Setelah jadi, gorengan itu ia bawa ke sekolah dan dibagikan secara gratis kepada teman-temannya. Setelah disantap ramai-ramai, ia lalu meminta komentar teman-temannya soal gorengan buatannya. Masukan dari teman-temannya itu ia jadikan patokan untuk membuat adonan yang pas, gurih, dan renyah berikutnya. Setelah dirasa rasanya benar-benar pas di lidah, barulah ia mulai berani menjual. Riyadh kemudian menjual gorengannya itu seharga Rp 4000.




Selanjutnya, usaha gorengan-nya itu ia beri nama Go Crunz atau gorengan crunchy. Lama-kelamaan ia pun tak lagi menjajakan keliling dari kelas ke kelas, tapi mulai menerima pesanan. Begitu laku di sekolah, ia pun berani membuka outlet di salah satu mal di Surabaya. Ternyata penjualannya pun cukup ramai, hingga ia dibantu karyawan. Berkat kesuksesannya, Riyadh pun berhasil meraih penghargaan Small and Medium Business Entrepreneur Awards (SMBEA) dari Kementerian Koperasi. Setelah mendapat penghargaan itu, pihak sekolah baru mengakui prestasinya. Bahkan adik-adik kelasnya sekarang mendapat program business day di sekolah, di mana ada satu hari khusus untuk tiap siswa diwajibkan berdagang.




Jika dulu ia membuka kemitraan dengan rekan bisnis di level outlet, kini ia sudah meningkatkan sistem bisnis dengan membuka kemitraan di level yang lebih tinggi, yakni kafe atau restoran. Ide ini muncul ketika di akhir 2013 lalu ia termasuk ke dalam kategori Pengusaha Waralaba Terbaik Tingkat Nasional dari Kementerian Perdagangan. Dengan prestasinya itu, ia berhak mendapat pelatihan peningkatan usaha di Jakarta. Saat pelatihan, seorang mentor menyarankannya agar ke depannya usahanya sudah harus naik pangkat ke level kafe atau restoran.

Anjuran sang mentor lantas membuatnya makin terpacu. Dan sejak Januari 2014 ia pun mendirikan Go Crunz Cafe di Jl. Jambe Lor, Banjar Kemantren, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Jenis makanan yang dijual di kafe yang didesain menarik ini tak hanya gorengan, tapi juga berbagai menu lezat dengan harga terjangkau. Antara lain Crunz Potato, Ayam Penyet, Ndas Njedir (kepala ayam), Ceker Ndower (cakar ayam masak pedas), dan masih banyak lagi. Namun, meskipun saat ini sudah pindah ke level restoran, tapi hubungan kemitraannya dengan rekan bisnis yang sudah ada tak putus.




Riyadh tak memungkiri, jiwa wirausaha yang ia miliki berkat didikan kedua orang tuanya yang motivator sekaligus pemilik akademi entrepreneur. Satu hal yang membuatnya makin getol menjadi pengusaha, adalah ia ingin mengejar mimpi menjadi orang yang mapan secara finansial di usia 30 tahun. Ia ingin setelah melewati usia 30 tahun tak perlu susah cari uang lagi, karena sudah memiliki usaha sendiri sebagai lumbung uang.



Alamat Outlet Cafe:

Jl. Jambe Lor 41, RT.10 RW.02 Banjarkemantren.
Buduran, Sidoarjo.
Untuk Kemitraan GO CRUNZ! Traditional Cafe:
Hubungi Ms. Christine Wu.
Hotline: 08121664077








reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/04/riyadh-ramadhan-pemilik-go-crunz-jadi.html
Read More

Peggy Melati Sukma, Bisnis Busana Muslim Lewat Label JaDeeRa




Sejak Juli 2013, Peggy Melati Sukma mantap menancapkan bendera clothing line busana muslim dengan merek JaDeeRa for Peggy Mosleemah Style. Menurut artis yang ngetop dengan istilah ?pusing, pusing? ini, JaDeeRa dalam Bahasa Arab berarti permata. Dan benar saja, meski baru beberapa bulan didirikan, busana muslim JaDeeRa yang ia kelola mulai menampakkan ?sinarnya? bak permata. Kehadiran JaDeeRa sudah mampu diserap pasar dengan baik. Meskipun saat ini baru berupa brand dan belum ada store-nya, tapi Peggy sudah melayani penjualan ke banyak daerah, baik melalui reseller, jual online di www.peggymosleemah-style.com, hingga konsinyasi di beberapa storehijab terkemuka di Indonesia.

Tak dipungkiri, keberhasilan Peggy di dunia keartisan, membuat namanya cepat dikenal. Bagai semudah membalikkan telapak tangan, dalam sekejap JaDeeRa sudah dikenal sebagai clothing linemiliknya. Dengan orang melihatnya memakai baju hasil rancangan sendiri, kemudian banyak yang suka dan bertanya bisa membelinya di mana ? Menurut Peggy, animo masyarakat ini harus segera ditangkap dengan baik.

Bisnis busana muslim diakui Peggy sebagai bagian dari pengingat bahkan tantangan agar terus belajar mengelola syariat dan kafah (total) dalam mendalami agama. Peggy kini mencoba menerapkan manajemen bisnisnya dengan aturan sesuai syariat. Peggy pun merasa dirinya masih perlu belajar tentang manajemen syariah. Peggy berterus terang, sejak memutuskan berhijab, dirinya merasa perlu lebih banyak belajar agama. Khususnya yang berkaitan dengan busana muslim yang syar?i, baik dan benar. Tidak berpakaian asal lagi, seperti saat pertama kali mengenakan busana muslim. Saat itu ia memang belum memperhatikan, berbusana muslim yang benar adalah yang tidak mempertontonkan lekuk tubuh.

Perlahan namun pasti, Peggy pun akhirnya menemukan desain dan warna yang nyaman untuknya. Maklum saja, dia punya banyak kesibukan, dari syuting sinetron, sebagai pembicara seminar, penulis buku, dan motivator. Karenanya, ia menyukai busana yang bisa dipadu padankan. Peggy menyukai gaya mix and match atau tabrak warna. Berkaca dari pengalamannya dalam berbusana itulah, ia mendesain JaDeeRa dengan gaya seperti itu. Bahkan customer cukup mempunyai lima stel busana JaDeeRa, sudah bisa dipakai untuk berbagai acara dan suasana. Santai bisa, formal pun tak masalah.

Merasa dirinya ?ahli? dalam mengembangkan bisnis, strategi, dan desain keratifnya, Peggy pun menjadi inisiator JaDeeRa. Meski begitu, ia sadar keterbatasan dalam pengetahuan soal produksinya. Itu pulalah yang membua Peggy merangkul rekannya Metha Irawaty untuk mengurusi bagian produksi, sementara Ira Mirady di bagian operasional.

Bagaimanapun, Peggy memang tetap membutuhkan partneryang tahu soal urut-urutan produksi, dari bahan, pola, jahitan, juga orang yang menguasai operasional seperti mengurusi soal perhitungan produksi, target jumlah produksi, biaya produksi agar harga bisa bersaing dan sebagainya.

Tak tanggung-tanggung, Peggy telah menggelontorkan modal hingga ratusan juta rupiah untuk terjun ke bisnis busana muslim ini. Menurutnya, bisnis ini masih menggiurkan dan bisa terus dikembangkan. Asalkan terus memiliki kerativitas dan strategi bisnis yang jitu. Ini bisa dibuktikan Peggy, hanya dalam waktu empat bulan modalnya sudah bisa kembali. Peggy memang sengaja mengejar produksi dan ikut pameran berskala besar atau momen Ramadhan dan Lebaran, di mana banyak orang berbelanja busana muslim.

JaDeeRa mematok harga di kisaran Rp 85 ribu untuk kerudung dan busana muslim di kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 450 ribu.






reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2013/11/peggy-melati-sukma-bisnis-busana-muslim.html
Read More

DONNY SUPRIADI, Pemilik Kedai BASO MAS TATO, BANDUNG.





Gagal berbisnis distro atau clothing, tidak membuat Donny Supriadi menyerah. Ia terus berpikir untuk memulai usaha lain yang bisa memberikan keuntungan. Sampai kemudian pilihannya jatuh pada bisnis kuliner. Kebetulan ia memiliki kerabat yang baru saja berhenti berbisnis restoran Jepang dan kerabatnya itu bisa membuat bakso. Berbekal keahlian yang dimiliki sang kerabat dekat itu, mereka berdua kemudian bereksperimen selama beberapa bulan untuk berjualan bakso kemasan yang ternyata laku keras.

Tepat pada tanggal 9 Maret 2013, akhirnya Donny memutuskan membuka kedai atas permintaan pelanggan yang terus menerus berdatangan. Agar pelanggan yang datang ke kedainya tidak hanya menikmati bakso, Donny pun menambahkannya dengan menyediakan menu mie. Kedai yang ia buka bersama salah satu temannya itu berlokasi di Jalan Ternate No 10, Bandung.



Soal nama Baso Mas Tato, menurut Donny, terlihat jelas dari badannya yang memang dipenuhi tato. Selain untuk identifikasi, penggunaan nama Baso Mas Tato pun juga terdengar unik. Kelebihan lainnya Baso Mas Tato berbeda dengan bakso lainnya, karena digoreng terlebih dahulu sebelum penyajian, dan disajikan bersama kuah pedas dengan cita rasa bakso dan ramen.

Baso Mas Tato juga hanya memiliki tiga pilihan rasa dan semuanya menjadi favorit pelanggan. Oleh karena hanya ada tiga pilihan rasa, jadi semuanya banyak dipilih pembeli, salah satunya Rasa Katsu Bakso atau Mie Goreng Ramen. Sementara menikmatinya akan ditemani dengan minuman es lemon teaatau thai tea. Harganya pun relatif murah, mulai Rp 15 ribu per porsi.





Kini produksi Baso Mas Tato semakin hari semakin meningkat dan permintaan terus bertambah. Bila awalnya membuat 30 porsi bisa habis dalam dua jam, saat ini bisa menjadi 50 porsi. Donny memang sengaja membatasi jumlah porsi yang dibuatnya. Donny yang juga merupakan vokalis band Jeruji ini berharap, ke depannya produksi baksonya bisa terus meningkat dan akan mencoba kembali menjual bakso kemasan seperti di awal ia memulai usaha, dengan tetap memakai merek Baso Mas Tato, dengan varian rasa keju, sapi, ayam, dan pedas. Tujuannya agar masyarakat yang ada di luar kota Bandung juga bisa menikmati bakso buatannya. Tak lupa, ia pun akan melengkapinya dengan label halal, izin Depkes, BPOM, dan lainnya.

Baso Mas Tato yang kini menjadi incaran warga kota Bandung ini kini ternyata sudah dilirik sebagai potensi bisnis yang menarik. Donny bahkan sudah bekerja sama dan membuka cabang di Cirebon, Bali, dan Jakarta. Ia memilih konsep bagi hasil saja dengan mitra bisnisnya. Untuk mereka yang mau bekerja sama, Donny akan mensuplai semua bahan-bahannya.

Menurut Donny, kenikmatan Baso Mas Tato terletak pada cara memasaknya yang menggunakan hati. Sehingga saat disantap akan semakin terasa nikmatnya. Dan, lantaran setiap hari ia hanya menyediakan 50 porsi, maka siapa cepat dia dapat untuk mencicipi kenikmatan bakso buatannya.


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/01/donny-supriadi-pemilik-kedai-baso-mas.html
Read More

BERBISNIS SAMBAL DI DUNIA MAYA



Bagi lidah orang Indonesia, makan rasanya tak lengkap tanpa tambahan sambal. Tak heran bila dari Sabang sampai Merauke beragam jenis sambal bisa ditemukan. Seperti soto, hampir setiap daerah memiliki sambal yang khas. Sambal pun kini merambah ke dunia maya. Bila ingin menemukan berbagai sambal yang berbeda, cukup buka layar dunia maya dan temukan sambal-sambal ini di Facebook, Twitter, Instagram, atau di laman forum dunia maya.

Salah satu sambal yang populer di dunia maya adalah Sambal Roa Judes yang berarti ?juara pedas?. Sambal ini dibuat dari bahan utama ikan roa yang telah dikeringkan, kemudian dipanggang secara asap. Ikan lalu dihaluskan dengan cabai rawit dan dicampur bumbu yang ditumis terlebih dulu. Rasanya yang pedas dan gurih membuatnya sedap disantap dengan nasi putih hangat. Selain itu, Roa Judes juga bisa digunakan sebagai bumbu nasi goreng, pengganti selai untuk roti, campuran mi instan, atau sebagai cocolan gorengan.


Saat ini penjualan Sambal Roa Judes per bulan bisa mencapai sekitar 5000 botol. Awalnya, Rima Adiwijoyo, pemilik usaha Sambal Roa Judes, meracik sambal roa untuk dimakan sendiri. Di Jakarta, ia sering kesulitan menemukan sambal roa yang sesuai selera. Dari ikan roa seberat satu kilogram yang dititipnya lewat seorang teman di Manado, Rima berhasil memuat beberapa botol sambal roa.

Singkat cerita, dari iseng menawarkan sambalnya ke teman-teman, kini Rima berhenti dari pekerjaannya dan fokus mengurus bisnis sambalnya. Sambal roa disesuaikan dengan selera umum penikmat kuliner. Rasa perdasnya pun tergolong bisa di toleransi lidah. Perempuan jebolan kampus Interstudi ini sengaja tidak menghadirkan level kepedasan dalam sambalnya karena ingin memberikan rasa yang eksklusif.



Namun, Rima mengingatkan, ada perbedaan rasa sambalnya, terutama di musim kering. Biasanya, di bulan-bulan itu sambalnya akan jauh lebih pedas. Ini karena semua bahan yang digunakan berasal dari alam, hingga rasanya pun menyesuaikan kondisi alam.

Sambal lain yang dipasarkan di dunia maya adalah sambal Rendang Rawit. Dari namanya bisa ditebak sambal ini merupakan perpaduan antara bumbu rendang dengan cabai rawit. Menurut Ildo Reynardian Hasman, salah satu pemilik Rendang Rawit, ide membuat sambal rendang rawit karena keluarga Ildo yang orang Minang sering sekali memasak rendang. Modifikasi kemudian melahirkan sambal yang terinspirasi dari bumbu rendang.



Rendang Rawit merupakan sambal tabur berbumbu rendang yang bisa langsung dimakan. Karena sifatnya bumbu kering, Rendang Rawit cocok dicampur ke makanan apa saja. Ditabur di atas nasi, mi, atau sebagai penambah cita rasa makanan lain baru beberapa cara bersantap dengan Rendang Rawit.

Bahan-bahan yang digunakan alami dan tanpa bahan pengawet. Cara membuatnya, semua bumbu dihaluskan dengan diblender. Kemudian, dimasak dengan cara tradisional selama lima sampai enam jam per hari.



Kalau mendengar dari penilaian pelanggan, banyak yang bilang, kalau Ildo yang berkolaborasi pula dengan Astono Andoko dan Adrial Rachmando dalam membangun bisnis sambal Rendang Rawit ini, cukup sukses dalam memadukan rasa rendang yang khas dan rasa pedas dari cabai rawit menjadi satu produk baru yang orisinal. Semua pelanggan yang sudah membeli sambal Rendang Rawit ini sangat puas dan sering memesan lagi.


reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/02/berbisnis-sambal-di-dunia-maya.html
Read More