Tuesday, January 19, 2016

BACKYARD COFFEE, Coffe Shop Persembahan Maliq & D'Essentials




Suasana kedai kopi bernama Backyard Coffee terasa hangat bagaikan di rumah. Alhasil, para pengunjung betah berlama-lama ngopi atau nyemil di tempat ini. Selain menyesap kopi, menu apple pie pun selalu tandas karena digemari pengunjungnya. Ternyata, grup musik Maliq & D?essentials adalah pemilik kedai kopi yang berada di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan ini. Backyard Coffee berdiri ketika Maliq & D?essentials baru saja pindah kantor dan membeli sebuah bangunan berlantai 2. Di lantai 2 inilah, kantor manajemen dan studio Maliq & D?Essentials berada. Lalu, setelah melewati diskusi yang panjang, para personel Maliq & D?Essentials sepakat membuka coffee shop di lantai 1.





Ide untuk membuka coffee shop ini pertama kali diutarakan oleh Jawa, bassis Maliq & D?essentials, yang kebetulan memang seorang coffee addict (penikmat kopi). Selain itu pertimbangan yang lain juga agar tempat yang telah mereka miliki itu tidak kotor dengan memaksimalkan penggunaannya. Jadi, di lantai atas tetap digunakan menjadi kantor manajemen, dan di bawahnya bisa menjadi ajang bertemu dengan para penggemar mereka. Alasan pemilihan nama Backyard Coffee ini, karena mengacu pada sifat halaman belakang rumah yang selalu menjadi tempat yang nyaman bagi setiap orang. Jawa pun mengaku, ia kerap ngopi sambil duduk-duduk di halaman belakang rumahnya. Dan rasa nyaman itulah yang coba mereka bangun di tempat ini.





Meski lokasi Backyard Coffee bukan di pusat kota, namun mereka tetap percaya diri. Wilayah Bintaro memang cukup jauh dari mana-mana, tapi bisa dibilang pengunjung Backyard Coffee itu 50 persennya berasal dari kawasan Bintaro dan sisanya dari luar Bintaro. Backyard Coffee juga sengaja didesain berbeda dari kedai kopi lain. Mereka tidak mempunyai tempat yang mewah dan penyajian kopi yang istimewa. Tapi yang bisa mereka banggakan adalah, mereka membangun tempat ini agar music enviroment-nya terasa. Karena pemilik coffee shop ini adalah sekelompok musisi, jadi diusahakan sekali agar ada nuansa musiknya. Misalnya saja, meja bar dan lampu gantungnya yang menggunakan bahan kaset.




Kopi di Backyard Coffee terbilang spesial. Bahkan, ada beberapa menu kopi yang diracik sesuai resep buatan Jawa. Menu kopi bernama Shake Double Shot dibuat sendiri oleh pria bernama asli Dendy Soekarno ini bersama istrinya. Minuman ini diakui Jawa sangat ?ajaib?, karena penyuka kopi akan mengakui kopi ini enak, dan kalau yang tidak suka kopi akan tetap merasakan sweet-nya. Setiap menu di coffee shop ini dibanderol dengan harga mulai dari Rp 15 ? 30 ribu.


Backyard Coffee

Ruko Kebayoran Arcade blok C1 / 5,
JL. Bintaro Utama, Bintaro Jaya Sektor 7
(62-21) 74870765 ext. 100




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/07/backyard-coffee-coffe-shop-persembahan.html
Read More

ELIZABETH CHRISTIAN PARAMESWARI : Pemilik Blog LIZZIE PARRA, Profesional Makeup Artist.




Bagi Elizabeth Christian Parameswari, menjadi beautypreneurberkat kegemarannya aktif menjadi blogger tak pernah masuk dalam perhitungannya. Passion-lah yang menurut Ichil, panggilan akrab perempuan mungil ini, yang membawa kesuksesannya dikenal sebagai salah satu profesional makeup artist yang kini terus meroket. Rajin mem-posting portofolio dalam blog menjadi salah satu hobi perempuan kelahiran Jakarta 2 Februari 1987 ini. Kesenangannya berbagi foto dan review makeup di blog, menjadi informasi yang direspons positif oleh semua orang. Menurut Ichil, ia merasa seperti sedang menuliskan kesehariannya. Begitu melihat respons yang besar, ia pun tertantang untuk meningkatkan mutu tulisan. Ichil bahkan konsisten untuk terus memperbarui blog miliknya.

Menurut Ichil, sebelumnya ia adalah gadis yang tomboy. Baru sejak memasuki kuliah, ia mulai mencintai dunia fashion dan kecantikan. Lulus menjadi sarjana bisnis dari kampus Prasetiya Muya, Ichil sempat mencoba bekerja di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang fashion kecantikan. Dengan kemampuannya, Ichil bahkan pernah dipercaya memegang merek YSL untuk kecantikan. Namun, keinginannya yang besar untuk terjun di bidang kecantikan, membuat istri Efrat Agung Musidy ini pun, memutuskan keluar dari pekerjaannya. Ia ingin bisa terjun langsung di dunia kecantikan. Bukan hanya sebagai orang di belakang layar, tetapi juga sebagai orang yang berada di depan layar. Berbekal pengalaman manajemen selama 2 tahun bekerja, ia pun memutuskan untuk bisa mandiri sebagai makeup artist.



Tepatnya sejak Mei 2011, putri pasangan Robertus Harry Eddyarso dan Patricia Pujiwati ini, resmi mengundurkan diri dan mempersiapkan websitedengan brand Lizzie Parra, yang gencar berpromosi. Nama tersebut ia ambil berasal dari dua nama depan dan belakangnya. Selain merasa nama Lizzie Parra lebih catchy untuk digunakan, dalam website-nya Ichil juga menentukan warna yang identik dengan kepribadiannya yaitu pink muda dan putih. Akhirnya, Ichil pun resmi memulai kariernya sebagai profesional makeup artist. Benar saja, dalam sekejap ia dibanjiri berbagai proyek kecantikan. Mulai dari media kecantikan, iklan, makeupuntuk perkawinan, sampai makeup artist. Blognya, Make Up Artist by Lizzie Parra juga laris dikunjungi. Ichil bahkan semakin dikenal sebagai salah satu blogger perempuan Indonesia yang berpengaruh karena mampu menginspirasi banyak perempuan.



Berjuang membangun bisnis tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ichil mengakui, ia mengalami jatuh bangun juga dalam membangun usahanya, apalagi di tiga bulan pertama. Perjuangannya juga tentu berat. Yang ia lakukan saat itu, hanyalah dengan membuat banyak portofolio dan terus menjalin relasi. Sampai akhirnya keinginan Ichil pun tercapai. Kini beberapa selebritas papan atas pun telah mempercayainya sebagai makeup artistandalan. Dan Ichil merasakan perkembangan usahanya sekarang sangat positif. Sampai saat ini pun ia masih terus menekuni bidang makeup dan blogging. Namun, tidak menutup kemungkinan ke depannya ia akan membuat produk dengan namanya sendiri. Perempuan yang juga hobi menonton film ini pun akan terus mengembangkan bloggingnya agar lebih sering berada di rumah bersama keluarga. Dan yang paling penting adalah, ia melakukan itu semua sesuai dengan passion-nya.

CONTACT

For inquiries and bookings :

info@lizzieparra.com
(62)815 771 0108




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2014/12/elizabeth-christian-parameswari-pemilik.html
Read More

MEITA ABIDIN. SE. AK : Pemilik SINOU KAFFEE HAUSEN & EATERY, Sudah Belajar Berbisnis Sejak Kecil




Sulung dari dua bersaudara pasangan Toha Abidin, M.Sc dan Henny Hayatie SE ini sejak kecil sudah berwiraswasta di bidang makanan. Mungkin karena berdarah Pekalongan, jadi jiwa dagangnya pun tinggi. Saat duduk di bangku SD ia sudah menjual bubur ayam di kantin sekolah. Namun, karena belum bisa membuat bubur sendiri, ia membeli bubur sepanci dari orang lain. Modalnya ia dapat dari orangtua. Meita mengaku, saat itu untungnya cukup lumayan. Setiap hari sekolah ia membuka dagangannya, dan yang menjualkan orang lain yang telah dipercaya. Kalau hari Minggu, Meita memindahkan dagangannya di daerah Senayan. Sayangnya, karena masih terlalu kecil, usaha dagang bubur ayam itu tidak berlangsung lama.

Karena suka memasak, tahun 2010 Meita memutuskan membuka sebuah restoran yang ia beri nama Sinou Kaffe Hausen and Eatery. Sinou itu merupakan nama panggilannya di rumah, layaknya panggilan seperti ?teteh? di keluarga Sunda atau ?butet? di keluarga Batak. Lokasi Sinou awalnya merupakan rumah keluarga Meita, yang kemudian ia ubah menjadi tempat makan. Konsepnya seperti sebuah gudang, industrialist dan rustic. Meita memikirkan konsep itu tidak lama, hanya pengerjaan dekorasinya saja yang memakan waktu lama. Agak susah mencari bahan untuk dekorasinya karena ketika itu desain yang digagasnya belum umum di Jakarta, bahkan mungkin bisa dibilang Sinou sebagai pionir. Kebetulan Meita sendiri juga hobi traveling, jadi ia bisa mendapat bahan untuk dekorasi restorannya dari sana-sini.


Total, ia membutuhkan waktu sekitar tiga bulan sejak membuat konsep hingga membuka restorannya. Semuanya ia kerjakan sendiri, mulai dari membeli bahan bangunan, menjadi mandor, mendesain interior, menjadi chefuntuk menyiapkan menu, sampai belanja kebutuhan dapur di pasar induk karena dulu memang belum ada penyedia bahan-bahannya. Ketika buka pertama kali, ia menyasar pelanggan B plus karena posisi dan lokasi Sinou di kawasan Panglima Polim, Jakarta selatan, merupakan kawasan elite. Tetapi semakin lama, pelanggan datang dari berbagai kalangan, mulai anak sekolah sampai keluarga. Para pelanggan inilah yang kemudian turut membantu mempromosikan Sinou dari mulut ke mulut. Bahkan pernah, tempatnya ini beberapa kali dijadikan lokasi syuting berbagai program televisi.

Tak jarang pula ada pelanggan yang datang untuk melakukan pemotretan buku tahunan sekolah sampai prewedding. Meita bersyukur, ketika dibuka restorannya langsung mendapat banyak tanggapan positif sehingga banyak pelanggan yang harus masuk daftar waiting list. Banyak cerita seru yang terjadi di restorannya, termasuk salah satunya tempatnya ini pernah dipakai selebritis Desta untuk melamar istrinya. Enam bulan setelah membuka Sinou Kaffe Hausen and Eatery, Meita memutuskan membuka satu lagi restoran steak dengan nama Sinou Steak. Ia mengakui, restoran steak ini memang terinspirasi dari sebuah restoran steak di Jakarta. Ketika itu ia melihat momentumnya bertepatan dengan maraknya daging wagyu.


Menurut Meita, ketika memutuskan membuka usaha, sesorang harus membulatkan tekadnya dulu, dan harus berani. Setelah itu harus tahu apa yang ingin dilakukan dan percaya diri memulainya. Tidak usah terlalu banyak yang dipikirkan, karena bila begitu rencana usaha yang ingin dilakukan tidak segera berjalan. Untuk modal, juga harus berani ambil risiko dan ada yang dikorbankan. Meita bercerita, ketika membuka Sinou, di luar bangunan, ia membutuhkan modal sekitar Rp 500 juta. Yang paling mahal adalah untuk membeli segala perlengkapan dapur. Bahkan untuk kompor saja, ia harus menghabiskan Rp 20 juta, belum termasuk exhaust dan lain-lain. Karena itulah, Meita mengaku sampai tidak bisa pergi ke mal selama satu tahun. Meita sendiri tidak memiliki latar belakang F & B. Usaha restorannya ini merupakan bisnis seriusnya yang pertama. Semuanya ia pelajari sendiri, tidak memakai konsultan. Jadi istilahnya bukan learning by doingtapi doing by learning. Ia terjun dulu ke dalamnya, baru belajar.

Berbagai kendala pun dihadapi Meita. Yang biasa muncul adalah masalah SDM. Karena sebelumnya tidak pernah memiliki karyawan, maka ia harus tahu sendiri bagaimana cara mengelola dan ?memelihara? mereka. Selain itu ia juga harus memikirkan banyak hal lain, termasuk jenis musik apa yang cocok diputar sehingga pelanggan senang. Untuk memuaskan pelanggan, Meita pun terbiasa membuat survei, jadi ia bisa tahu mana menu yang harus dipertahankan dan yang tidak. Setiap ada hambatan atau masalah, harus segera ia selesaikan, jangan ditunda-tunda. Karena semakin ditunda akan semakin susah mencari jalan keluarnya. Selain itu ia juga harus bersikap tegas. Karena dirinya perempuan, kadang ada yang masih suka menyepelekannya. Namun Meita berusaha tidak peduli, karena menurutnya kalau kita terus memikirkan apa pendapat orang tentang kita, maka kita tidak akan cepat maju.


Saat ini, Meita dibantu beberapa orang staf marketing, termasuk untuk urusan website dan media sosial. Baginya, saat ini media sosial itu memang sangat penting dan ia juga harus mengikuti tren yang sedang berkembang saat ini. Meita, yang juga memiliki profesi dan usaha lain mulai dari akuntan, travel, dan hotel ini, mengatakan bahwa mengurus bisnis kulinernya seperti menjalankan hobi. Ia tidak pernah bosan, karena memang menyukai apa yang ia kerjakan di sini. Meski pernah dibuat stres, tapi tidak sampai membuatnya frustasi. Untuk menenangkan pikiran, Meita pun berusaha tetap bisa menikmati hidupnya dengan berkumpul bersama keluarga atau teman. Selain itu ia juga menyeimbangkan hidupnya dengan berolahraga dan berbagi kepada anak-anak yatim piatu.

Meita percaya, ucapan adalah doa. Ia pernah berkata ingin memiliki hidup yang berguna bagi orang lain. Dan ternyata kini ia bisa membuat lapangan pekerjaan bagi orang lain. Karena menurut Meita hidup itu intinya adalah saling berbagi, karena kita hidup tidak sendiri. Bila bisa membantu banyak orang, maka hidup pun akan lebih berarti. Untuk memajukan usahanya, Meita pun berencana memperdalam ilmu memasak di Le Cordon Bleu di Paris, Prancis.



SINOU KAFFEE HAUSEN & EATERY
Jl. Panglima Polim V No. 26, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12160, Indonesia

Phone:+62 21 7258568




reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/06/meita-abidin-se-ak-pemilik-sinou-kaffee.html
Read More

SELEBRITI & BISNIS : Hedi Yunus, Giat Berjualan Busana Batik Di Media Sosial




Meski kegiatannya masih dipadati jadwal menyanyi secara off air, rupanya produktivitas Hedi Yunus tak terhenti di satu bidang. Penyanyi kelahiran 24 Agustus 1968 ini bahkan tengah membagi fokusnya di lahan bisnis online shop. Menurut salah satu pentolan grup musik Kahitna ini, sebetulnya ia hanya berusaha menangkap peluang yang ada lantaran banyak orang yang tertarik dengan kostumnya saat sedang menyanyi.

Awalnya, ia sekedar iseng meng-upload foto baju yang dipakainya di akun media sosial pribadi. Ternyata dari sana banyak respons bagus yang datang dan ingin memesan. Dari sinilah Hedi berpikir, ini bisa dijadikan peluang usaha. Apalagi ia memang menyukai batik dan punya penjahit sendiri. Jadi, kenapa tidak sekalian dimanfaatkan untuk berbisnis? Soal modelnya memang berdasarkan selera pribadi, tapi untungnya penjahit yang dimilikinya sudah mengerti dan hasilnya pun selalu bagus.

Kini Hedi sudah mulai mempromosikan brandmiliknya di media sosial. Ia memang memilih berjualan di Instagram saja. Yang banyak dicari konsumen adalah kemeja batik untuk laki-laki, tapi Hedi juga menyiapkan sweater dan kaus agar jualannya semakin komplit. Hedi pun menjanjikan produknya tersebut bisa dimiliki semua kalangan.

Uniknya, demi mendapatkan batik motif tertentu Hedi mengaku tak perlu capek-capek pergi berburu ke kota yang dikenal sebagai penghasil batik, seperti Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan. Ia cukup memaksimalkan media sosial yang menjual kain batik, dengan tetap melakukan seleksi secara serius. Kebetulan, penjual batik yang ia dapatkan memang memiliki koleksi motif yang bagus-bagus, dan itu ada di seputaran Jakarta.










reff : http://indonesiaenterpreneur.blogspot.com/2015/09/selebriti-bisnis-hedi-yunus-giat.html
Read More